Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Some (one/thing) behind!

with 13 comments

Fiksi.

Rambutnya sudah beruban, pipi dan dahinya memerah berkilat diterpa matahari sore, dari puncak gunung itu, dia tidak bosan memandang ke sekeliling lembah, ke arah utara lalu berputar ke selatan, mengangkat tangan keatas dahi mencegah silau, menghubungkan seluruh bukit kehijauan dan gunung kebiruan yang melingkari lembah itu.

Tidak ada rasa penat, tadi pagi bangun pukul 2.00, pukul 4.00 check-in di bandara Sukarno Hatta, take-off pukul 6.00, naik mobil sewa sejauh 300 km lebih dari Medan, istrahat makan siang di tepi danau Toba Parapat, sekarang hampir pukul 4.00 sore, dia berdiri di puncak gunung ini. Mobil tua yang meraung-raung mendaki jalan tebing terjal berbatu batu mengantarnya kesini. Setengah jam yang lalu setelah turun dari mobil sewa, dia masih minum kopi di salah satu lapo di kaki bukit ini.

Lembah…, sawah yang menguning bergelombang ditiup angin bak ombak laut, terbelah menjadi beberapa bagian, diiris jalan yang tampak menjadi garis hitam kehijauan, menghubungkan kampung-kampung dengan jalan besar, membentuk rangkaian simpul terhubung satu sama lain. Kampung berbagai berbentuk!. Bentuk persegi tidak beraturan,… bentuk bulat,… dan selalu dikelilingi pohon dan bambu. Di dalamnya deretan rumah beratap seng tampak sebesar kotak korek api. Cahaya matahari kadang muncul dari atap seng melalui celah daun pohon yang bergoyang ditiup angin. Sekali-sekali gumpalan debu beterbangan bergulung gulung mengejar mobil menyusuri garis hitam itu menuju jalan besar. “hmm… setiap pagi, jalan besar itu penuh anak sekolah, jalan kaki menembus kabut yang membatasi pandangan dua sampai tiga meter” dia bergumam.

Dua sungai besar mengalir memberi kesuburan pada lembah itu, memberi batas barat, tengah dan timur, yang tidak penah tercatum di ampolop surat pos. Bertemu di suatu tempat, lalu bergerak menuju ke selatan mengejar nun jauh disana…lautan Hindia. “Lembah yang indah dan subur…, kota sekolah…Medan…Jakarta..Indonesia…kota dan lembah yang ada di dunia..dunia makin sempit,…” pikirannya mencampur semua kejadian, dulu, saat ini dan masa datang, lebih cepat dari komputer apapun. Lalu dia berbalik memanggul ransel kesukaannya, melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan sambil menenteng sekotak besar rokok. Ya!, sekotak besar…meski dia tidak pernah merokok.

“Saya harus cepat, tiga bukit lagi harus kulewati…..satu setengah atau dua jam naik turun, lalu mandi di pancuran”. Perasaan menyenangkan mengalahkan kelelahannya, menimbulkan semangat masa mudanya, membayangkan pancuran bambu, airnya jernih keluar dari celah batu yang terbenam di pinggang bukit, terletak tidak jauh, sebelum kampungnya. “bundaran pelangi kecil, akan muncul didepanku bersamaan dengan jatuhnya percikan air pancuran dari kepalaku, dilukis sinar matahari sore. Tetapi hari ini tidak, matahari sudah terbenam saat saya tiba…aah..masih ada hari esok!” pikirannya penuh, serempak dengan langkahnya yang panjang di jalan antara bukit, jurang dan lembah kecil yang ditumbuhi semak, ilalang bercampur dengan pohon-pohon kecil-kecil. Haramonting, sanduduk, motung, tandiang, antunu dan buar-buar, kadang diselingi hau umbang, tambissu, dan sepang. Tiupan angin memaksa pohon dan ilalang berdesir, daun-daunan melambai-lambai disertai suara binatang dan kepakan burung ikut menyambut kehadirannya.

“Mana mungkin baik!…akhir tahun lalu para pabrikan mobil, motor beserta agennya mengumumkan keuntungan dan kenaikan jumlah penjualan, Jasa Marga juga untung, pabrik semen untung…. penghasilan pajak kendaraan…”, tiba-tiba muncul dipikirannya, tadi pagi dia ke bandara melewati banyak polisi tidur, berlubang menyakiti ban mobil, lalu masuk ke jalan besar. Jalan tol menuju bandara sudah mulai padat. Di bandara, hanya satu pintu yang terbuka, orang beringsut mengangkat tangannya ke dada melindungi tubuhnya dari antrian yang berdesakan. Pandangan mata dingin petugas seolah tanpa perasaan, gajinya mungkin kecil, sementara dua temannya asyik ngobrol tidak peduli. “Mana mungkin pelayanan publik yang baik, mana mungkin ada mass transport…. !! omong kosong…rugiii!!. Tiang-tiang mono-rail terbengkalai, bahkan sudah memakan korban mobil dan manusia”.

“Mana mungkin baik!!…., danau toba tetap saja mengecil….hutan tetap saja gundul, meski pabrik pulp kertas telah menyatakan pabriknya tidak mengganggu lingkungan,….permukaan danau toba tetap saja dibiarkan jelek dan bau, karena keramba ikan nila terutama di Parapat berpartisipasi meningkatkan nilai ekspor…”. Terbayang kesialannya terjebak dibelakang mobil truk, penuh kayu menggunung, menakutkan ketika jalan menikung, miring hampir terbalik. Mengakibatkan antrian panjang, mereka parkir dipinggir jalan entah apa sebabnya. Truk-truk itu juga harus melewati jembatan timbang. Lepas dari antrian membuat mobil mobil lari kencang, seolah dikejar hantu yang tak pernah menampakkan dirinya. Maka dia lebih sibuk berdoa daripada menikmati perjalanan, dia lebih sering memasukkan jantungnya yang sering terasa copot…sungguh nyawa hampir tak berharga…tidak ada speed limit.

Terdengar suara pancuran, tak terasa dia akan segera tiba, “bo..ni aek i.., bo..ni aeki!!” dia berteriak keras, dia heran tidak ada jawaban.. “pukul 6 lewat tidak ada orang?!”, biasanya saatnya banyak orang mandi..

Tubuhnya yang segar setelah mandi, menyesuaikan hawa dingin pegunungan. Dia melangkahkan kaki melewati gerbang kampung, cahaya lampu petromax dari lapo satu-satunya menerobos kegelapan menerangi jalan didepannya, hatinya sangat senang, terharu.., langkahnya makin panjang…suara riuh orangtua main catur dan nyanyian pemuda diiringi gitarnya, terdengar sayup-sayup, makin jelas makin kencang… dan “horas!!”
“horas!!…” semua orang menatapnya penuh tanda tanya.
“aku si Tigor…..!!” dia melihat sekeliling tidak ada satupun yang dikenalnya….

Tiba-tiba “bah…sudah pulang kau Tigor…”, seorang tua ubanan langsung memeluknya, “tigapuluh tahun cukup membuat generasi sudah berganti” katanya. “Berapa anakmu, kau sudah punya cucu?!, lihat aku, cucuku pun sudah mau nikah”, lanjutnya.

Tigor terhenyak dan terdiam sejenak, “Saya belum kawin, belum nikah…., tetapi semua anak-anakku, sudah selesai sekolah. Anak pungut!!, mereka banyak yang sudah berkeluarga, mereka tidak mengenal saya, dan saya tidak ingin mereka kenali, saya senang mereka sukses….hehehe..kau tau itu…..”

“Ah..kau itu, si Roma si gunung es itupun belum kawin..meski banyak pemuda yang melamarnya.., sudah tua dia itu..tetap saja cantik.. hehehe…cinta monyetmu itu..” sahut si orangtua temannya semasa sekolah, merekapun ngobrol sampai pagi.
__________________________
dari Bisik-bisik: Lapo: Warung atau kedai kopi/tuak, tempat orang berkumpul, minum, makan, main catur dan bernyanyi sering diiringi gitar.
Haramonting, baca [Haramotting]: sejenis tumbuhan liar setinggi pinggang orang dewasa, biasanya tumbuh di padang rumput dan steppa kadang disemak-semak, buahnya bulat sebesar ujung ibu jari orang dewasa, kalau sedang masak warnanya merah, rasanya manis dan enak dimakan.
Sanduduk [sadduduk]: sejenis tumbuhan liar setinggi pinggang orang dewasa, sering tumbuh berdampingan atau diselingi haramonting, daun bunga dan buahnya didominasi warna ungu. Buahnya bulat lonjong lebih kecil dari buah haramonting, rasanya sepat.
Motung: Sejenis pohon kecil, daunnya lebar dua warna, bagian bawah putih dan bagian atas hijau, tiupan angin seolah memberi lambaian dan bagus kelihatan.
Tandiang [taddiang]: Pakis
Antunu [attunu]: Sejenis pohon batangnya langsung bercabang, daunnya seperti pandan berduri lebih panjang, buahnya sebesar mangga dan kulitnya sperti buah nangka, tidak dimakan. Tumbuh di jurang kecil, kehadirannya menandakan kelembaban dan kemungkinan ada air.
Buar-buar: sejenis tumbuhan seperti rotan, besar tetapi kaku, jarang digunakan, ujungnya berduri.
Hau umbang [hau ubbang]: sejenis pohon tidak pernah atau jarang menjadi besar, tetapi banyak tumbuh dibukit, batangnya sering digunakan sebagai pagar.
Tambissu [tabbiccu]: sejenis pohon tak pernah atau jarang besar, seperti hau umbang, batangnya sering dipakai sebagai pagar. sejenis ulat suka daun tambissu ini, dapat dimakan.
Sepang: Sejenis pohon, batangnya lurus tidak bercabang, lunak dan ringan, dipakai sebagai bahan untuk membuat okulele dan gitar kualitas sedang.
Bo..ni aek i..: adalah kata normal yang harus diteriakkan ke pemandian kalau kita ingin lewat, atau mandi.

Advertisements

Written by Singal

December 10, 2008 at 9:29 pm

13 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. bagus sekali pak.
    saya jadi kangen sawah-sawah yang menguning. bermain berlari-lari di pematang mengejar layang-layang. tapi masa itu sudah lewat, peradaban berubah …
    (*saya ingin melukiskan itu seperti tulisan ini)
    ______________________________________
    dari Bisik-bisik:iya Mascayo!, peradaban berubah, lembah itu…, lembah sawah dan kampung itu…, kini penuh rumah.perkantoran dan kota, lingkungan telah berubah ya kan?!

    mascayo

    December 15, 2008 at 8:51 pm

  2. 30 thn meninggalkan kampung halaman ‘mungkin’ tanpa khabar, yah…pasti ada Some(one/thing) behind. *Pandangan mata dingin petugas seolah tanpa perasaan*, klo security Bandara maksudnya, yah..memang sdh diset sedemikian rupa krn menyangkut keamanan penerbangan bkn krn gajinya kecil..hahaha, tp klo sdh di counter check-in kan sdh wajah2 manis yg senyum.
    β€œbo..ni aek i.., bo..ni aeki!!”, jadi teringat siapa tahu ‘angka parsubangon’ (orang yang tabu, kalau kita berjumpa di pemandian) sedang ‘martapian’ (sedang mandi).Horas!
    ______________________________
    dari Bisik-bisik: iya Eston Hasian!, semoga layanan publik makin baik iya kan?!. Tabu kalau laki-laki, bertemu dengan ibu-ibu atau gadis di pemandian di Tapanuli begitu maksudnya kan?!

    Eston Hasian

    December 15, 2008 at 9:35 pm

  3. Bah… nggak usahlah raguLae…. tulis aja judulnya PANGLATU…. jadi ngeri perasaanku Bah…. kubayangkan diriku beberapa tahun lagi….he..he..he…
    BTW Nice Story…
    ___________________________
    dari Bisik-bisik: iya lae Michael!, ada waktunya lae, pasti ketemu jodoh, jangan “pilih-pilih tebu” kata orangtua, iya kan?! iya banyak PANGLATU yang banyak anak pungutnya….meski tidak kenal, sumbanglah sekolah-sekolah di kampung itu lae, berupa buku donal bebek, mickey mouse dan lain-lain. hehehe…

    michaelsiregar

    December 16, 2008 at 3:38 am

  4. wah, kapan ya bisa ke sana? makan di Medan, jalan2 ke D.Toba?
    _________________________
    dari Bisik-bisik: iya Nancy!, any time Nancy. Medan, D.Toba waiting for you. Feel the hospitality of every place and kampung. dont forget to visit all the mountain and forest.

    nancy

    December 16, 2008 at 8:19 am

  5. bah….jadi teringat aku
    saat mengemudikan mobil
    berkunjung ke Parapat dn TAPANULI
    pemandangan yg dilalui penuh
    panorama mempesona…..hmmmmm
    btw, mengapa pula si Tigor itu
    betah melajang, lbh parah pula
    dari Lae Michael Siregar
    mungkin dia cocok berjodoh
    dengan si Roma….hehehe
    horas…njuah njuah πŸ™‚

