Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Untung Saya Bukan Presiden

with 33 comments

Kalau tidak, maka:
(berikut ini rangkuman secara umum pelaksanaan program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang)

Bidang Pendidikan dan Teknologi
1. Sekolah dan buku gratis.
2. Sekolah sampai kelas 12.
3. Gaji guru (termasuk guru taman kanak-kanak) dan gaji dosen, paling rendah setara 100 gram emas setiap bulan.
4. Masa orientasi dihapuskan karena selalu mengarah pada kekerasan.
5. Pendidikan efektif, anak sekolah berbudi pekerti, tidak kehilangan masa anak-anak dan masa remajanya, maka jumlah buku dan mata pelajaran per kelas per tahun harus dikontrol. Karena (menurutku) kita tidak memerlukan orang pintar yang tidak berperasaan seperti komputer dan mesin.
6. Pendidikan di Universitas dengan mutu yang baik dan berkualitas.
7. Membangun technology research center disegala bidang.

Lingkungan, Pariwisata dan Kesehatan
1. Penebangan hutan akan dihentikan, HPH (Hak Pengelolaan Hutan) dihapuskan dan penghijauan besar-besaran dilaksanakan dan dikontrol tiap hari.
2. Seluruh tepi pantai ditanami pohon bakau sejauh yang bisa ditanami ke arah laut dan sejauh 3 km ke arah darat menjadi hutan lindung. Maka seluruh binatang akan senang.
3. Tidak boleh buang sampah ke sungai, apalagi sampah plastik.
4. Irigasi ke sawah ladang dan lahan pertanian dibangun. Harga jual hasil pertanian harus dijaga demi kemakmuran petani.
5. Semua jenis immunisasi gratis. Pembangunan rumah sakit dan puskesmas ditingkatkan.
6. Fasilitas pariwisata dibangun, agar turis tinggal berlama-lama dengan senang hati.
7. Sampah menjadi bahan bakar energi dan sebagian menjadi pupuk.

Energi Primer dan sekunder
1. Pembangunan Green Energy harus ditingkatkan.
2. Pertambangan Minyak Gas dan Batubara demi kemakmuran rakyat.

Transportasi dan hal-hal terkait.
1. Pembangunan transportasi massal (Mass Transport), kereta api dalam kota dan antar propinsi menjadi prioritas. Di setiap kiri-kanan jalan tol harus dibangun rel kereta api.
2. Pelayanan dan kenyamanan yang baik di setiap stasiun dan bandara.
3. Setiap Bandara dan stasiun bus, harus bisa dicapai dengan kereta api dan tentu saja dengan angkutan umum lainnya.
4. Di mana pun, tempat pelayanan masyarakat tidak boleh ada calo dan preman.
5. Jaminan kenyamanan dan keamanan di angkutan umum.

Kemanan dan Pertahanan
1. Dilarang memukul, mengeroyok dan lain-lain kekerasan dengan alasan apapun.
2. Gaji polisi dan tentara, jaksa dan hakim mulai pangkat terrendah setara 100 gram emas setiap bulan.
3. Angkatan Bersenjata terlatih dan kuat dengan peralatan yang baik dan moderen.
4. Sekali-sekali parade atau “show of force”
5. Mereka bertugas menjamin kemanan dan keamanan bagi Negeri dan pelayanan masyarakat.

Kebudayaan
1. Membangun dan menjaga kelestarian budaya suku bangsa Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika makin berakar kuat.
2. Saling menghargai dan saling menghormati.

Keuangan, Investasi, Industri dan utang piutang
1. Negara tidak boleh menambah utang dengan alasan apapun, kita harus bisa hidup dengan kemampuan dan keberadaan kita sendiri.
2. Dengan demikian semua lembaga keuangan yang suka memberi pinjaman harus segera keluar dari negeri tercinta, misalnya IBRD, ADB, JBIC, …dan lain sebagainya. Go to hell with your money.
3. Membuka dan memberi fasilitas kepada “investor-industri” yang diperlukan di dalam negeri tercinta.
4. Semua biaya yang dibutuhkan berasal dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, dan kekayaan negeri tercinta. (Tambang minyak, gas, batubara dan lain-lain)

Birokrasi dan pegawai pemerintah
1. Gaji paling rendah setara 100 gram emas setiap bulan.
2. Disiplin, berbudipekerti, saling menghormati dan menghargai. Bekerja untuk rakyat tanpa pandang bulu demi kemajuan negeri tercinta.

Hukuman bagi pelanggaran
1. Hukuman berat, tidak ada ampun. Namun tetap diberikan tempat dan kesempatan untuk bertobat bagi setiap orang yang dihukum. (gaji sudah besar. hehehe..)

Hal-hal lain
1. Akan kupilih menteri menteri yang hebat, pintar, dan rendah hati, sesuai dengan disiplin ilmunya dalam melaksanakan program kerja tersebut.
2. Mari kita bekerja sama, dengan tekun dan senang hati dimanapun kita berada demi anak cucu kita.
__________________________________
dari Bisik-bisik: Untung saya bukan presiden, kalau tidak maka:…!!!

Written by Singal

June 19, 2009 at 10:04 pm

Koalisi Berbagi Kekuasaan atau Gotong Royong

with 23 comments

Gotong royong adalah salah satu budaya negeri tercinta, tolong menolong membajak sawah, memanen, membuat jalan, membuat irigasi, menjaga kebersihan, keamanan dan lain-lain yang berguna, hasilnya langsung dikecap masyarakat.

Gotong royong membongkar dan melanda batas rasial, melanda batas diskriminasi. Gotong royong satu perasaan, satu tujuan, satu cita-cita, pengamalan pancasila dan buah bhineka tunggal ika.

Gotong royong berakar kuat!, sayang….., kini…pohon dan daunnya mengering hampir rontok meski di negeri tercinta tidak ada musim gugur, ia tertelan siapa loe siapa gue. Tertelan oleh kendaraan macet dan jalan penuh lobang. Tertelan hutan beton dan gemerlap lampu kristal, tertelan sumbangan penyalur kebaikan yang berpakaian bagus, ganteng, cantik dan suka berkoar-koar sebagai orang baik.

Kini..gotong royong hanya tumbuh subur pada gelandangan, pemulung, nelayan dan petani, berlawanan dengan politikus, mereka bekerja sama, tolong menolong juga, mereka sebut koalisi.

Koalisi, politikus?!. Mereka berunding dulu, sering sangat alot lalu mereka meberitakannya. Informasinya tidak jelas, mereka hanya menyatakan sudah sepakat, sudah sepaham, sudah saling mengerti. Aneh…menurutku.

Kita hanya menduga dan menebak apanya yang sepaham, apanya yang sepakat, apanya yang saling mengerti. Mereka hanya berbagi kekuasaan.

(Nb. setelah postingan ini, terbit 13 jam lebih, saya mengganti judulnya dari “Gotong royong, Berbagi kekuasaan” menjadi “Koalisi Berbagi Kekuasaan atau Gotong Royong” tanpa merobah isinya.)
__________________________________
dari Bisik-bisik: Gotong royong memang berbeda dengan koalisi, iya kan?!.

Written by Singal

May 29, 2009 at 6:49 pm

PILPRES, Kursi Presiden

with 22 comments

Suatu saat di negeri Cina yang makmur, kursi kaisar diduduki seorang yang bijak, lembut dan selalu berpikir untuk berusaha bagi kemakmuran rakyatnya. Sang kaisar melaksanakan pemerintahan dengan pemikir, budayawan, satrawan, seniman dan tentu saja disertai para jenderal yang kuat dan hebat.

Namanya bumi, tempat hidup bagi manusia dan binatang, penuh dengan misteri. Salah satu misteri itu ialah seorang atau suatu kelompok merasa superior , lebih berkuasa terhadap yang lainnya dengan berbagai alasan. Ingin mengabdi kepada rakyat yang akan diperintahnya, demi kemajuan bersama alias negara dan bangsa.

“Satu nusa satu bangsa!”, namun, tiap orang atau kelompok, secara khusus tidak akur satu sama lain, berbeda dengan bumi ini, di tatasurya ia akur dengan planet lain, mereka tunduk berputar teratur mengelilingi matahari. Kontras!, sebuah tempat yang memberi contoh tidak diikuti penghuninya.

Kesombongan!!, merasa besar, merasa mampu, merasa lebih baik dan akhirnya merasa lebih pas menjadi penguasa, mereka saling teriak. Mereka menginginkan kursi penguasa alias kursi presiden. Semoga rakyat negerinya mengerti teriakan teriakan itu, semoga rakyat negerinya mampu mengolah makna teriakan-teriakan itu.

Sementara itu. meski negeri cina sudah makmur, pemberontakan selalu ada saja dan selalu dapat dipadamkan oleh jenderal-jenderal hebat itu. Banyak korban jiwa!, banyak uang yang dikeluarkan!. Kaisar masgul!.

Suatu saat, terjadi lagi pemberontakan. Kaisar dan panglima besar turun langsung, mendatangi kepala pemberontaknya, lalu mengangkatnya menjadi Gubernur, tidak ada korban jiwa!, tidak ada panah!, tidak ada pedang dan tidak ada uang yang dikeluarkan selain dari pesta pengertian dan pesta kedamaian.
_________________________________________
dari Bisik-bisik: Mereka sedang mengasah pedang dan sedang menyiapkan anak panahnya. Pedang kebencian dan panah kemarahan, lidah mereka.

Written by Singal

April 30, 2009 at 5:42 pm

Pemilu, Pemilihan Umum untukmu Indonesia

with 29 comments

Mengisi kekosongan dengan buru-buru….hehehe…

“Aku tidak suka pangkat Jenderal” kata Naga Bonar, “aku jadi Marsekal saja” lanjutnya kepada si Lukman. “Lagipula untuk apa pangkat itu, tak perlu itu buatku”.

“Perlu bang, perluuu…” sahut Lukman, “biar Belanda itu jelas berunding dengan siapa”.

Si Lukman ini sangat hebat, dia yang mengatur dan memilih semua pangkat pasukan Naga Bonar, karena cuma dia anak sekolahan, atau setidaknya pernah duduk dibangku sekolah. Namun ada satu orang yang protes.

Si Bujang sang ajudan protes, karena pangkatnya letnan, sedang temannya mayor, lagi pula dia merasa paling berjasa karena menggendong ibu Nagabonar kalau Belanda datang, mereka berlari ke tempat perlindungan.

“Aaaah!..mana kutaaau ituu, si Lukman yang buat paaangkat Jang…..!!!, kalau begitu kau sersan mayor saaja lah!, ada sersaaannya ada juga mayooornya” teriak Naga Bonar dengan enteng sambil membelakangi si Bujang sembari melihat kearah rimba di depannya.

Pemilihan yang hebat, dan jelas posisinya, meski bukan pemilhan umum.

Dalam waktu dekat, kita menjadi si Lukman, bukan memilih dan menentukan pangkat, melainkan memilih wakil kita atau anggota DPR, DPRD I dan DPRD II, untuk menentukan nasib bangsa dan masyarakat secara umum. Memberi kemudi kendaraan namanya Indonesia kepada mereka yang kita pilih untuk menjalankannya.

Selamat memilih dan semoga pilihan kita itu adalah supir yang tepat dan baik, dapat diandalkan, mereka dapat mengemudikan dengan benar seperti Hamilton, Raikonnen, Masa, Alonso dan lain-lain di mobil roket formula satu.

Naga Bonar terbukti tangguh, seperti juga Hamilton, Raikonnen, Masa dan Alonso. Caleg (Calon Legislatif) yang terbukti tangguh, “siapa ya… no comment! ask yourself!…. semoga ada supir tangguh untukmu Indonesia “.
________________________________
dari Bisik-bisik: Selamat memilih wakilmu!

Written by Singal

April 3, 2009 at 7:20 pm

Berbahagia Apa Adanya

with 36 comments

Obrolan dengan temanku.

“Senang saya melihat bapak”, kataku kepada seorang teman, di suatu tempat di tengah hutan karet berbukit sebelah utara, Jawa Tengah.
“Bapak selalu memancarkan senyum meski dalam keadaan lelah begini, raut mukamu tetap berseri, hehehe”, lanjutku.

“Tiga kondisi yang selalu saya usahakan agar terlaksana, pertama membahagiakan diri dengan apa adanya, kedua membahagiakan keluarga dengan apa adanya, ketiga membahagiakan tetangga dan lingkungan dengan apa adanya. Nah! saat ini saya sedang membahagiakan diriku..”, katanya, tangannya memegang lutut kaki kanannya menekuk berpijak di ketinggian sedang kaki kirinya lurus berpijak di tempat yang lebih rendah.

“Semacam setting atau pengaturan ekonomi pribadi, ekonomi keluarga dan ekonomi lingkungan, begitulah…!, kita kan tidak hidup sendirian jadi semua kita lakoni dengan senang” dia melanjutkan dengan bersemangat, “Saya selalu merencanakan setting yang sangat rendah, sehingga bila kenyataannya sama atau sedikit lebih tinggi, maka saya sudah senang. Bila kenyataannya jauh lebih tinggi, wah..senang banget..jadi…semua keinginan kusesuaikan, bahkan kurendahkan sedikit dibawah kemampuanku” katanya.

“Luar biasa…” kataku, “Semacam kita miskin harta, tanpa jabatan tetapi tetap bahagia. Bahagia apa adanya” lanjutku.
“Betul…karena keinginan itu sering membuat kita susah…hahaha..” sergahnya, kami mulai menuruni bukit, menuju lembah.

Sambil mengagumi pemandangan musim panen bulan Februari, kugoda lagi temanku “berarti bapak sebebarnya tidak punya cita-cita dong..”
“cita-cita?!, ambisi maksudmu?!..” tanyanya…
“apalah semacam rencana dan usaha untuk masa depan yang lebih baik, daripada apa adanya” jawabku.
“bahagia apa adanya..itulah usaha dan cita-citaku..” katanya sambil melompat ke jalan setapak, dan menuju mobil kami diparkir.

“Coba lihat dan pikir”, katanya “banyak orang berpisah dengan temannya karena berbagai macam sebab, menurutku sih…penyebabnya sederhana saja, semua itu karena keinginan yang melebihi kemampuannya, sehingga…. pastilah tidak terpenuhi”.
“Seperti caleg?!…parpol?!..itu maksudmu?!..”, kataku
“hahaha..”, kami masuk mobil melanjutkan perjalanan, matahari memerah melukis awan dan sekelilingnya.
__________________________________________
dari Bisik-bisik: Berbahagia apa adanya!, iya kan?!.

Written by Singal

February 24, 2009 at 9:24 pm

Kucing Putih, Kucing Hitam dan Nasionalisme!

with 37 comments

Obrolan dengan temanku Moh. Roem Lubis dan Moh. Nuh, di suatu tempat di tengah hutan Sumatera Selatan.

Membuat keputusan ditengah ketidakpastian, ibarat kita sedang berada di atas puing-puing yang terapung di tengah lautan, mengikuti arus yang selalu berubah arah setiap saat, tanpa batas, memberi rasa tidak nyaman yang tak terhingga, yang ada hanya harapan “Semoga arus ke arah daratan, semoga ada kapal penolong datang, berbagai semoga…tujuannya hanya ingin selamat, ingin hidup”. Sebuah harapan yang tidak pasti, karena tidak ada kemudi alias loss control.

“Saya tidak peduli, apa itu kucing putih atau kucing hitam, sejauh kucing itu bisa menangkap tikus, itu kucing yang baik” kata pemimpin Cina Deng Xiaoping, dan negeri Cina makin maju seperti sekarang. Dia menyatukan perbedaan ideologi. “Pertikaian ideologi membuat Cina terbelakang”.

Lalu, Deng mengirim sangat banyak mahasiswa berbagai disipilin ilmu, ke luar negeri, konon ratusan ribu orang. 25 (duapuluh lima) tahun kemudian, lebih dari sepuluh ribu orang dari antara mereka pulang, seraya memberi kontribusi yang hebat, membangun Cina moderen. Deng sang pemimpin, sudah almarhum ketika mereka pulang. Namun, beliau telah memberi kemudi untuk mengontrol ketidakpastian menjadi harapan yang pasti.

Suatu saat saya bercakap-cakap dengan seorang teman,
“Loe itu kalo dihubungi, ga pernah ada di tempat” kataku,
“Ruangan di kantor kami sedang diperbaiki. Saat ini kami semua berada dalam satu ruangan seperti di kelas, tidak ada batas, jadi tidak nyaman” jawabnya.
“Bah..kita kan, menyelesaikan pekerjaan kita sendiri, jadi perasaan seperti itu perlu dimatikan” sahutku.
“Ga..lah.. kayak kamu ga tau aja…, pokoknya ga nyaman!..” suaranya sudah mulai meninggi.
“Hati-hati..loe harus sering tarik napas..bebaskan pikiranmu….agar tidak stress…hehehe” jawabku menutup pembicaraan.
Meski kondisi dan situasi seperti itu relatif, dalam hati, saya benarkan juga pendapatnya.

Tanpa batas, sering menambah ketidakpastian, dapat membuat sebuah sistem tidak bisa dikontrol (uncontrolled system condition), dapat membuat keseimbangan terganggu dan tidak stabil. Dalam ketidakstabilan kita hanya berharap semoga tidak collapse atau ambruk.

Sebentar lagi kita akan memilih calon legislatif dan calon pemimpin yang akan mememegang kemudi negeri tercinta, Mereka para calon akan mewujudkan legenda pribadinya, kita hanya berharap ketika mereka sudah duduk di kursinya, semoga mereka searah menyuarakan dan mengemudikan kepentingan bangsa.

Maju!, tidak hanya berjanji mementingkan kepentingan pribadi, kelompok dan ideologi, mencari-cari kelemahan dan kesalahan, lupa membangun, lupa cita-cita dan lupa arah.

Suatu saat Obama menyatakan dalam kampanyenya “There will be time to punish those who set this fire, but now is the moment for us to come together and put the fire out.” , juga ketika si lelaki tua menyatakan kepada si Santiago bocah kecil “harta terungkap oleh kekuatan air yang mengalir, dan terkubur oleh arus yang sama” (Novel, Sang Alkemis, Paulo Coelho).

Harapan kita, suatu saat, siapapun yang jadi anggota legislatif dan yang menjadi pemimpin semoga mereka memberi kepastian arah bagi kepentingan bangsa.

Gong Xi Fa Cai
Selamat Tahun Baru Imlek
Tambah rezeki, tambah sehat dan panjang umur.
_________________________________
dari Bisik-bisik: Bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh, iya kan?!, mari! pentingkan kebutuhan bangsa, sesuai kompetensi kita!

Written by Singal

January 26, 2009 at 6:32 pm

Sang Pengusaha

with 52 comments

“Pulanglah nak!, kamu kan pajojorhon malam ini, beritahu inang-bajumu agar pakayanmu diambil dari laemu tukang jahit samping rumah kita. Baju itomu si Riama ada di atas tempat tidur, sudah mama sterika, durung-durung kalian sudah mama siapkan diatas lemari” kata ibunya sambil menancapkan berkas lima atau enam semai padi siap tanam, bersama tangannya ke dalam tanah yang berlumpur lembut dan berair, mengangkat tangannya, meninggalkan batang dan daunnya dipermukaan dan akarnya berada didalam, lalu dengan cepat mengambil yang lain dari berkasnya segera menancapkannya sambil membungkuk mundur.

Anak laki-lakinya berumur 12 tahun masih klas 6 SD berbuat hal yang sama, sekali-sekali mereka berdiri untuk meluruskan pinggangnya. Sangat jarang anak laki-laki ikut menanam padi, apalagi anak sekecil dia.
“Tinggal sedikit lagi ma.., kita pulang bersama saja ma.. kita ke gereja bersamaan dengan si Riama dan bapak, kan?! “. katanya. Sambil berdiri, dia memperhatikan ibunya yang kurus, membungkuk, dengan cekatan menancap semai padi, kepalanya ditutup mandar yang dilipat melindungi sengatan matahari.

Ibunya, diam saja terus membungkuk dan mundur memasukkan tangannya kedalam lumpur dan membiarkan semai padinya tertancap. Ibu yang bersemangat, ibu yang tak letih berjuang demi keluarganya, Ibu dengan wajah yang penuh syukur memancarkan kebahagian, membaginya kepada semua orang yang berhadapan dengannya. Suaminya bekerja sebagai pamundak dipasar. Badannya tegap, pundak dan punggung yang keras lebam. Pekerjaannya menaikkan dan menurunkan karung penuh beras, mendorong drum minyak tanah dan minyak goreng dari dan ke truk dan toko-toko, semua orang di pasar itu menyenanginya.

Mereka adalah sosok keluarga yang tidak pernah lepas dari kerja fisik yang keras, termasuk anaknya. Namun, tidak pernah mundur atau menyerah meski sangat miskin. Mereka selalu merasa penuh berkat, penuh kebahagiaan didalam kekurangannya. Anehnya, banyak orang yang justru teman-temannya, sering menyebutnya si burju-loak.

Biasanya, di kampung itu, pada bulan Desember sebelum hari Natal, semua orang sudah selesai menanam padi. Mereka selalu belakangan, baik tahun ini juga tahun-tahun sebelumnya. Ibunya ikut menanam padi di sawah tetangga, lagi pula ayahnya baru kemarin menggaru sawah mereka, sedang ibunya mencabut atau mengambil semai padi siap tanam, menyusunnya menjadi berkas-berkas, lalu meletakkannya berbaris jarak dua meteran di dalam sawah yang telah digaru ayahnya, agar mudah ditanam besok harinya.

Diantara suara hujan Desember yang bedesah dan bunyi daun pohon serta tumbuhan kebun lainnya yang dibentur hujan, terdengar suara lonceng gereja bergema, menandakan pukul lima sore. “Tiuuur!, Tiur! ambil dulu daun pisang itu!” kata ibunya kepada adiknya, inang baju anaknya. “Ayo kita berangkat, ayah kalian nanti menyusul, mungkin pekerjaannya belum selesai”.

Mereka berjalan menuju gereja dengan daun pisang sebagai payung. Sawah dikiri kanan jalan yang baru ditanam tampak senang menyambut air jatuh dari atas. Wajah si Bonar dan Riama sangat senang, hari ini hari Natal, mereka memakai baju baru, iya baju baru… mereka memakai baju baru saat berbicara dengan Tuhan. “Tuhan akan menerima kami dengan senang. Tuhan juga akan menjaga ayahku” pikir si Bonar. Ayahnya biasanya sudah tiba di rumah meski bukan hari Natal.

Dia berjalan dengan sangat cepat di jalan yang masih basah, gunung sudah menghitam, awan memutih naik, sangat jelas di kegelapan, hujan baru reda, sekali-sekali kelipan lampu tampak dari kampung di gunung, suara jangkrik, kodok sawah dan binatang kecil lain besahutan. Dia bergegas, cahaya dari pintu dan jendela gereja di depannya sudah kelihatan. “Sonang ni borngin na i, uju ro Jesus i.…malam kudus…..” terdengar alunan nyanyian diiringi poti marende pedal, dia masuk tidak ada tempat duduk, “ahh… disana masih bisa di pojok bangku belakang”. “Beritahu bukit dan lembah, beritahu berita damai …damai di bumi…damai bagi seluruh umat manusia” suara yang terdengar dari nyanyian dan khotbah.

“Bapak tidak melihat saya pajojorhon“, suara si Riama yang berpegangan dengan ibunya, menyela pembicaraan dalam perjalanan pulang yang diterangi lilin ditangan mereka. “Iya nak, ketika bapak mau pulang bapak harus menolong seorang anak yang ditabrak mobil, membawanya kerumah sakit, orang tuanya belum tahu, kita tidak mengenalnya. Semua uang bapak habis membeli obatnya bahkan masih kurang, semoga dia lekas sembuh nak!” sahut bapaknya tangannya terletak di pundak si Bonar, sambil memperhatikan istrinya yang bijak, sebelumnya, dia telah membisikkannya kepada si jantung hatinya itu.

“Ma..! Pa..!, si Riama tidak bisa pulang, dia sibuk menyelesaikan research Doktornya di Leiden Belanda. Iniii, ini si Bonar, maa..! paa…!!!, ……!!” Suara tangisnya di atas dua gundukan tanah di kebun belakang rumahnya, Ibunya meninggal ketika Bonar masih kelas dua SMA dan Riama kelas satu SMA, ayahnya menyusul setahun kemudian. Kini Bonar seorang pengusaha yang sukses, mempekerjakan lebih dari empat ribu orang karyawan.

“Sudahlah nak ” kata inang udanya yang sudah menjanda, suaminya meninggal beberapa tahun lalu. “Sudah lah nak, ayo kita berangkat…kau dengar lonceng gereja itu?”.

Selamat Hari Natal
dan Tahun Baru.
Damai di bumi, damai bagi seluruh umat manusia.
_________________________________
dari Bisik-bisik:
Pajojorhon: liturgi, anak-anak menyebut firman Tuhan dari depan mimbar gereja.
Inang-baju: kata panggil kepada adik ibu yang belum menikah
Lae: kata panggil antara laki-laki atau saudara sepupu, atau ipar
Ito: Saudara perempuan, kalau laki-laki yang memanggil (berlaku timbal balik, saudara laki-laki kalau perempuan yang memanggil). Berlaku juga antara gadis dan pemuda.
Durung-durung: Persembahan kepada Tuhan.
Menggaru: meratakan sawah sebelum ditanam.
Mandar: kain sarung
Pamundak: orang yang bekerja mengangkat barang berat seperti beras dan lain-lain, di pasar.
Burju-loak: orang yang baik tetapi bodoh
Poti marende: organ
Inang-uda: adik ibunya, dipangil inang baju sebelum menikah.

Written by Singal

December 22, 2008 at 6:17 pm

Some (one/thing) behind!

with 13 comments

Fiksi.

Rambutnya sudah beruban, pipi dan dahinya memerah berkilat diterpa matahari sore, dari puncak gunung itu, dia tidak bosan memandang ke sekeliling lembah, ke arah utara lalu berputar ke selatan, mengangkat tangan keatas dahi mencegah silau, menghubungkan seluruh bukit kehijauan dan gunung kebiruan yang melingkari lembah itu.

Tidak ada rasa penat, tadi pagi bangun pukul 2.00, pukul 4.00 check-in di bandara Sukarno Hatta, take-off pukul 6.00, naik mobil sewa sejauh 300 km lebih dari Medan, istrahat makan siang di tepi danau Toba Parapat, sekarang hampir pukul 4.00 sore, dia berdiri di puncak gunung ini. Mobil tua yang meraung-raung mendaki jalan tebing terjal berbatu batu mengantarnya kesini. Setengah jam yang lalu setelah turun dari mobil sewa, dia masih minum kopi di salah satu lapo di kaki bukit ini.

Lembah…, sawah yang menguning bergelombang ditiup angin bak ombak laut, terbelah menjadi beberapa bagian, diiris jalan yang tampak menjadi garis hitam kehijauan, menghubungkan kampung-kampung dengan jalan besar, membentuk rangkaian simpul terhubung satu sama lain. Kampung berbagai berbentuk!. Bentuk persegi tidak beraturan,… bentuk bulat,… dan selalu dikelilingi pohon dan bambu. Di dalamnya deretan rumah beratap seng tampak sebesar kotak korek api. Cahaya matahari kadang muncul dari atap seng melalui celah daun pohon yang bergoyang ditiup angin. Sekali-sekali gumpalan debu beterbangan bergulung gulung mengejar mobil menyusuri garis hitam itu menuju jalan besar. “hmm… setiap pagi, jalan besar itu penuh anak sekolah, jalan kaki menembus kabut yang membatasi pandangan dua sampai tiga meter” dia bergumam.

Dua sungai besar mengalir memberi kesuburan pada lembah itu, memberi batas barat, tengah dan timur, yang tidak penah tercatum di ampolop surat pos. Bertemu di suatu tempat, lalu bergerak menuju ke selatan mengejar nun jauh disana…lautan Hindia. “Lembah yang indah dan subur…, kota sekolah…Medan…Jakarta..Indonesia…kota dan lembah yang ada di dunia..dunia makin sempit,…” pikirannya mencampur semua kejadian, dulu, saat ini dan masa datang, lebih cepat dari komputer apapun. Lalu dia berbalik memanggul ransel kesukaannya, melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan sambil menenteng sekotak besar rokok. Ya!, sekotak besar…meski dia tidak pernah merokok.

“Saya harus cepat, tiga bukit lagi harus kulewati…..satu setengah atau dua jam naik turun, lalu mandi di pancuran”. Perasaan menyenangkan mengalahkan kelelahannya, menimbulkan semangat masa mudanya, membayangkan pancuran bambu, airnya jernih keluar dari celah batu yang terbenam di pinggang bukit, terletak tidak jauh, sebelum kampungnya. “bundaran pelangi kecil, akan muncul didepanku bersamaan dengan jatuhnya percikan air pancuran dari kepalaku, dilukis sinar matahari sore. Tetapi hari ini tidak, matahari sudah terbenam saat saya tiba…aah..masih ada hari esok!” pikirannya penuh, serempak dengan langkahnya yang panjang di jalan antara bukit, jurang dan lembah kecil yang ditumbuhi semak, ilalang bercampur dengan pohon-pohon kecil-kecil. Haramonting, sanduduk, motung, tandiang, antunu dan buar-buar, kadang diselingi hau umbang, tambissu, dan sepang. Tiupan angin memaksa pohon dan ilalang berdesir, daun-daunan melambai-lambai disertai suara binatang dan kepakan burung ikut menyambut kehadirannya.

“Mana mungkin baik!…akhir tahun lalu para pabrikan mobil, motor beserta agennya mengumumkan keuntungan dan kenaikan jumlah penjualan, Jasa Marga juga untung, pabrik semen untung…. penghasilan pajak kendaraan…”, tiba-tiba muncul dipikirannya, tadi pagi dia ke bandara melewati banyak polisi tidur, berlubang menyakiti ban mobil, lalu masuk ke jalan besar. Jalan tol menuju bandara sudah mulai padat. Di bandara, hanya satu pintu yang terbuka, orang beringsut mengangkat tangannya ke dada melindungi tubuhnya dari antrian yang berdesakan. Pandangan mata dingin petugas seolah tanpa perasaan, gajinya mungkin kecil, sementara dua temannya asyik ngobrol tidak peduli. “Mana mungkin pelayanan publik yang baik, mana mungkin ada mass transport…. !! omong kosong…rugiii!!. Tiang-tiang mono-rail terbengkalai, bahkan sudah memakan korban mobil dan manusia”.

“Mana mungkin baik!!…., danau toba tetap saja mengecil….hutan tetap saja gundul, meski pabrik pulp kertas telah menyatakan pabriknya tidak mengganggu lingkungan,….permukaan danau toba tetap saja dibiarkan jelek dan bau, karena keramba ikan nila terutama di Parapat berpartisipasi meningkatkan nilai ekspor…”. Terbayang kesialannya terjebak dibelakang mobil truk, penuh kayu menggunung, menakutkan ketika jalan menikung, miring hampir terbalik. Mengakibatkan antrian panjang, mereka parkir dipinggir jalan entah apa sebabnya. Truk-truk itu juga harus melewati jembatan timbang. Lepas dari antrian membuat mobil mobil lari kencang, seolah dikejar hantu yang tak pernah menampakkan dirinya. Maka dia lebih sibuk berdoa daripada menikmati perjalanan, dia lebih sering memasukkan jantungnya yang sering terasa copot…sungguh nyawa hampir tak berharga…tidak ada speed limit.

Terdengar suara pancuran, tak terasa dia akan segera tiba, “bo..ni aek i.., bo..ni aeki!!” dia berteriak keras, dia heran tidak ada jawaban.. “pukul 6 lewat tidak ada orang?!”, biasanya saatnya banyak orang mandi..

Tubuhnya yang segar setelah mandi, menyesuaikan hawa dingin pegunungan. Dia melangkahkan kaki melewati gerbang kampung, cahaya lampu petromax dari lapo satu-satunya menerobos kegelapan menerangi jalan didepannya, hatinya sangat senang, terharu.., langkahnya makin panjang…suara riuh orangtua main catur dan nyanyian pemuda diiringi gitarnya, terdengar sayup-sayup, makin jelas makin kencang… dan “horas!!”
“horas!!…” semua orang menatapnya penuh tanda tanya.
“aku si Tigor…..!!” dia melihat sekeliling tidak ada satupun yang dikenalnya….

Tiba-tiba “bah…sudah pulang kau Tigor…”, seorang tua ubanan langsung memeluknya, “tigapuluh tahun cukup membuat generasi sudah berganti” katanya. “Berapa anakmu, kau sudah punya cucu?!, lihat aku, cucuku pun sudah mau nikah”, lanjutnya.

Tigor terhenyak dan terdiam sejenak, “Saya belum kawin, belum nikah…., tetapi semua anak-anakku, sudah selesai sekolah. Anak pungut!!, mereka banyak yang sudah berkeluarga, mereka tidak mengenal saya, dan saya tidak ingin mereka kenali, saya senang mereka sukses….hehehe..kau tau itu…..”

“Ah..kau itu, si Roma si gunung es itupun belum kawin..meski banyak pemuda yang melamarnya.., sudah tua dia itu..tetap saja cantik.. hehehe…cinta monyetmu itu..” sahut si orangtua temannya semasa sekolah, merekapun ngobrol sampai pagi.
__________________________
dari Bisik-bisik: Lapo: Warung atau kedai kopi/tuak, tempat orang berkumpul, minum, makan, main catur dan bernyanyi sering diiringi gitar.
Haramonting, baca [Haramotting]: sejenis tumbuhan liar setinggi pinggang orang dewasa, biasanya tumbuh di padang rumput dan steppa kadang disemak-semak, buahnya bulat sebesar ujung ibu jari orang dewasa, kalau sedang masak warnanya merah, rasanya manis dan enak dimakan.
Sanduduk [sadduduk]: sejenis tumbuhan liar setinggi pinggang orang dewasa, sering tumbuh berdampingan atau diselingi haramonting, daun bunga dan buahnya didominasi warna ungu. Buahnya bulat lonjong lebih kecil dari buah haramonting, rasanya sepat.
Motung: Sejenis pohon kecil, daunnya lebar dua warna, bagian bawah putih dan bagian atas hijau, tiupan angin seolah memberi lambaian dan bagus kelihatan.
Tandiang [taddiang]: Pakis
Antunu [attunu]: Sejenis pohon batangnya langsung bercabang, daunnya seperti pandan berduri lebih panjang, buahnya sebesar mangga dan kulitnya sperti buah nangka, tidak dimakan. Tumbuh di jurang kecil, kehadirannya menandakan kelembaban dan kemungkinan ada air.
Buar-buar: sejenis tumbuhan seperti rotan, besar tetapi kaku, jarang digunakan, ujungnya berduri.
Hau umbang [hau ubbang]: sejenis pohon tidak pernah atau jarang menjadi besar, tetapi banyak tumbuh dibukit, batangnya sering digunakan sebagai pagar.
Tambissu [tabbiccu]: sejenis pohon tak pernah atau jarang besar, seperti hau umbang, batangnya sering dipakai sebagai pagar. sejenis ulat suka daun tambissu ini, dapat dimakan.
Sepang: Sejenis pohon, batangnya lurus tidak bercabang, lunak dan ringan, dipakai sebagai bahan untuk membuat okulele dan gitar kualitas sedang.
Bo..ni aek i..: adalah kata normal yang harus diteriakkan ke pemandian kalau kita ingin lewat, atau mandi.

Written by Singal

December 10, 2008 at 9:29 pm

Kesan!

with 26 comments

Entah mengapa, pagi itu di kantor, seorang teman menghampiri meja saya, bibirnya dimonyongkan dan nyorocos “Coba bayangkan bang!, anak SD bukunya sangat banyak, belum ekstra kurikulernya. SMP dan SMA sama saja. Akhirnya, lihat saja hasilnya!, setelah mahasiswa mereka lebih banyak mengkhayal dan negative thinking, tawuran, berantam, tidak punya empaty. Anak sekarang dijejali dengan mata pelajaran, padahal belajar itu kan, harus disesuaikan dengan umurnya!!, mereka di karbit!!!”, lanjutnya.

“Bah..!, ada apa ini, duduk..duduk, duduk dulu pak!,….itu tandanya mereka lebih pintar dari kita, mereka lebih maju, mereka pokoknya mengikuti jaman….agar tidak disebut ketinggalan jaman”, kata saya.

“Gila kau bang!, tidak ketinggalan jaman abang bilang?, mereka mengancurkan sekolahnya, tawuran, memukuli temannya juga,….kalau mau berantam satu lawan satu, begitu kan?!” dahinya di kernyitkan, dan kedua belah telapak tangannya dibuka dan digoyang-goyangkannya naik turun, didepan perutnya, memang temanku orang jawa yang satu ini suka ceplas ceplos.

Deringan telepon di atas mejaku mengundurkan dia balik ke ruangannya, saya angkat gagangnya “halo..selamat pagi”.
“pagi pak…” bunyi suara dari ujung telepon, saya tahu siapa dia, dan kali ini saya yang nyorocos, “Apa kabar..ok..ok..gimana resume rapatnya..sudah dikirim ke direksi?! (Board of Director)
“sudah, sudah! sudah dikirim…hahaha…tidak ada response….tak ada disposisi balik, ibarat menjatuhkan batu kedalam lubuk, ikannya pun ogah muncul, bahkan batunya jadi mainan… mereka ga peduli…hahaha, jaman ini…”
“ok..lah..kalo gitu, loe ngapain hari ini…”
“mo..baca baca dulu, ok ya..klik..”

Tiba-tiba, temanku yang lain muncul, temanku yang satu ini, suka mengkritik tetapi tidak tahan terhadap kritik, “selamat pagi pak!”
“pagi pak..” kutatap dia, “krah bajumu tolong dibetulin pak…”, “ah…itu kusengaja biarin saja” tetapi sambil dibetulkan dan dirapihkannya, “terimakasih!, dasar loe itu suka mengkritik orang..” katanya sambil tertawa. “bah!..”.

Tidak terhitung kesan, yang kita tanam dan petik setiap hari, dari setiap kejadian, dari setiap pertemuan dan dari setiap dialog, juga dari isi dialog itu sendiri. Namun, tidak bisa dipungkiri, sering kesan yang telah tertanam (entah mengapa) dalam pikiran kita ternyata bertolak belakang, terbukti setelah kita bertemu dan bergaul lama secara langsung dengan seseorang atau sebuah kelompok.

Saat ini, amat banyak kesan yang tertanam, terhadap berita sosial di media massa, seperti demonstrasi mahasiswa dan buruh, penggusuran rumah dan pedagang kaki lima, penghentian truk yang membawa pupuk bersubsidi oleh petani, penanaman sejuta pohon, jalan macet (termasuk jalan tol), semrawut, perubahan jam masuk sekolah di Jakarta, rupiah merosot, angin puting beliung, banjir, caleg dan omongkosong. Kesan itu terserah anda.
_________________________________
dari Bisik-bisik: Kesan interviwer terhadap kita, dapat dipakai pemilik perusahaan, pemimpin dan orang lain jika berhubungan dengan kita, dan harapannya semoga kesan itu positif, iya kan?

Written by Singal

November 29, 2008 at 3:24 pm

Change!, Harta Tak Laku di Surga

with 38 comments

Sehari setelah Barack Obama terpilih jadi presiden harga saham global malah turun. Mungkin para orang kaya makin takut gara-gara model ekonominya, mereka kegerahan dan terpaksa menjual sahamnya, sehingga harganya jatuh lagi. Pajak golongan penghasilan menengah kebawah dikurangi makin kecil sedang pajak orang kaya ditambah atau makin besar Saya membayangkan para opportunis, berpikir keras, memanfaatkan kesempatan atas pidatonya “Change has come to America”, meski tetap saja lebih dari 200.000 orang kehilangan pekerjaan.

Sementara itu, menteri keuangan negeri tercinta, mengumumkan harga bensin premium akan turun 500 rupiah dari 6000 rp. menjadi 5500 rp. mulai pada bulan Desember yang akan datang, disambut protes supir angkutan umum, nelayan dan pengurus organisasi angkutan lainnya. “harga minyak solar juga harus diturunkan” seru mereka. Dan hampir berbarengan dengan itu, di berbagai kota, para buruh berteriak-teriak menentang SKB 4 menteri (tenaga kerja, dalam negeri, perindustrian dan perdagangan) karena konon menyengsarakan mereka.

Tiap kali lampu merah menyala, anak-anak itu menyebar, menepukkan kedua telapak tangannya keras-keras ke dekat jendela mobil yang berhenti, ada juga yang menggoyangkan tongkat kecil sehingga kumpulan dua atau tiga tutup botol berlapis longgar yang dipaku di ujungnya, berbunyi “krik..krriik..krik” sambil menengadahkan tangannya, dan di ujung jalan, seorang dewasa tampak mengawasi mereka. Mereka akan menyingkir ke punggung pemisah jalan atau trotoar sempit, bila lampu bertukar warnanya menjadi hijau, mereka bagian dari generasi penerus bangsa. Change always come, but what a change! . Setahu saya para wakil rakyat atau setidaknya media massa jarang membicarakan atau menyentuh kehidupan mereka. Lebih peduli memantau KPU yang sedang sibuk memeriksa keabsahan data para caleg, sebagian lagi sibuk memikirkan jurus jitu menghadapi pemilu, “mereka ingin berkuasa”.

“Change!!”. “change has come to this world”, “change has come to this century”. Mereka para demokrat jadi pemimpin, menguasai senat, menguasai DPR, sangat menjunjung hak azasi manusia, dan mereka melakukan segala daya upaya untuk itu. Akankah ada negara baru yang lahir di dunia ini demi hak azasi manusia?. Para separatis, para minoritas menggunakan alasan hak azasi, untuk memimpin, untuk mengatur diri sendiri atau untuk kaya. Teringat akan presiden Kennedy, Johnson, Carter dan Clinton, mereka dari partai Demokrat, di sela era partai Republik, barangkali, ada saja yang bergejolak, ada saja yang ingin berkuasa.

Suatu ketika, saya pernah bilang kepada seseorang!. “Pasti kamu sangat senang sebagai orang kaya”. Lalu dia menimpali “harta tak laku di surga, dibawa ke neraka terbakar, dibawa kedalam kubur digali orang, tak pernah kujaga bahkan tak pernah kupikirkan itu”. Hebat….

Sepak terjang KPK makin menggebu memeriksa banyak pejabat dan bekas pejabat yang disangka korupsi, bermacam-macam alasan mengapa mereka melakukan itu. Pada hal, sudah makin jelas, keinginan kaya, keinginan berkuasa, yang sering menghancurkan keserasian lingkungan, sering mengabaikan kebersamaan, sering menumbuhkan kesengsaraan, itulah penyebabnya.

Hmmm…semoga mereka yang sudah kaya, yang sudah berkuasa dapat berbagi rasa! berbagi pekerjaan, berbagi kepada rakyat banyak.
___________________________________
dari Bisik-bisik: Kebersamaan itu disimpan dimana?, kok… sering tidak kelihatan, iya kan?!

Written by Singal

November 12, 2008 at 3:38 pm