Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Gunung, Lembah, Hutan, Sungai dan Danau Cape Deh.. (1)

with 3 comments

Ketika saya masih duduk di sekolah dasar (SD), guru memberi tugas menggambar atau melukis, pastilah lebih banyak dari kami para murid, menggambar “Pemandangan”. Yaitu gambar dengan kombinasi gunung, lembah, hutan, sungai, sawah, dan danau, pokoknya salahdua atau salahtiga darinya. Mungkin karena kami orang kampung, sangat dekat dengan lingkungan sedemikian.  Dan, saya selalu bangga sebagai orang kampung.

Mudik tiga tahun terakhir, membuat saya sangat sedih, karena kampungku tidak seperti dulu lagi, yaitu gambaran kampung yang telah terpatri sejak SD itu.

Sungai kecil atau anak sungai yang dahulu mengalir dari bukit-bukit sudah kering, sungai besarpun kelihatan tidak bernafsu mengalir. Dahulu ia sangat energik dan bersemangat, membuat gelombang karena membentur batu-batu yang menantang diam kokoh ditempatnya, mereka bersendagurau.

Dahulu, burung suka hinggap di jalan aspal, juga hinggap berkicau di pohon pinggir jalan, kemudian terbang ketika mobil atau orang lewat, sekarang tidak lagi. Bahkan jalan rusak, bergelombang, kadang seperti kubangan.

Mengapa sungai sungai malas?!, mengapa burung tidak muncul lagi?!, mengapa jalan jalan rusak?!. Ternyata, pohon pohon sudah ditebangi, diangkut entah kemana, menggunakan mobil-truk yang melebihi kekuatan badan jalan, sehingga rusak. Selanjutnya, semua bukit dan gunung menjadi botak alias gundul, tidak dapat lagi menyimpan air, tidak ada lagi tempat sarang burung, tidak ada tempat hinggap sambil berkicau, suara binatang lainpun jarang kedengaran, kemana mereka?!.

Siapa gerangan penebang pohon itu?, apa hak mereka!!, bukankah pemerintah negeri ini menjaganya? bukankah pemerintah negeri ini merawat dan mengembangkannya?. Ternyata, pemerintah negeri ini memberi kuasa untuk menebangnya. Mengapa pemerintahku melakukannya? Mungkin…atau…?! atau…?! cape deh… !

____________

dari Bisik-bisik: Mungkin mereka sudah berusaha tetapi tidak mampu, begitu maksudnya, kali?!

Advertisements

Written by Singal

March 10, 2008 at 11:14 pm

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Aaaahhh… memang dunia sudah berubah, waktu SD rambutku masih lebat dan tumbuh subur, sekarang rambutku sudah putih dan mulai botak.
    Waktu SD desaku hanya berpenduduk 400 orang, sekarang sudah 4000 kepala.
    Waktu SD aku bisa menggambar pemandangan, tapi tidak bisa menjaga pemandangan tersebut dan guruku tidak mengajarkan cara memelihara pemandangan tersebut.
    Jadi memang capeeee deehhh…..
    ___________
    dari Bisik-bisik:
    Serba berabe, memelihara adalah sifat alami tetapi sekarang sudah berubah, begitu maksudnya kan?!

    emiko

    March 11, 2008 at 10:31 am

  2. Penduduk bertambah, tetapi tidak pernah pakai kayu gelondongan untuk memasak. Bahkan mereka membeli papan untuk membangun rumahnya dengan jumlah yang sangat terbatas, tidak pernah mencukur bukit. kadang beberapa diantara mereka (orang kampungku) menanam pohon di belakang rumahnya. Memang berubah…. semua berubah iya kan?! setuju!!! berubah. cape deh…

    Singal

    March 12, 2008 at 7:32 am

  3. Manusia memang tidak memahami makna lingkungan. Jadi, sepertinya manusia juga belum mampu memaknai hidupnya.
    Terimakasih atas komentarnya, pak.
    _____________________
    dari Bisik-bisik: Kita harus merehabilitasi hutan dan lingkungan yang telah rusak parah, iya kan?! dengan serius, begitu maksudnya kan?!

    animusparagnos

    August 22, 2008 at 9:58 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: