Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Sudut Pandang Dan Guru

with 15 comments

Sudut pandang yang berbeda dari suatu obyek, sangat disukai dan selalu dikerjakan oleh arsitek, juga juru-foto atau fotografer , baik kelas amatir ataupun professional. Hasilnya diberitahu kepada kita, mana yang bagus dan indah dan sebaliknya. Mereka kerja keras untuk mendapat hasil itu, mereka kerja keras meyakinkan kita. Kalau kita tidak suka, mereka bertanya, dan memosisikan dirinya dari sudut pandang kita sendiri, demi kepuasan bersama. mereka satu sama lain menjadi guru.

Di negeri tercinta, sudut pandang yang berbeda tentang suatu hal, juga sering terjadi. Antara pemerintah dengan rakyat, antara partai, antara masyarakat, bahkan antara mereka sendiri. Bisa menjadi persoalan antara satu sama lain. Biasanya, persoalan itu pun kadang-kadang tumbuh dengan hiruk pikuk, sambil menyatakan “saya paling benar”, ibarat kumpulan anak kecil, yang berasal dari lokasi atau penjuru yang berbeda dari lereng-lereng sebuah gunung. Mereka berkumpul berdebat tentang bentuknya. Yang satu mengatakan, “bentuknya seperti, kerucut dan curam” yang lainnya membantah, menyatakan “bentuknya seperti, batok kelapa tetapi landai” mereka semua benar. Lalu guru datang, memosisikan dirinya dan menjelaskannya, kemudian mereka mengerti. Di negeri tercintapun guru sangat banyak.

Guru, dapat menjelaskan sesuatu obyek dari sudut pandang yang berbeda, berguna bagi kita, dan kita mengerti, sang guru memang harus pintar dan tegas berwibawa. Ada juga guru yang pintar tetapi tidak bisa menjelaskan dan memosisikan dirinya. Lalu, kalau murid tidak mengerti, sang guru malah marah, apalagi kalau ada diantara mereka yang mengantuk, makin besar marahnya, sampai semua murid ketakutan untuk sesuatu yang mereka tidak mengerti. Dengan muka merah padam, “kalian kalau mengantuk, jangan datang kesekolah, orangtua kalian sudah capek bekerja, untuk menyekolahkanmu!”. Bah…buruk muka cermin dibelah.

Don’t loose your audience“, “buat mereka menyimak”, kata guru mengingatkan kita, ketika kita akan menjelaskan sesuatu, apalagi yang kita jelaskan adalah, sesuatu yang pasti dari sudut pandang kita. Meski susah karena sifat, karakter dan budaya orang berbeda-beda, tetapi kita tetap bisa menjadi satu pandang, “Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa”, kata pemuda-pemudi kita tahun1928, “Bhineka Tunggal Ika” kata Gajah Mada, mereka adalah guru yang baik. Pantang menyerah ujar guru kepada muridnya, belajar, maju dan raih ilmu setinggi tinginya, buat semua orang bahagia,  orangtuamu, saudaramu, temanmu dan negerimu tercinta.

_______________

Dari bisik-bisik: berbeda sudut pandangkan indah dan berdinamika, iya kan!, tinggal bagaimana kita menerima, dan mengertinya begitu kan?!

Advertisements

Written by Singal

April 21, 2008 at 3:11 pm

15 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Salam kenal, postingan yang menarik, senang membaca blog ini. Majulah guru Indonesia…
    ________________
    dari Bisik-bisik: Salam kenal juga pak, saatnya guru dihargai dan dihormati begitu maksudnya kan pak?!

    pakarfisika

    April 21, 2008 at 5:15 pm

  2. blog walking, selamat datang pak guru di dunia ini …

    tulisannya mantap punya …
    _______________
    dar Bisik-bisik: Guru kita, maju terus…, kenyataannya yang sangat pahit… meski tetap maju, setiap pertengahan bulan, guruku mengeluh.. negeriku tidak melupakan jerih payah mereka, tetapi melupakan kesejahteraannya, iya kan?! Semoga negeriku memperhatikannya… dan menyatakannya. Begitu maksudnya kan?!

    rudyhilkya

    April 21, 2008 at 10:22 pm

  3. seperti kata iwan fals; tak ada guru ya tak ada habibie. mungkin juga tak ada soekarno, tak ada SBY pula, tak ada kita.
    _______________
    dari Bisik-bisik: Lupa kacang akan kulitnya, begitu kan maksudnya?!

    rezco

    April 21, 2008 at 10:31 pm

  4. waw postingan yg menarik nih pak…
    ____________________
    dari Bisik-bisik: Saatnya kita mulai melihat masa depan, pendidikan… pendidikan adalah hak semua anak bangsa.. iya kan?!

    hanggadamai

    April 22, 2008 at 7:51 am

  5. kadang manusia lupa apa yang menjadikan sebab akibat dari kehidupan manusia itu sendiri adalah guru, atau proses pembelajaran dari setiap kejadian yg dihadapi oleh manusia,..proses pembelajarannya itu adalah guru (guru yg tak ternilai harganya)
    Nah yang menjadi masalah adalh “sosok”, bagaimana nasib saudara kita yang menjadi guru di pelosok atau tempat-tempat yang jauh dari perkotaan (yg gegap gempita dengan irama politik, promosi calon ini, itu..lah) sementara mereka menghadapi irama2 keterlambatan gaji… ironis ..ya
    ____________________
    dari Bisik-bisik: Kata pemimpin negeri ini, dengan penuh semangat dan basa-basi, “mereka…, para guru…, adalah pahlawan tak dikenal”, lalu kemudian dilupakan… begitu maksudnya iya kan?!

    pendowo

    April 22, 2008 at 11:29 am

  6. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://www.infogue.com/pendidikan/sudut_pandang_dan_guru/
    ________________
    dari Bisik-bisik: Terimakasih, kita harus saling membagi sesuatu yang baik, begitu maksudnya kan?!

    kaito724

    April 22, 2008 at 1:10 pm

  7. ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’
    Mengapa sampai guru kencing berdiri???
    Jawabnya ada pada rumput yang bergoyang…..

    ‘Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa’
    Mengapa sulit memberi tanda jasa???
    Jawabnya ada pada bintang di langit…..

    Di negri tercinta guru sangat banyak…
    Mengapa masih terasa kekurangan guru???
    Jawabnya ada di hati kita masing2…..

    Guru-guru yang terhormat
    Aku bangga dan sayang padamu…..
    _________________
    dari Bisik-bisik: iya, guru, harus kita hormati!! begitu maksudnya kan?!

    AS-E2

    April 22, 2008 at 5:04 pm

  8. “Don’t loose your audience“,

    Mungkin maksudnya “lose” bukan loose.
    Kalau loose (adjective) artinya longgar, lawan dari “tight” (ketat).
    Kalau di sini saya rasa yang tepat adalah “lose” (verb) yang artinya kehilangan, kalah atau menyalahkan. Atau kalau mau kata lain saya rasa kata “blame” lebih tepat.

    Salam, Pak.
    ___________________
    dari Bisik-bisik: iya pak, terimakasih, begitulah kita saling mengingatkan untuk kebenaran, iya kan pak!
    Salam.

    heryazwan

    April 22, 2008 at 5:42 pm

  9. Guru, “digugu lan diitiru” (dipercaya dan diteladani). kata2 itu agaknya klise, ya, pak. tapi justru lantaran klisenya itu, ideiom semacam itu jadi tdk mudah diterapkan ketika dinamika zaman sdh demikian jauh memuja hal2 yang bersifat materialistis dan hedonis. guru jufa seringkali tdk mudah mengendalikan emosinya ketika mengajar bisa jadi lantaran sdh demikian jauh terpengaruh kepada isme2 posmo itu *halah* sehingga tdk bisa konsentrasi ketika mengajar. sudut pandang murid2 mesti harus sama dg sudut pandang gurunya. wah bisa repot tuh pak singal, hehehehe :mrgreen:
    ________________
    dari Bisik-bisik: he he he, paling tidak guru mengerti sudut pandang muridnya dan mengarahkanya pada imajinasi dan cita-citanya, iya kan!, lalu gaji guru harus besar, yang paling besar menurutku adalah gaji guru taman-Kanak-kanak, lalu gaji Guru SD dan seterusnya…, mereka telah capek menanam benih pengetahuan, dan negeri ini tinggal memanen. begitu maksudnya pak!
    Kalau aku presiden, akan kulaksanakan ini… he he he

    Sawali Tuhusetya

    April 22, 2008 at 10:18 pm

  10. Perbedaan sudut pandang adalah gambaran kemajemukan, artinya lensa yang berbeda diopterinya akan mengahasilkan bayangan yang berbeda dan disitulah mestinya guru berdiri untuk menjelaskannya. Sayang…… untuk itu banyak energi dan biaya yang diperlukan dan itulah yang kurang kita berikan kepada guru.
    _____________________
    dar Bisik-bisik:Negeri ini sudah lama mengabaikan keberadaan guru dari sisi kesejahterannya, begitu maksudnya kan pak?!

    Romeo

    April 23, 2008 at 1:50 pm

  11. “Ada juga guru yang pintar tetapi tidak bisa menjelaskan dan memosisikan dirinya. Lalu, kalau murid tidak mengerti, sang guru malah marah, apalagi kalau ada diantara mereka yang mengantuk, makin besar marahnya, sampai semua murid ketakutan untuk sesuatu yang mereka tidak mengerti. Dengan muka merah padam, “kalian kalau mengantuk, jangan datang kesekolah, orangtua kalian sudah capek bekerja, untuk menyekolahkanmu!”. Bah…buruk muka cermin dibelah.
    Apakah ini yang terjadi di negeri ANTAH BERANTAH===.. Antara tumenggung yang ngantuk di depan sang baginda
    ________________
    dari Bisik-bisik: Jatuh jarum kesemak-semak, tidak dilihat mata tetapi dilihat hati, begitu maksudnya kan?!

    Rudy Sihombing

    April 25, 2008 at 2:49 pm

  12. Barangkali zaman sudah berubah, pada era tahun 1955 s/d 1970 posisi guru adalah orang yg dihormati, saya masih ingat kalau kita jumpa dgn guru kita dari jauh kita sudah hormat ” selamat pagi engku ” ( istilah didesa saya ). Akan tetapi setelah 1970 wibawa guru mulai merosot, barangkali ” nilai yg ada di masyarakat” juga berobah, karena umumnya masyarakat kita cenderung menilai seseorang dengan ” apa yang dipunyai ” bukan lagi ” apa isi otaknya “. Makin lama pendapan guru semakin berkurang oleh karena struktur gaji tidak mendukung, sehingga guru cenderung mencari tambahan penghasilan Jadi nggak usah heran apabila murid zaman sekarang juga tidak respek kepada gurunya. Bayangkan saja para guru tidak punya waktu apalagi dana untuk meningkatkan kompetensinya sedang ilmu terus berkembang.Padahal itu sangat dibutuhkan untuk menjaga kredibilitasnya sebagai guru. ( guru adalah tempat bertanya )
    Kita lupa guru itu juga manusia yang punya kebutuhan, maka sangat memprihatinkan apabila sampai ada debat di DPR tentang ” gaji guru ” dimasukkan dalam pos anggaran pendidikan ( yg direncanakan akan naik menjadi 20% dari total anggaran ), yang semula gaji guru masuk di pos gaji dan upah pegawai. Dan tragisnya dari dulu masalah guru ini sudah sudah menjadi wacana dengan scope nasional, akan tetapi sampai sekarang belum ada realisasi, malahan guru dibebani lagi dengan program akreditasi. Itulah kebiasaan di negeri kita ini, kalau sudah wacana sudah dianggap menyelesaikan masalah.
    _________________
    dari Bisik-bisik: Benar pak Olanto, guru ter-abaikan. Mereka harus bertahan untuk mencukupi biya hidup, akibatnya terpaksa tatap muka dengan muridnya berkurang. iya kan?!, mudah-mudahan penguasa negeri, menaikkan gaji mereka, memperhatikan hidup mereka, begitu kan pak?!

    Olanto

    April 29, 2008 at 10:56 am

  13. beneran deh, guru itu memang bisa jadi inspirasi buat muridnya lho….
    __________________
    dari Bisik-bisik: mengamalkan ilmu tambah pintar…..iya kan?!

    fuad syamee

    May 17, 2008 at 1:24 pm

  14. Guru, pahlawan tanpa tanda jasa..
    gini2 saya juga guru loh, masih dalam taraf belajar untuk menjadi guru yang baik.. 🙂
    semoga kesejahteraan guru dapat menjadi lebih baik..amin
    salam kenal pak Singal 🙂
    _______________________
    Dari Bisik-bisik: Salam kenal Mbak Retno!, Hebat maju terus Mbak. Guru harus mendapat perhatian lebih baik, iya kan?! saya juga selama 30 tahun berdiri didepan kelas setiap senin dan kamis kadang sabtu, namun sdh dua tahun ini tidak lagi. berat jadi guru!!!he..he..he..

    Retno Damayanthi

    June 2, 2008 at 10:20 am

  15. aku kagum dengan guru (digugu lan ditiru), asal jangan yang guru (wagu tur saru).
    tak tahulah aku yang di medan…
    Pak Guru Singal, ajari muridmu ini ya…. yang sering kurang ajar.
    ____________________
    dari Bisik-bisik: Kita boleh selesai sekolah tetapi belajar tidak, iya kan pak?!

    h a b i b

    June 6, 2008 at 11:22 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: