Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Derap Langkah Dan Demokrasi

with 21 comments

Derap langkah, serempak dalam satu barisan, tentunya menghasilkan kepuasan pada semua pihak, baik pelaku, penonton apalagi pemimpin barisannya. Berjalan dengan pasti ke tujuan yang telah ditentukan, kiri kanan, kiri kanan. Demokrasi, menurut saya adalah cermin bagi derap langkah kita, mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan menghormati semua pihak, hasilnya ialah, aman, senang dan bahagia untuk semua orang. Semua orang berhak mendapat hasil itu.

 “In the name of democracy” kata presiden John Fitzgerald Kennedy yang terkenal itu, juga “And so, my fellow Americans: ask not what your country can do for you-ask what you can do for your country, satukan barisan, satukan langkah. “I have a dream” seru Martin Luther King, Jr, “Berdiri diatas kaki sendiri” ujar Sukarno, presiden pertama republik Indonesia, “Melompat jauh ke depan” ajak Mao pada rakyatnya di negeri Cina, semua dalam nama “demokrasi model mereka” menyatukan derap langkah untuk mencapai tujuan secara bersama. Tujuannya jelas!, dilaksanakan dan dinyatakan dengan serempak.

Saat ini, di negeri tercinta, gaung demokrasi bergema sangat hebat. Saking hebatnya, gemanya hilir mudik bersahut sahutan, semua orang berkata “demi demokrasi” mendirikan partai, semua ingin jadi pemimpin termasuk aktor dan artis, beberapa diantara mereka berhasil. Sayang, kompetensi hampir tidak berlaku. Demi demokrasi, “apa untukku” seolah itu yang terjadi. Sementara itu, bagi yang tidak bisa berteriak, dengan berbagai alasan dan sebab, hanya bisa menonton atau membawa bendera saja, hidup…, hidup…. lalu kembali dengan airliur yang pahit.

Kita boleh berdagang, dimanapun asal ada tempat, di tepi jalan yang semrawut, di garasi rumah, atau di depan kantor, kita boleh jadi supir angkutan kota, berhenti disebarang tempat menunggu penumpang, kita boleh menggali pinggir jalan untuk proyek tertentu, kemudian menimbun dengan asal-asalan, bahkan kita boleh berkoar-koar untuk hak tertentu, namun tampaknya semua ini bukan demi demokrasi. Untuk asap dapur, asap yang tidak menganggu dalam realitanya.

“Fajar menyingsing hari mulai terang, burung bersiul girang terbang terbang, bangunlah bangunlah, bangunlah hai teman, marilah keluarlah, ikutlah genderang…” bunyi salah satu bait lagu, yang kami nyanyikan setiap pagi ketika SMP, belajar dengan semangat, satu derap, hormat kepada guru demi ilmu, demi masa depan, demi tujuan (demokrasi, defenisi saya) yang teratur dan berbudi pekerti, dan “tabu mengganggu”.

Demi demokrasi, mari kita satu derap langkah, biarlah kita berdampingan, biarlah kita bebas berbicara, biarlah kita bebas bekerja, dengan damai, aman tujuan kita bersama.

Advertisements

Written by Singal

April 10, 2008 at 3:26 pm

21 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Demokrasi adalah,,,,, kalau artis cantik, aktor ganteng dan pelawak jadi anggota DPR,,
    Demokrasi adalah,,,,, kalau artis terkenal jadi calon Bupati/Gubernur
    Demokrasi adalah,,,,, kalau si Doel jadi Wakil Bupati

    Demokrasi adalah,,,,, kalau anggota KY ditangkap KPK…
    Demokrasi adalah,,,,, kalau HAKIM ditangkap KPK…
    Demokrasi adalah ,,,, kalau JAKSA ditangkap KPK,..
    Demokrasi adalah,,,,, kalau anggota DPR ditangkap KPK,,

    ,,,,, Kalau KPK menangkap KPK,,,,, (Jeruk makan Jeruk)..,,,,
    ——Tamatlah Sudah ! —

    MdRS

    April 11, 2008 at 10:26 am

  2. Demokrasi digunakan untuk mengatur suatu negara agar semua kepentingan masyarakatnya terakomodir. Yaitu hidup tenang, tentram, dan bahagia.

    Irwanto

    April 11, 2008 at 10:43 am

  3. Setuju pak..! “menyatukan derap langkah, demi demokrasi dalam kehidupan yg selalu berdampingan untuk mencapai tujuan bangsa”.
    -dalam menjalankan Demokrasi kedepankan akal fikir yang sehat

    pendowo

    April 11, 2008 at 1:24 pm

  4. biacara ttg bdemokrasi, saya jadi ingat pernyataan para pakar bahwa selama ini kita masih harus terus belajar ttg demokrasi. ketika era reformasi mengegelinding, demokrasi menjasi sebuah idiom yang lantang diucapkan di berbagai mimbar dan seminar. namun, kenyataan yang terjadi sungguh di luar dugaan. atas nama demokrasi seringkali mereka melakukan segala macam cara utk mencapai tujuan, asalkan didukung banyak orang yang kebetulan punya pendapat yang sama. wah, repot banget, pak. kalau kita masih harus terus belajar demokrasi, kapan lulusnya, yak?

    Sawali Tuhusetya

    April 11, 2008 at 8:44 pm

  5. Untuk Yth:
    MdRS, Irwanto, pendowo dan Sawali Tuhusetya
    Yang membuat saya khawatir, kalau suatu ketika para bandit mempunyai massa lebih banyak, maka negeri ini berubah menjadi negeri bandit, iya kan pak!, selama pendidikan dalam negeri ini diabaikan, karena makin mahal dan makin sulit untuk menjadi pintar, maka “mass oriented” untuk mencapai tujuan masih berlaku karena makin bodohnya kita.

    Singal

    April 12, 2008 at 9:57 am

  6. Buat saya, demokrasi bukan berarti melanggar hak2 orang lain atau main paksa dengan kekerasan guna memaksakan kehendak golongan2 tertentu. Demokrasi juga berarti kita harus menerima sesuatu yang menjadi keinginan orang banyak walaupun itu tidak sesuai dengan kehendak kita (dengan proses demokrasi yang benar tentu saja!).
    ____________________
    Benar pak Yari NK, demokrasi yang diterima secara bersama dengan damai dan selanjutnya tujuan atau cita-cita yang kita inginkan kita lakukan dan nyatakan secara bersama pula. iya kan pak!

    Yari NK

    April 13, 2008 at 7:32 am

  7. demokrasi adalah harmoni antara pemimpin dan yang dipimpin
    mari kita bangun bersama harmoni itu tanpa melihat perbedaaan
    _____________
    Artinya, pemimpin harus dekat dan menyatu serta satu perasaan dengan yang dipimpinnya, iya kan pak!

    realylife

    April 13, 2008 at 5:54 pm

  8. mudah-mudahan demokrasi ini tetap terjaga 🙂
    ______________
    Para penjaganya perlu derap langkah yang sama, iya kan?!

    Febra

    April 14, 2008 at 4:45 am

  9. Yang paling enak kalau demokrasi bareng harmoni. Tetapi kita orang punya bangsa demokrasi sama dengan bebas demonstrasi. Ada demonstrasi jalanan, ada demonstrasi gagasan pribadi, suara sana gema sini, suara sini gema sana. Bersahutan tapi tak harmoni. Yang paling bikin harmoni adalah tebar pesona. Dan presiden kita yang seniman karang lagu pasti tahu membuat harmoni nada. Kaya lagu ninabobo emak sambil mendorong ayunan. Tidur sayang, tidur nak.
    Masak gitu bilang harmoni. Ngeledek juga. Salam kenal buat tuan rumah. Dan titip salam buat penebar pesona sabar. Biar kita semua harmoni dalam kesabaran menunggu kapan bisa keluar dari himpitan. Yang sabar disayang Allah. Kapan dan bagaimana bisa menjeritkan perihnya himpitan. Sabar… kita harus membangun keselarasan nada. Harmoni.
    ____________________
    Memang pak, memadukan nada untuk menciptakan harmoni kita memerlukan “aranger” kemudian memainkannya dalam simfoni yang satu padu diperlukan dirigen. Dirigen yang tegas mampu menghukum dan menghentikan, yang membunyikan suara atau nada fals. iya kan?!.

    atakeo

    April 14, 2008 at 12:53 pm

  10. Demokrasi…
    seperti sebuah tugas yg tak kunjung selesai
    seperti sebuah mimpi ttg negeri dongeng

    Biarlah,
    aku belum bosan mengerjakan tugas
    aku juga masih senang bermimpi
    ________________
    semoga mimpi bapak menjadi kenyataan. Kadang kita mimpi menjadi orang kaya, mempunyai segalagalanya, dengan mudah mendapat apapun yang kita inginkan. Apa daya, begitu kita bangun ternyata tukang tagih sedang menunggu kita. he he he… iya kan?!

    RhyzQ

    April 14, 2008 at 3:54 pm

  11. postingan yang hebat
    nah ini baru berisi 🙂
    _______________
    terimakasih pak.

    achoey sang khilaf

    April 14, 2008 at 8:08 pm

  12. Dalam baris-berbaris, semua akan terlihat indah jika aba-aba yang diberikan komandan dilakukan secara serempak dengan gerakan yang benar…. Satu saja anggota barisan tidak seirama, akan mengganggu kekompakan barisan dan menjadi tidak indah dipandang…apalagi kalau penterjemahan aba-aba dari komandan bisa berbeda, bisa kacau barisan…

    Kalo anggota barisan yang keliru hanya satu, ganti segera dengan yang baru agar tidak menggangu yang lain….tapi jika yang keliru menterjemahkan aba-aba komandan lebih dari satu …mungkin yang perlu diganti komandannya…. Itukan demokrasi yang bapak maksud???
    _______________
    Benar, komandan yang keliru menerjemahkan, harus mengundurkan diri, dengan penuh tanggung jawab. Dan kita sangat menghormatinya, iya kan pak?!

    AS-E2

    April 15, 2008 at 9:17 am

  13. Agar demokrasi kita membuahkan hasil yang baik, maka seluruh anak bangsa yang cerdas mempunyai kompetensi , keahlian sebaiknya masuk menjadi anggota partai politik, agar dpr menjadi lebih berkualitas, kabinet menjadi berkualitas, kepala daerah juga berkualitas.
    _______________
    mimpi yang bagus pak, dengan penuh kesadaran kita lakukan. namun “kita” itu siapa?, he he he. negeri ini penuh jalan pintas…. iyakan?!

    indra tjahja

    April 15, 2008 at 11:02 am

  14. sepertinya kita perlu dijajah lagi de pak…
    biar ada yang ngajarin cara demokrasi yang bener.

    Eh, tapi kalo penjajah ngajarin bangsa jajahannya demokrasi, bisa2 yang terjadi adalah demokrasi yang keblablasan, secara bangsa jajahannya sudah “merasa” bahwa mereka dijajah dan mereka ingin bebas dari belenggu penjajah…lha wong mereka uda merasa “pinter”.

    Eh, lagi, bukannya itu yang sedang melanda negeri kita sekarang pak? demokrasi yang keblablasan!?
    Trus, sapa dunk yang sekarang sedang njajah bangsa ini!?

    Hehe, maaf pak kalo terlalu panjang dan brangkali gak nyambung 😀
    it’s just a thought…
    ____________________
    saat ini, negeri ini dijajah orang pinter yang sudah pernah terjajah, begitu maksudnya kan?!

    ashardi

    April 16, 2008 at 12:00 am

  15. Yang berkembang di kita ini Demo-CRAZY…makanya bising sekali.

    Horas
    Tetap semangat!
    ___________________
    Penyakit negeri ini, tidak mengakui ketangkasan dan menghormati kemenangan orang lain, begitu maksudnya kan?!

    Robert Manurung

    April 16, 2008 at 10:42 am

  16. Harmoni adalah salah satu syarat utama berjalannya demokrasi, ibaratnya pada suatu paduan suara, tanpa adanya suara yang ” sumbang” ( fals ) dan suara yg “dominan” , shg terciptalah paduan suara yang padu ( blending ) yang selaras dan seimbang, enak didengar. Seandainya paduan suara itu didampingi ” musik pengiring ” atau paduan suara itu menjadi ” penyanyi latar ” dari penyanyi solo atau duet, akan tetap enak didengar apabila diantara mereka ( pemain musik, penyanyi solo / duet dan para anggota paduan suara ) menjalin hubungan yang harmonis ” tidak saling mendominasi ” dan menuruti instruksi dari dirigen. Hubungan harmonis diantara mereka hanya dapat terjadi apabila mereka ” mau mendengar suara dari anggota yang lain ” ( pendengar yang baik ), jadi bukan agar suaranya didengar anggota yang lain. Disamping itu mereka harus menaati ( patuh ) terhadap apa yang tertulis di ” partitur ” ( buku nyanyian ) yang telah disusun seorang ” arranger “.
    Bisa dibayangkan apa yang terjadi apabila mereka tidak taat pada partitur, dirigen memimpin dengan selera sendiri ( tidak patuh pada partitur ), anggota paduan suara tidak memperhatikan/mendengar suara kawannya karena merasa suaranya bagus harus bisa didengar orang lain dlsb. Saya pikir inilah yang terjadi pada demokrasi kita sekarang ini, banyak orang tidak perlu lagi melihat partitur, banyak orang ingin suaranya didengar dan banyak orang merasa bisa menjadi dirigen atau lebih pintar dari dirigen.
    __________________
    Ketika sambil bernyanyi, kita harus mendengar suara teman, dan menyesuaikannya sehingga harmoni berkumandang dengan baik dan enak didengar, hasil pimpinan dirigen yang mengingatkan sesuai partitur, yang telah disusun oleh Aranger iya kan Pak?!. Negeri ini tampaknya perlu dirigen yang tegas, dan aranger yang pintar dan berbudi pekerti, begitu maksudnya kan Pak?!

    Olanto

    April 17, 2008 at 4:58 pm

  17. Kalau kuhitung Pemda tingkat kota dan Kab jumlahnya di INA ada sekitar 300 lokasi, artinya PILKADAL… (karena pemainnya KADAL)… bisa kita jadwalkan setiap hari sekali, bila dilakukan pada tahun yang sama… lumayan lah memperkaya pengusaha sablon, kaos, poster dan tentunya suporters.
    Bila kuhitung biayanya yang ke KPUD 10 milyar tiap PILKADAL, maka… kalkulatorku langsung rusak… bener2 negara kita ini negara super KAYA… ha ha ha ha ha
    Maka sedelapan lah aku dengan DemoCRAZY ini… lumayan kan dapat julukan negara Super Kaya…
    _________________
    Negeri ini harus menciptakan kalkulator baru, iya kan!

    emiko

    April 18, 2008 at 2:42 pm

  18. atas nama demokrasi, mari kita serang vietnam….
    atas nama demokrasi, mari kita bunuh saddam husein dan benazir bhutto
    atas nama demokrasi, mari kita perangi Somalia
    atas nama demokrasi, mari kita tangkap Fidel Castro
    atas nama demokrasi, mari kita rusuhi timor timur
    atas nama demokrasi………………….perang dan darah di mana-mana
    atas nama demokrasi……siapa?

    salam dari medan
    nirwan
    _______________
    Salam juga, demokrasi sendiri kali, he he he iya kan pak?!

    nirwan

    April 18, 2008 at 2:57 pm

  19. demokrasi merupakan perjuangan panjang rakyat indonesia
    ________________
    Mari kita bangun masa depan negeri tercinta, yang aman dan sentosa, dan kita akan tersenyum melihat anak cucu kita dari surga… iya kan pak?!

    hanggadamai

    April 21, 2008 at 1:54 am

  20. Kata orang pintar sih, pilar demokrasi itu diantaranya adalah Partai Politik dan Pers yang bebas. Namun, mengenai parpol saya pernah mendengar guyonan kawan, katanya hubungan Parpol dengan Konstituen seperti Sapi dengan rumput. Ada masanya rumput tersebut dicium dan dielus, hal ini biasanya menjelang dan pada masa kampanye. Dan setelah menang pemilu dan sudah mendapat kursi empuk di senayan si rumput kalau perlu dimakan, dikunyah bahkan tidak jarang diinjak injak dan dikencingi…….. ya… baru sampai disitulah demokrasi kita dan masih jauh dari tujuan yang kita inginkan, jadi untuk bisa accelarasi memang butuh pendidikan yang membangun jiwa dan akal sehat. Semoga..
    ___________________________
    dari Bisik-bisik: iya semoga pak, demokrasi dapat dilaksanakan dengan penuh kemerdekaan dan kebebasan, untuk menuju cita-cita yang berbudi luhur, begitu maksudnya kan pak?!
    ___________________

    Romeo

    April 23, 2008 at 2:16 pm

  21. Demokrasi akan berjalan bila: pemerintah selain berani berkata “ask not what your country can do for you-ask what you can do for your country”, juga harus berani berkata sebaliknya: “ask not what your people can do for you-ask what you can do for your people.
    __________________
    dari Bisik-bisik: semoga tidak janji manis, iya kan?

    hh

    August 1, 2008 at 8:13 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: