Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Desa dengan Citacita, Standar, Atap Bocor dan Oplah Buku

with 6 comments

Rajin ke sekolah, belajar baik-baik, hormati gurumu, sayangi teman, itulah beberapa semboyan,  jaman saya sekolah di sebuah desa, di negeri tercinta Indonesia. “Kamu harus lakukan itu, agar cita-cita mu yang tinggi tercapai” kata orangtuaku.

Kami belajar dengan kondisi sekolah yang relatif baik, buku gratis, guru yang sangat kami hormati sekaligus kami takuti, karena mereka juga melaksanakan hukum sekolah dengan konsisten. Kemudian, uang sekolah kami?! “beras seliter” tiap bulan, mungkin mereka dapat gaji juga sedikit dari pemerintah.

Standar Pendidikan?!  saya rasa, seluruh Indonesia standar pendidikannya sama, tidak perlu diragukan itu. Buktinya, sebagai orang kampung atau desa, saya dan teman saya orang desa lainnya tidak kalah dan dapat bersaing mengenai mata pelajaran dengan orang kota. Mengapa?! karena buku gratis tadi sama dimana-mana.

Sekarang, semboyan itu jarang terdengar, buku tidak ada atau orangtua murid tidak mampu membeli, kondisi sekolah rusak, atap bocor dan mereka diajari guru honorer, yang harus nyambi demi tambahan untuk asap dapur, karena gajinya setara dengan tiga keping krupuk saja, tulis harian Kompas 1 Februari 2008 kemarin.

Lalu standar dan cita-cita? “sulit dibayangkan!”. Namun, cita-cita Depdiknas dengan anggaran 2008 sekitar 50 Triliun, separohnya akan dipakai untuk wajib belajar 9 tahun, mudah mudahan bukunya gratis dan uangsekolahnya murah dan gaji gurunya naik.

Buku sekolah?! he..he..he.., saat ini, buku setiap tahun diganti, dan tampaknya sulit dikendalikan oleh pemerintah, atau mungkin disengaja dengan alasan mempertinggi mutu. Yang pasti!, “tiap tahun sang adik tidak bisa menggunakan buku bekas sang kakak”. Meski cukup mengherankan, isinya tidak jauh beda dengan tahun sebelumya. Ooo mungkin karena oplahnya besar maka harus diganti tiap tahun. Kasihan, mereka tidak seperti saya, menggunakan buku Om yang berjarak 10 tahun dengan saya.

Kelihatannya, Depdiknas perlu melihat kembali  pola kurikulum yang dulu, terutama pada SD dan SMP alias program 9 tahun. Misalnya, mata pelajaran Bahasa Indonesia, telah berisi semuanya, satra, tata bahasa, budi pekerti, panca sila, hubungan antar manusia, segala-galanya!!, yaitu menggunakan satu buku yaitu, “Buku BAHASAKU”, sehingga tas sekolah anak-anak tidak perlu gembung dan berat dan mahal lagi, ini salah satu contoh saja. Begitu juga buku lainnya, mudah-mudahan dapat dipakai bertahu-tahun, kalau ada perubahan,  ya,  dibuat suplemen saja. Jadi, harganya tidak mahal. Namun kalau Depdiknas memang senang cetak buku setiap tahun, apa boleh buat, yah kita mau bilang apa.

___________

Bisik-bisik: Depdiknas perlu menunjukan kinerjanya dengan perubahan kurikulum dan cetak buku mungkin itu maksudnya, iya kan?

Advertisements

Written by Singal

February 2, 2008 at 10:07 am

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. hmmm…..klo menrutku….standar pendidikan sekarang sekolah di Desa & di Kota tidak bisa disamakan lagi. 2 tahun lalu ad kasus di SMU-SMU Desa mana gitu (ndeso banget) 90% anak kls 3 nya gagal UAN …bahkan anak yg rangkin 1 pun gagal UAN…. dan ini menyebabkan anak tersebut depresi….. ORTU mereka pun demo ke dep pendidikan.
    klo soal kualitas sekolah di Kota sangat amat bagus…bahkan sekarang bahasa asing gak hanya inggris, tapi cina & perancis juga.
    seharusnya klo pemerintah ingin memajukan generasi muda…jgn hanya memberikan izin pembangunan sekolah di Kota saja (banyak sekali sekolah2 yg br dibangun padahal Sekolah di Kota dah cukup…yah itu krn ada modalnya sih!!..MONEY TALKS) ..
    sekolah di desa juga diperhatikan…. WHAT A STUPID GOVERNMENT!!! Let me be the government!!
    _____________
    dari Bisik-bisik: Depdiknas harus menyeragamkan lagi, begitu kan maksudnya?!

    CweetyChubbyPrincess

    February 2, 2008 at 11:24 am

  2. sekolah desa dan kota memang sudah beda, dan karakteristik anak2 desa dan kota sudah jauh berbeda. orang desa kebanyakan.. mereka rajin, karena mereka tidak ada pekerjaan lain selain membantu ortu-nya bekerja (berladang, bersawah, dll) dan belajar. di kota-pun banyak orang rajin bahkan mereka dapat belajar melalui teknologi2 yang tersedia dirumahnya dan juga home school.

    byk anak tidak sekolah karena ortu kesulitan ekonomi, padahal anak yang tidak mampu itu mempunyai potensi yang sangat tinggi loh…. coba pemerintah membuat sekolah gratis ya.
    klo masalah buku …….. sebagai anak SMP zaman sekarang, saya sudah merasakan-nya soalnya sebagian halaman di BUKU2 TEBAL yang disediakan sekolah tersebut banyak yang dilewatkan guruku karena tidak begitu penting. sebaiknya buku2 tebal itu diganti jadi buku yang tipis (hehehe) tapi isi2nya penting dan berkualitas di masa yang kan datang bagi si pelajar….
    dan guru-guru memberi catatan2 penting ttg pelajaran tsb……
    lalu orangtua dirumah mengajarkan ank-anaknya dengan baik dan jgn beliin MAINAN ke anak2nya sebelum dia berprestasi……. krn klo dibeliin mainan mereka akan kecanduan sama mainan itu (saya udah kecanduan ama PS2, hehehe)

    klo saya jadi pemerintah
    sy buat akan buat program wajib belajar 15 thn serta grtis uang sekolah bagi yang tidak mampu, dan sekalian buku tipis…. lalu saya akan membangun sekolah dengan merata baik di pedalamn maupun di kota dgn merata….

    udah deh cape……

    Anonymous

    February 3, 2008 at 6:56 pm

  3. klo pendidikan di desa ama di kota itu sama…saya setuju tuh….tapi semuanya tergantung dari anak2nya juga…hehehe…anak kota belum tentu lebih pinter dari anak dari desa…makanya semuanya tergantung dari si anak yg bisa menggunakan kesempatan dengan baik….mudah2an dana 50 triliun tuh dapat digunkan dgn baik deh….pendidikan di daerah tuh kurang diperhatikan….pembangunan infrastruktur pendidikan cmn terpusat di beberapa daerah saja…di indonesia bagian timur,,,sperti Papua sebagai salah satu contoh memerlukan aliran dana tersebut…..yah kan pendidikan penting tuh untuk membangun bangsa…makanya pendidikan tuh harus merata di berbagai daerah…agar pembangunan juga tidak terpusat di beberapa daerah saja…iya sebagai catatan sebaiknya perhatikab juga nasib gurunya….klo soal kurikulum sih menurut saya kurang bagus tuh kurikulum di indonesia…yah menyiksa….!!udah buku ganti terus,mata pelajaran yg dibanyak2in,nilai kelulusan cmn dinilai dari UAN aj…kan ga adil tuh…klo soal UAN apalagi tuh…klo tau gitu anak2 masuk nya kelas 6sd, 3 smp, dan 3 sma…kan bertepatan dengan dapet UAN tuh,, biar ngejar ijazah aja…selain itu nilai di smeser 1 ato smester 2 di kelas2 akhir tiu juga g dianggap..yg penting UAN memenuhi syarat….klo ada buku bahasaku pasti tebel & berat banget tuh buku bawanya..bisa2 tas sekolah robek…mahal g ya???

    Bpk.sotarduga

    February 3, 2008 at 8:26 pm

  4. Kata opungku di kampung :
    Kalau kerjamu hari ini sama dengan hari kemarin….RUGI
    Kalau kerjamu hari ini lebih jelek dari hari kemarin….BENCANA!!!
    Hari ini harus lebih baik dari kemarin…
    Besok harus lebih baik dari hari ini…..

    Tapi,….katanya….
    Tergantung nurani kita menafsirkan itu…..
    Dalam bahasa modern “TERGANTUNG KACAMATA MANA YANG DIPAKE”….
    ___________
    dari Bisik-bisik: Bencana tampaknya makin dekat, karena kehilangan kaca mata, begitu maksudnya kan?!

    AS-E2

    February 6, 2008 at 8:04 am

  5. Di desaku 10 tahun lalu beberapa petani bilang : “buat apa sekolah, nanam cabe duitnya banyak”. Tapi sekarang tanah semakin rusak, tanaman rentan penyakit. Dulu petani punya lahan luas tapi krn dibagikan ke anak2nya jadi sempit kepemilikannya dan memang yg kaya saja yg beruntung bisa beli lahan. Memang beberapa anak meneruskan sampe tingkat SMA bahkan PT, tapi umumnya berhenti setelah lulus SD atau SMP, mau bertani lahan sempit, tanah tdk subur, jadinya ya ke Jakarta mburuh atau TKI
    _______________
    dari Bisik-bisik:Tampaknya, hubungan pemerintah dan jajarannya dengan masyarakat, perlu ditingkatkan terutama dalam hal pendidikan, pertanian dan lingkungan. iya kan?!

    Endang

    February 7, 2008 at 9:19 pm

  6. nasib…
    itulah yang dihadapai bangsa sekarang ini
    tapi ingat, nasib kita sendiri yang membuat…
    moga-moga pemerintah segera memperhatikan kaluu ada dua hal yang sekarang bersifat urgen untuk dilakukan: pelayanan kesehatan dan pendidikan yang baik dan terjangkau masyarakat!
    Kalau dua hal itu dicukupi, yakin deh Amerika aja yang negara besar bakal “keder” ngliat kita….
    Orang Indonesia itu sebenarnya cerdas-cerdas n kreatif (dari sononya)
    cuma agak (maaf) males
    termasuk aku sendiri he..he…
    Yang pasti orang hidup harus punya harapan
    yakinkan kalau pendidikan masih merupakan alat yang ampuh untuk merubah keadaan?
    _________________________
    dari Bisik-bisik: Sebenarnya tidak males, mereka (yang cerdas-cerdas), kehilangan semangat karena negeri ini sering tidak memerlukan mereka, iya kan?!

    alif

    July 26, 2008 at 10:57 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: