Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Kompetensi, Asosiasi, dan Sertifikat

with 4 comments

Manajemen berbasis kompetensi, bekerja sesuai kompetensi. Tiba tiba, istilah kompetensi ibarat lagu yang selalu berkumandang  pada lima tahun terakhir, dinyanyikan oleh para manajer, direktur, karyawan, pejabat pemerintah seolah menjadi menjadi top hit, melebihi lagu apapun di negeri ini.

Mungkin dulu, karyawan atau masyarakat bekerja tidak sesuai dengan kompetensinya, misalnya, tukang las menjadi tukang paku, tukang panjat menjadi tukang timba dll, dll, maka hasil yang diharapkan menjadi amburadul, alias kualitas produksi (apapun) menjadi jelek dan tak laku dijual karena tidak layak pakai. Agar tukang las tetap tukang las, dll tetap dll maka dibentuk “asosiasi” yang berhak memberi sertifikat keahlian, alias.., yaa.., itu tadi, “kompetensi pribadi”, sehingga berdasarkan sertifikat ini, para direktur atau pemilik perusahaan tidak perlu susah-susah untuk  memberikan pekerjaan yang tepat kepada mereka.

Bisik-bisik: Kesempatan memperoleh kompetensi alias keahlian terbuka lebar, dan kesempatan menjadi sesorang juga terbuka. iya begitu kan maksudnya?!

Advertisements

Written by Singal

January 19, 2008 at 6:50 pm

Posted in Humor, Korupsi

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Dulu ada seorang tukang batu (yang telah dididik menjadi tukang batu) disuruh menjadi tukan las.
    Pada awalnya, hasil las-nya kurang bagus karena memang bukan kompetensinya. Tapi lama-lama ‘Situkang batu’ itu benar-benar jadi tukang las dan hasil las-nya bahkan lebih baik dari orang yang belajar las.
    Ketika Manajemen kompetensi diterapkan, ‘Situkang batu’ dikembalikan profesinya menjadi tukang batu lagi…alasannya karena pendidikannya tukang batu (tidak lagi dilihat bahwa ‘Situkang batu’ sekarang sudah menjadi tukang las yang ahli) Akhirnya Situkang batu harus mulai belajar lagi jadi tukang batu….Pengalaman kerja menjadi tukang las yang diperolehnya belasan tahun ‘terpaksa’ dibuang begitu saja…
    Apakah seperti itu maksudnya kompetensi….MALANG BENAR NASIB TUKANG BATU DAN PERUSAHANN TEMPAT TUKANG BATU ITU BEKERJA
    ______________
    Bisik-bisik:Tukang batu yang berpengalaman jadi tukang las, iya kompetensinya tukang las, yang menjadi bidang keakhliannya, dan tidak palsu kan?. Sarjana teknik yang masuk kandang sapi selama 30 tahun, iya menjadi akhli sapi!! iya kan?

    AS-E2

    January 24, 2008 at 6:40 pm

  2. Bisik-Bisik: jelas arti kompetensi adalah keakhlian yang dipunyai yang bersangkutan begitu maksudnya kan?

    singal

    January 26, 2008 at 4:43 pm

  3. Benar begitu, tapi sayangnya MASIH ADA perusahaan yang menugaskan orang tidak kompenten mengatur penerapan SDM berkompetensi,…

    ____________
    Bisik-bisik:Perusahaan Negara begitu maksudnya kan?

    AS-E2

    January 28, 2008 at 11:44 am

  4. Saya sependapat dengan Bisik-Bisik yang mengatakan ” kompetensi adalah keahlian yang dipunyai seseorang ” akan tetapi dengan tambahan kalimat ” dimana keahlian tersebut telah dibuktikan ybs dengan karya nyata ( bukan hanya ijajah pendidikan saja ). Barangkali contoh nyata adalah seorang dokter harus melalui praktek kerja di rumah sakit ( coschap), selama dia belum menyelesaikan masa coschapnya dia diberi predikat drs.med, dalam masa itu fungsinya adalah assisten dokter ahli. Hal yang sama terjadi pada SH melalui proses pengacara praktek, akuntan melalui proses pendidikan dan ujian akuntan publik, dokter gigi juga melalui coschap.
    Kasus tukang batu ( melalui pendidikan ) menjadi tukang las yang ahli karena pengalaman ( tanpa setifikat kompetensi ) banyak terjadi dinegeri kita ini. Mis seorang sarjana tehnik yang bekerja di Bank menjadi ahli Finance, ahli Risk Management belakangan karena sistem di negara kita maka ybs. mengambil pendidikan MM supaya mendapat pengakuan. Kalau memang aturannya asosiasi yang mensahkan kompetensi seseorang, seharusnya asosiasi tukang las memberi kesempatan kepada tukang batu ( berijajah ) tapi ahli las ( tanpa sertifikat ) untuk membuktikan dirinya sebagai ahli las; barangkali dengan ujian ( seperti akuntan publik) atau barangkali ” fit and proper test” ? seperti mode sekarang ini.
    ____________
    dari Bisik-bisik: Negeri ini, tampaknya tidak menggunakan rumus “the right men/women in the right place”, sehingga sarjana teknik menjadi ahli sapi. Sebenarnya boleh-boleh saja, namun, tetap “set back” alias dimulai dari awal. Dan mungkin juga pada saat yang sama, sarjana atau ahli sapi ditempatkan pada bidang teknik dan menjadi ahli. Dari sisi waktu dan biaya, kerugian berkali lipat, memang tidak kelihatan secara langsung. iya, kan?!. Pertanyaannya adalah, kok bisa terjadi?! sudah berapa banyak kejadiannya?! “Fit and proper test” mungkin akan melancarkan penempatan “salah tempat” itu, dan membuat pengembangan karir internal terhambat. he he he.

    olanto

    February 23, 2008 at 9:06 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: