Melebar
Uneg-uneg.
Tadinya saya ingin memberi judul uneg-uneg ini salah satu dari antara, terfokus, atau serempak, atau mengerucut atau terukur atau convergence. Namun, saat tuts-tuts keyboard laptopku beradu dengan jari-jariku, tiba-tiba pikiranku dipenuhi suara berita radio dan tv, lalu berganti dengan cepat, pada situasi jalan-jalan Jakarta yang selalu kulewati dalam perjalanan pergi-pulang ke dan dari kantor.
Pikiranku terbang mengawang, melompat dari satu topik ketopik lain, membayangkan apa gerangan kejadian sebenarnya, yang ada dan terpatri di dalam pikiran, anggota tim PANSUS, menkeu Ibu Sri Mulyani dan wakil presiden Bapak Boediono. Pikiranku membayangkan apa gerangan yang ada di dalam pikiran para gelandangan, pengemis, penjual koran, penjual rokok, supir, pengemudi motor dan pak polisi yang mengatur lalu lintas.
Apa gerangan yang ada di dalam pikiran anggota fraksi Partai Demokrat, PDIP, GOLKAR dan partai lainnya. Apa gerangan yang ada di dalam pikiran para pengusaha kaya dan industriwan yang sedih menunjukkan wajahnya, seolah berusaha menjadi pahlawan para buruh yang digaji kecil, hanya gara-gara perdagangan bebas sudah dimulai. Apa gerangan yang ada di dalam pikiran para demonstran, petani dan para guru. Apa gerangan yang ada di dalam pikiran para pakar, yang suka menghakimi dan menonjolkan diri, lalu disela wartawan tv yang mengatakan “jangan kemana-mana”, maka muncullah iklan yang durasinya lumayan lama.
Gila!…tiba-tiba saya masuk ke dalam diri mereka!, lalu otakku mencoba membaca apa yang tertulis dalam pikiran mereka. Hmm…saya menikmatinya, meski saya tahu pasti, apa yang kubaca tidak betul, banyak huruf dan karakter yang tidak kukenal, sehingga juga pasti tidak berguna untukku, selain dari salah satu alat testing untuk otakku bahwa ternyata saya tidak gila…Maka karena pikiranku itu selalu melompat dari satu topik ke topik lain maka kuberi judul uneg-uneg ini “Melebar”, dan hasilnya kira-kira samadengandivergence dalam istilah matematika, tidak terukur atau tidak mempunyai arti fisis, pokoknya tidak ada kesimpulan, dan tidak dapat digunakan. Karena ketika kubaca yang tertulis di dalam pikiran mereka, ternyata melebar atau tidak terfokus. Jelaslah, saya salah baca.
______________________________________
dari Bisik-bisik: Berusaha berpikir dari sisi mereka.
Sombong
Pelayan restoran hotel bintang lima itu, menggeleng-gelengkan kepala, sambil membersihkan meja makan yang baru ditinggalkan oleh keluarga itu. Mereka pasti orang berada, atau setidaknya diantara mereka ada pejabat tinggi, menginap di hotel sekelas itu. Sementara itu, di tempat lain nun jauh di sana, seorang pelayan toko terbelalak matanya, ketika seseorang mengeluarkan koceknya, untuk Louis Vuitton, lengkap dari yang terkecil alias dompet, tas jinjing sampai koper, disusun tingginya lebih dari satu meter.
Tak percuma iblis sang wartawan ganteng berwibawa dan pintar, suka kepada anak muda pengacara yang baru memenangkan perkara, dipuji dan diangkat setinggi-tingginya, lalu janji bertemu untuk wawancara. “Sombong, dosa yang paling saya sukai” gumamnya. adegan terakhir dari The Devil’s Advocate.
Sukses, hebat, punya jabatan bahkan kekuasaan, sering diburu orang dengan kerja keras, siang malam tak henti, dengan penuh rendah hati, dengan penuh hormat kepada sesama dan lingkungan sosial. Lalu terjerumus setelah mencapainya. Merasa lebih pintar, merasa lebih tahu, merasa lebih benar dan merasa lebih tinggi dari yang lain.
Tiap hari kita disuguhi oleh media massa, bermacam-macam adu argumentasi, mereka menunjukkan kehebatan dan kepintarannya. Memalukan!, saling serobot, bahkan mereka sering tidak mendengar dan memperhatikan lawan bicaranya, “hmmm..mereka adalah para pakar dan orang pintar. Apa yang mereka cari?!”.
Mereka ingin mempengaruhi pemirsakah?, mereka mempengaruhi penegak hukum kah?, atau mungkin karena mereka tahu bahwa publik atau pemirsa, banyak yang suka pada argumen, meski untuk sebuah argumen omong-kosong, yang belum jelas kebenarannya.
Memalukan!, kalau kebenaran dan keadilan diukur dari hasil adu argumen, metamorfosis atau berubah menjadi teriakan, menjadi umbul-umbul, menjadi pawai yang memacetkan lalu-lintas. Membuat para pemilik toko was-was yang barangkali berdoa “Tuhan semoga berjalan damai”. Setelah itu terdengar pengumuman di seantero jagat “demi kepentingan umum…”. maka buah salah satu dari antara banyak pohon kesombongan, dipertontonkan dan diperdengarkan.
Manusia sering menipu dirinya sendiri, karena buah pohon kesombongan tiba-tiba muncul dari dirinya tanpa disadari, termasuk saya sendiri, dan iblispun tersenyum “hmm…saya suka mereka”. Seperti Adam dan Hawa nenek moyang manusia, terjerumus pujian, ingin setara dengan Tuhan.
Sombong pohon kehancuran pribadi maupun negeri. Semoga kita tidak kalah atasnya, ia tumbuh, ia berada dalam tubuh dan pikiran kita, ia berbuah oleh pupuk yang sangat sedikit dan kecil, yaitu pujian, dan merasa lebih…cantik, pintar, tinggi, kaya dan hebat.
-
Selamat Hari Natal, 25 Desember 2009
- dan
- Selamat Tahun Baru, 1 Januari 2010
-
bagi yang merayakannya
______________________________________
dari Bisik-bisik: Dalam diri kita memang tumbuh pohon kesombongan!.
Suka-suka
Suka-suka bisa jadi kata majemuk satu-satunya yang digunakan atas tindakan atau perilaku seseorang yang sulit dijelaskan, karena cenderung personal dan subjektif, meski maksudnya baik tetapi dapat menimbulkan polemik.
Suatu saat, saya dengan seorang teman dipanggil pimpinan, membicarakan penilaian kinerja tahunan, “kalian saya nilai seperti ini, apa pendapat kalian” katanya sambil menunjukkan formulir penilaian. Teman saya itu bilang “suka-suka bapaklah, kan bapak sudah menilainya”.
Ketika BUMN dibentuk, maka istilah fit and proper test menjadi populer, bagi saya istilah ini adalah ganti kata suka-suka. Sedemikian terkenalnya, untuk memilih pimpinan yang terendahpun, istilah ini pasti dipakai, sekaligus menjadi perlindungan bagi pimpinan yang suka-suka, membuat banyak orang kecewa dan hilang motivasi. Mengapa?. Konon, suka-suka semacam ini tidak mungkin terjadi di perusahaan swasta.
Bapak presiden meminta agar kasus cicak-buaya tidak diteruskan ke pengadilan, demi kepentingan umum, meski kepolisian dan kejaksaan menyatakan cukup bukti, saya tidak tahu umum itu siapa?, mungkinkah karena sejuta facebookers, atau sebagian kecil masyarakat yang teriak-teriak (keras) di jalanan dan media masa yang makin senang memberitakannya?!, dalam hatiku, “kasihan Bibit-Chandra”, sebab kebenarannya tak pernah terbukti. Namun hati saya mengatakan “ini kan suka-suka”.
Menurutku facebookers, tukang teriak jalanan dan media masa yang berbondong-bondong untuk membela Bibit-Chandra, tidak ada bagi nenek tua Ny. Minah, yang dihukum karena mencuri tiga buah kakao, meski kakao itu tidak pernah beliau sembunyikan. Suka-suka orang untuk tidak berbuat atau membela.
Maksud baik pimpinan baru (kantor pemerintah, BUMN) menjelaskan rencana kerja yang akan dilaksanakan pada masa-masa berikut, menghasilkan pikiran rasa positif, negatif dan hambar atau apatis, juga suka-suka pegawai berpikiran begitu, terutama bila pimpinan itu bukan dari pegawai karir.
Saya mau mengritik diri sendiri, karena suka menyatakan kebenaran menurut pikiran saya sendiri. Ketika memberikan nasehat alias perintah kepada anak saya. “Bapak selalu turut pada perintah nenek-kakekmu, maka kalian pun harus turut, agar maju dan dapat berkat Tuhan” perintahku. “Itukan suka-suka bapak, ngomong” jawab mereka. Lalu bisa menimbulkan perdebatan yang lebih seru, menjadi tidak jelas juntrungannya, hanya karena berbeda sisi pandang ala demokrasi rumah tangga, maklum mereka sudah besar dan dewasa. Terbukti, jaman dulu dan sekarang sulit betemu, meski itu hasil transformasi situasi dan waktu. Pandangan anak-anak bahwa saya suka-suka, karena saya penguasa di rumah.
“Suka-suka” menular kepada supir angkutan kota, pedagang kaki lima, pak Ogah, meski mereka berjuang untuk hidup, tetapi sering mengganggu kenyamanan. Suatu saat, petugas polisi dan kamtib PEMDA, akan menertibkannya, dengan suka-suka.
Petugas pelayanan masyarakat, terminal, stasiun kereta api, bandara, juga suka-suka dengan tatapan dingin kepada orang, yang sedang antri di depan banyak pintu tetapi hanya satu yang terbuka.
Dengan demikian “suka-suka” dapat kita sebut milik penguasa, atau setidaknya yang bisa berkuasa.
Karena suatu saat saya merasa penguasa, maka saya ajak semua orang harus tersenyum, kalau murung wajib traktir bagi semua orang, karena “Murung adalah milik orang kaya”. Sehingga, ada-ada saja yang tiba-tiba miskin, karena harus tersenyum. “Senyuman adalah milik orang miskin” kataku, ini juga kategori suka-suka.
Teman saya bilang, senyuman yang paling mahal di dunia ada di Hongkong dan Taiwan, sedemikian mahalnya maka pimpinan kantor pelayanan publik, dengan suka-suka, meletakkan cermin kecil di depan pegawainya, sehingga kalau orang atau tamu datang, dia akan melihat mukanya lebih dulu, terpaksa dia tersenyum, tamu itu pun ikut tersenyum, padahal si pegawai tersenyum kepada bayangannya sendiri, terbukti senyum adalah penyakit yang paling cepat menular, salah satu penyakit menular yang menyehatkan.
_______________________________________________
dari Bisik-bisik: Tulisan ini kumulai dengan suka-suka lalu kututup dengan suka-suka.
Dialog Diri, “Provokatif”
Pagi itu, dia menuliskan dalam bulatan merah “provokatif…tidak mendidik..merusak karakter bangsa..” pada surat kabar langganannya. Sambil menghirup dan meludeskan sisa kopinya yang masih hangat, “Maaa!..saya berangkat.. buru-buru..”, teriaknya, sambil menyambar tas kerjanya, lalu menghilang tanpa menunggu sang istri tercinta yang biasanya mengantar sampai ke pintu, sedang sibuk di dapur.
Pagi itu menjadi kurang bersahabat bagi karakternya. “Gue..kesel banget baca koran, melihat televisi dan mendengar radio, coba lihat…” dia menunjukkan tulisan di notes kepada temannya, “Ini mau kukirim ke redaksi seluruh koran dan semoga mereka mau memuatnya..”.
“Ahhh… kau ini, kapan kau berubah! meledak-ledak terus. Namun aku tau. itu buah semangatmu, itu buah kebaikan karaktermu….hahaha..kirim!, kudukung..kalau mereka tidak memuatnya..ini..” sahut temannya, sambil mengacungkan tinjunya.
Dia tau, teman baiknya rendah hati, namun lebih meledak-ledak lagi, dibandingkan dengan dia. Ya!, temannya bertukar pikiran, temannya saling mengingatkan, temannya saling tolong menolong.
“Mass media menanam berita, memupuk dan memeliharanya, dipetik, lalu dijual setelah dikemas dengan bungkusan yang menarik. Mereka tidak peduli….yang penting laku”. Dia bergumam sendiri, terlintas dibenaknya kejadian tadi pagi dan merasa bersalah kepada istrinya, “betapa gobloknya saya..saya juga ternyata larut pada berita-berita itu..gilaa…gue bodoh benaran”.
Orang pintar, akhli dan para pakar tampaknya senang diwawancarai wartawan, memberi pendapat, atas berita, atas kasus yang masih dicari kebenarannya secara hukum, dipertontonkan kadang interaktif dengan penonton atau pakar lainnya, lalu iklan. “mana berita bagusnya?!, mana pendidikannya?!, Oooo..bangsaku semoga makin bijak memilih hal yang baik, kebenaran bukan suara terbanyak, bukan dugaan”.
_________________________________
dari Bisik-bisik: Semoga mass media menjadi ujung tombak bagi pendidikan bangsa negeri tercinta.
Chris Jhon, Mengumandangkan Indonesia Raya
-
Pengantar: Tulisan ini titipan dari temanku, yang nasionalismenya luar biasa tinggi, dadanya selalu membara bila mendengar prestasi anak negeri tercinta berada di puncak. Saat-saat begini, kakinya seolah melayang diatas tanah kalau sedang berjalan, sambil membayangkan kemenangan atau prestasi itu, saking bangganya, dunia ini hanya Indonesia, itu saja dalam pikirannya. Mari kita beri Semangat.
Nb. Entah apa yang terjadi saat bersamaan, kebetulan tulisan negatif di halaman olah raga blog ini, sedang kucoret dan kuganti dengan tulisan positif, eeehh..titipan temanku ini tiba pula
2009 September 20
tags: Chris Jhon, Rocky Soarez
by latteung
CHRIS JHON BERHASIL MEMPERTAHANKAN GELARNYA, MENANG ANGKA MELAWAN ROCKY SOAREZ…
Semut kecil itu kembali membuat Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Sudah lama saya nantikan lagu Indonesia Raya ini berkumandang lagi di negeri orang . Apalagi di negeri orang , yang paling tidak disukai oleh banyak orang Indonesia, Amerika Serikat. Puluhan ribu orang ikut menyaksikan bendera Merah Putih ini dikibarkan oleh sang semut jantan yang kalau bertempur bagaikan singa lapar menerkam mangsanya. Bulu kudukku berdiri dan air mataku hampir meleleh membasahi pipiku di pagi nan ceria ini.
Kado spesial dihari Lebaran umat Islam ini telah diberikan. Bertepatan pada hari ini, hari nan fitri bagi umat Islam, dia memenangkan pertarunganya. Seperti biasanya, sang semut perkasa selalu lebih dahulu mengucapkan terimakasih pada sang penciptanya atas berkat dan rido_Nya, sehingga dia berhasil memetik kemenangan, hasil dari pada latihan dan kerja kerasnya.
Dia telah mengalahkan Amerika dengan caranya sendiri, dengan pukulan dan jab kanan-kirinya. Dia membungkam semua penonton yang sebagian besara adalah orang Amerika. Sang semut gagah perkasa ini menunjuukkan kepada masyarakat Indonesia kalau cara terbaik mengalahkan Amerika adalah dengan Prestasi. Bukan dengan BOM!!.BOM dan BOM!!!!……
Dengan bom-bom yang meledak di Indonesia, yang merenggut tak sedikit nyawa, nyawa bangsa sendiri, belum terhitung kerugian materi, maka bangsa ini dicibir sebagai negara asalnya teroris!. Kita merusak citra sendiri, memberikan kesan kalau negara ini tak aman lagi. Sang semut membuktikan kalau di Indonesia ada semut tangguh nan gagah perkasa yang berani dan bisa menang bertarung di kandang lawan. Dengan prestasi yang langka, sang semut gagah ini bisa membuka cakrawala dan pandangan orang Amerika, kalau jauh di daerah kathulistiwa ini, seorang anak negeri asli bisa mempermalukan mereka, dirumah mereka sendiri.
Salut dan Salut,…
Bertahun prestasi Indonesia di ajang internasional semakin terpuruk. Tak ada yang peduli, tak ada yang melihat. Nun jauh dilubuk hati segelintir semut-semut berhati mulia, mencoba memberikan yang terbaik. Lihatlah prestasi semut-semut ini diajang lomba Ilmu Pengetahuan tingkat dunia. Semua mengharumkan dan membawa nama Indonesia semakin dikenal orang. Dimana mereka bertanding disitu lagu kebangsaan kita di kumandangkan.
Tim-Olimpiade Fisika, Prof. Yohanes Surya, seorang dari semut-semut kecil di negeri ini. Hanya salah satu contoh kecil!
Lihatlah gajah-gajah tolol dan dungu ini. Seenaknya menginjak-injak mahluk lain, mengatasnamakan kebenaran, surga dan keyakinan. Gajah-gajah ini tidak bisa memberikan kenyamanan pada semut-semut di sampingnya, malah menginjaknya tanpa perasaan. Sampai kapan kita ini akan seperti ini?. Sampai kapan negara ini sibuk mengurusi perut dan kepentingan kelompoknya sendiri.
Bangsa lain sudah berlari, tapi kita masih berdiskusi bagaimana cara berlari. Bangsa lain sudah maju di depan, tapi kita masih berkutat dan berngoto-ria, kalau berlari itu harus begini dan begitu. Kita terlalu sibuk mengurusi hal yang tak bersentuhan langusung dengan kesejahteraan negeri ini. Lihatlah bencana, Semua yang terjadi, lihatlah prestasi yang semakin merosot ini. Sampai kapan?.
Setelah semut ini semakin tua, adakah semut lain akan tampil sebagai penggantinya?. Saya yakin ada, karena berkat Tuhan selalu datang pada orang yang mau memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Semut-semut ini adalah pilihan Tuhan untuk menjadi contoh dan untuk membuktikan eksistensinya golongan semut yang kian hari makin dipinggirkan di negeri ini. Semut ini juga di urapi menjadi garam dan terang di bumi Indonesia ini. Majulah semut perkasa. Walau minoritas, tapi kita bisa memberikan warna yang indah di nusantara ini. Selamat Atas kemenanganmu Chris Jhon. Doa kami para semut yang terinjak gajah-gajah, menyertaimu. Kumandangkanlah Lagu Indonesia Raya dimanapun kamu berada. Selamat Chris Jhon, Selamat….Tuhan menyertaimu!
____________________________________
dari Bisik-bisik: Majulah Indonesia, Hidup Indonesia!
Mudik
“Maapin ya… maapin… gw banyak salah” dia berjalan dari satu meja kemeja lainnya, dengan muka lugu, dia memang lugu!, merapatkan tangannya, menyodorkan silaturahim kepada teman-temannya, “gw mo mudik nih..maapin..ya!” katanya.
Pagi itu, suasana kantor sudah terasa sangat rileks, hari kerja terakhir menyongsong libur hari raya Idul Fitri. Sebagian karyawan mengobrol sambil tertawa-tawa, kita tidak tahu entah apa yang ditertawakan, sebagian lagi membicarakan berbagai macam kejadian, yang datang berbarengan. KPK saling tuduh dengan POLRI, Noordin M Top tewas bersama beberapa temannya, jalur mudik mulai macet, sampai pada pekerjaan diselesaikan setelah hari raya saja, dan sebagainya.
“Maapin kita juga, hati hati di jalan, selamat sampai di kampung, selamat kembali di Jakarta” semua orang menyambutnya dengan silaturahim sepenuh hati.
Bagi semua yang merayakannya, saya mengucapkan:
- Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1430 H
-
Mohon Maaf Lahir dan Batin
_______________________________________
dari Bisik-bisik: Maaf Lahir dan Batin.
Titipan Polling
Pengantar: Berikut ini titipan polling dari sdr Bernardia Vitri tentang nilai-nilai kepahlawanan.
Peran serta para blogers dalam polling ini sangat berharga.
titip link polling ya..
Menurut anda, apakah nilai-nilai kepahlawanan yang ada semakin tergerus?
(polls)
Pesohor di Negeri ini dan ke-Indonesiaan
Pengantar
Kegalauan hati seseorang, kadang seperti sungai dimusim hujan, deras kekuningan beriak keputihan membentur batu dan menghanyutkan apa saja, menumpahkannya bahkan menenggelamkanya.
Tulisan di bawah ini dikirim oleh teman saya. Semoga arus kegalauannya (menurutku) berguna bagi pembaca. Semua kata dan kalimat dan paragraf sesuai aslinya.
Agustus 17, 2009 oleh latteung
Masih segar diingatan saya, ( mungkin rekan yang lain juga tahu ) bahwa seorang penyanyi tersohor di negeri ini di protes dan disomasi oleh banyak orang. Sebut saja namanya RF, dimana pesohor ini didaulat membawakan lagu Kebangsaan Indonesia Raya di forum resmi, sebuah kampanye partai politik. Sadar atau tidak sadar, tahu atau tidak tahu bahwa si pesohor yang jago bernyanyi ini meng-inprove lagu kebangsaan ini. entah mungkin tujuannya supaya enak didengar, maka begitu dinyanyikan dengan versinya, dengan cepat di protes banyak pihak.
Mungkin dia tidak tau, bahwa satu-satunya lagu yang tidak boleh diubah-ubah, di arrange ulang, adalah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Lagu yang merupakan roh bangsa ini. Seharusnya generasi muda tau kalau berjuta rakyat, pejuang telah gugur hanya untuk memperjuangkan supaya lagu ciptaan W. G. Supratman ini bisa berkumandang dari Sabang sampai Merauke, tanpa rasa takut.
Hari ini tepatnya tanggal 17 Agustus 2009. Enam puluh empat tahun Negara tercinta ini mengenyam yang namanya kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain. Dimana-mana, diadakan pesta dengan cara yang berbeda-beda pula. Dari kecil hingga jompo, semua bersukaria merayakan hari jadi republik ini.
Tak ketinggalan semua stasiun televisi, mengambil tema merah-putih selama dua hari ini. Satu hal yang sangat miris, kembali ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Host dan pembawa acara di televisi tersebut, yang juga pesohor di negeri ini memperlakukan bendera MERAH PUTIH sebagai satu kain biasa saja.
Memang, hanya selembar kain putih dan kain merah yang disatukan, dijahit menjadi satu kesatuan. Tapi, begitu dijahit menjadi mera-putih, maka dia bukan lagi hanya sebagai kain BELACU. Dia sudah menjadi bendera Negara ini. Beribu pejuang gugur, hanya untuk menancapkan bendera ini di seluruh tanah air ini. Tak peduli, desingan peluru yang senantiasa menjadi pengantar ajalnya, yang paling penting, Merah Putih tidak boleh jatuh ke tanah dan tetap harus berkibar di udara.
Sungguh, bertolak belakang dengan tontonan ini. Bendera kebangsaan RI ini diperlakukan seperti kain pel, dililitkan seenak udelnya kebadannya, di remas-remas dan dibuat sebagai bahan perolok-olokan. Dimana mental dan moral sebagai generasi muda bangsa ini??.
Hal yang paling memuakkan, ketika para pesohor di negeri ini di wawancarai tentang lagu-lagu perjuangan dan lagu-lagu heroik lainya maka dengan sangat bangganya berucap, gak tau tuh…dah lupa ..gimana sih lagunya. Sungguh menjijikkan!!
Hal senada, ketika saya mengikuti berbagai perlombaan dalam merayakan dirgahayu ini, maka tak ada satupun yang menurutku berhubungan langsung dengan perjuangan para pahlawan. Sebut saja, ketika diadakan lomba nyanyi dan karaoke, maka lagu-lau yang dipilihkan semuanya lagu-lagu anak muda jaman sekarang. Para peserta yang terdiri dari anak-anak hingga dewasa, satu pun tak ada yang menyanyikan lagu perjuangan. Sungguh miris!.
Dan ketika kami sama-sama menyanyikan lagu-lagu perjuangan, maka anak-anak ini hanya cengar-cengir dan nyeletuk saja. Ini lah gambaran ke rasa kejuangan bangsa ini. Merdeka!!
(http://www.latteung.wordpress.com) diweb ini ada fotonya
Indonesiaku, Selamat Ulang Tahun!
Indah negeriku…., Indonesia tumpah darahku, bagai mawar harum semerbak mewangi, lebah semut datang pergi. Tambah cemerlang tambah berseri, dihari ulang tahun ke enampuluh empat, sering menahan sakit tak terperi, bangun dengan perkasa selalu hebat.
Selamat ulang tahun majulah Indonesiaku!
Tiga bulan yang melelahkan!. Kejadian beruntun, pilpres, bom dan mengejar teroris. Penuh dengan argumen, bak drama yang membosankan. Penonton gregetan, menyaksikan pemain bintang dan figuran menyelesaikan lakon yang hambar, jalan ceritanya menularkan berbagai rasa subjektif kepada penonton.
Drama dengan cerita yang tidak beralur, “hmmm…mungkin…! akan menorehkan sejarah…,” kata hatiku, “sejarah yang datang begitu saja, hasil pilpres, bom dan memburu teroris, debat…” Lalu, menghasilkan banyak uang hasil breaking news. Dicorongkan ke telinga dihadapkan ke muka.
Kita menikmatinya!, meski benak kita dipenuhi, false history gets made all day, any day, the truth of the new is never on the news. (Adrienne Rich), kita melahapnya tanpa menyadari space memory makin sempit, karena kepala berdenyut, pening, lalu kita menghapusnya, lalu mengisinya kembali, serasa Mark Twain sedang duduk disamping kita, sambil minum kopi, menyatakan, “If you don’t read the newspaper, you are uninformed; if you do read the newspaper, you are misinformed”.
Jika kami sedang asyik ngalor-ngidul, di kantor atau di warteg, maka tak percuma kata temanku, “semua itu sandiwara, hasilnya sudah ada…” memunculkan kata psikolog Gay Hendricks, penulis, akhli dalam pengembangan pribadi “Arguments are often like melodramas — they have a predictable beginning, middle, and end”.
Lalu?! terbayang, lakon sinetron suami istri, debat yang itu-itu saja, tidak berakhir, karena most couples have not had hundreds of arguments; they’ve had the same argument hundreds of times. (Gay Hendricks). Dan pada akhirnya kita menemui Alex Carey menyimpulkan “… the 20th century has been characterized by three developments of great political importance: The growth of democracy, the growth of corporate power, and the growth of corporate propaganda as a means of protecting corporate power against democracy.”
Menyatakan kebenaran memang sangat sulit kecuali menggunakan topeng, maka give a man a mask and he will speak the truth.
Majulah Indonesiaku, siapapun pemimpinnya, kami siap membantu sebisa kami, dengan kerja keras taat aturan, taat hukum taat undang-undang.
________________________________________________
Dari Bisik-bisik: Indonesiaku, Selamat Ulang Tahun!
Bom, Keadilan dan Kebenaran atau Keselamatan
“Eiiiii….. hahaha….”, suara dan tawa temanku yang satu ini, selalu memecah suasana kesunyian pagi di kantor kami. Dia memanggil salah seorang teman kongkownya. Celotehannya selalu membuat urat-urat halus pipi mengembang, sehingga darah mengalir dengan lancar, menghangatkan para wajah yang berubah menjadi ganteng dan menjadi cantik karena memperlihatkan senyum, meski ada-ada saja yang tetap cemberut.
“Lihat…” katanya, dia ngobrol keras-keras dengan teman itu. “loe sudah baca koran ga!”. Lalu dia nyorocos terus “Ada bom meledak, di hotel JW Mariot dan Ritz-Carlton. MU…Manchester United ga jadi datang!, Presiden mengaitkannya dengan pilpres!, gila…gila..gwe rugi niih”.
Dia beranalisis sendiri, dan menyatakan rugi, karena mungkin sudah membeli tiket buat nonton MU. Sementara temannya hanya menimpali sepatah sepatah kata. “Sungguh biadab!!, korbannya orang tak berdosa, tidak masuk akal. Kita rugi, negeri ini rugi.. rugi buesaaar….”, kita menjadi tegang mendengarnya, dan wajah-wajah ganteng dan cantik surut kembali ke aslinya, mereka memulai kesibukan masing-masing.
Teman ini masih saja meneruskannya “seharusnya presiden ga usah ikut manas-manasi suasana. masa dia menunjuk dirinya sendiri, sementara korban lagi kesakitan benaran. Malah pakai tunjuk foto segala, tunjukin orangnya dong, foto mah bisa dibuat dimana saja. Kita serasa orang bodoh, kita sih tidak pro siapa-siapa. Siapapun presiden pokoknya gwe ada kerjaan, itu saja”, kita diam saja, meski dalam hati betul juga dia.
Banyak komentar, banyak kesenangan atas kesakitan, dimana keadilan dan kebenaran? apakah negeri ini akan melupakannya? apakah saling tuduh, dan saling paling benar berlanjut?. Apalagi kalau para politikus dan orang pintarnya, saling silih berbicara di media masa terutama di acara tv. Dalam hatiku semoga mereka bukanlah orang yang mempunyai sifat dan karakter yang hebat “the fantastic liar” yang bisa mempengaruhi orang, tidak perduli keadilan dan kebenaran, yang penting dia berhasil, mencari keuntungan dan keselamatannya sendiri.
Kegalauan hati teman tadi dinyatakan dengan volume suara yang keras, bisa jadi gambaran kejengkelan dan kebosanan atas perang kata-kata politikus, yang cenderung tidak berguna pada kehidupan kita secara langsung, “mereka omong doang” katanya.
Seorang pendekar, bahkan orang tua kita, selalu menyembunyikan rasa sakitnya, melilit lukanya dengan rapat agar tidak diketahui murid dan anaknya apalagi musuhnya. Tak percaya? “Memang itu yang terjadi, ibu-ibu yang bijak selalu menyembunyikan rasa pedih dan sakitnya, agar anaknya tetap tenang dan damai dan merasa nyaman, belajar dan bersekolah…”, dalam hatinya “cukup saya yang menderita dan tidak perlu mereka tau..mereka harus bahagia…”
Mengenai bom?, pelakunya?. Kita percayakan kepada pihak berwajib, mereka akhlinya, maka mereka ditugaskan untuk itu, kita mendukungnya, kita memberi semangat dan doa. Semoga negeri kita aman.
____________________________________
dari Bisik-bisik: Semoga kita selamat!