    _____________________________
    dari Bisik-bisik: iya bang Mikekono!, Kampung yang indah. hehehe..jangan pula lah sampai ke lae Michael, Lae Micahel namargait do bang Mikekono, sotung beha roham (Lae Michael! bang Mikekono, ingin lae cepat dapat jodoh)

    mikekono

    December 16, 2008 at 10:52 am

  6. hanya ingin mengucapkan; selamat malam,pak Singal.
    bagaimana khbrnya?
    ________________________________
    dari Bisik-bisik:iya bang Langitjiwa!, kabar baik bang, cuma dua bulan terakhir ini saya sangat sibuk, hampir overload, sehingga tidak sempat ngeblog, dan mengunjungi teman-teman.

    langitjiwa

    December 16, 2008 at 10:04 pm

  7. Apakah desa yang ditinggalkan 30 tahun lebih di Sumatera mengalami banyak kemajuan?
    ________________________
    dari Bisik-bisik: iya pak Indra!, Menurutku, “kemajuannya iya kemunduran” pak. Hutan gundul, sawah yang dilembah itu makin berkurang diganti dengan perumahan, sungaipun tampaknya makin malas mengalir. Namun, mungkin ukuran yang saya pakai relatif, iya kan?! ukuran PEMDA mungkin itu kemajuan.

    indra tjahja

    December 18, 2008 at 4:46 pm

  8. nice story…
    jadi kangen dengan suasana alam yang digambarkan amang…

    horas,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com
    _____________________________
    dari Bisik-bisik: iya bang Bonar!, sekali-sekali pulang kampung, buka pintu hati, maka akan menggerakkan sesuatu, dan semoga yang bermanfaat, iya kan?!

    bonar

    December 19, 2008 at 11:42 am

  9. saya bacanya nanti ya Pak πŸ˜€
    mampir aja nich..
    _________________________
    dari Bisik-bisik: iya mbak Namada!, terimakasih dan akan makin sering mampir, iya kan?

    namada

    December 20, 2008 at 8:32 am

  10. Ketika itu, kala libur tiba, rame-rame pergi ke kaki bukit cari harimonting. Tak terasa cape walau belasan km ditempuh dengan jalan kaki.

    Masa lalu ….. kadang terlalu indah untuk dikenang .
    _________________________
    dari Bisik-bisik: iya RItool! mengenang masa lalu, sebagai dasar untuk mencapai masa depan yang lebih baik, iya kan?!, sebagaimana yang dipikir oleh si Tigor itu.

    RItool

    December 20, 2008 at 7:12 pm

  11. Horas Bah..
    Sayang tulisan terhenti hanya sampai di kedai…bertemu sobat-sobat lama.
    Kalau dilanjut sedikit lagi…tentu akan ada Obama yang vini vidi vici…dan juga Bush yang dapat kado sepatu yang nilainya jutaan dollar…
    saya menyimak pelajaran dari semua tulisan dan cerita Abang….sukses selalu…
    __________________________
    dari Bisik-bisik:iya pak Adang!, bapak telah melanjutkannya iya kan?! hehehe…. Sukses selalu pak, bertambah kesehatan dan panjang umur.

    AS E2

    December 21, 2008 at 10:55 am

  12. waktu, berjalan begitu cepat tanpa kita sadari. Kita harus bisa membuat waktu2 kita berjalan dengan bermanfaat, banyak2 menolong orang dan mencari kebahagiaan lahir batin πŸ™‚
    _____________________________
    dari Bisik-bisik:iya mbak Retno!, tidak ada susahnya berbuat baik iya kan? dan berlakulah pepatah, sehari sangat lama, seribu tahun sangat singkat.

    Retno Damayanthi

    December 23, 2008 at 2:16 pm

  13. Membaca tulisan ini mengingatkanku saat ke Danau Toba tahun 1991, saat itu memasuki lingkungan danau Toba, masih banyak pohon cemara berjejeran, lingkungan masih hijau.

    Masih adakah pohon cemara, sawah dan lembah menghijau sekarang ini, seperti yang saya lihat dulu? Jika baca koran, kelihatannya bukit sudah mulai gundul, pohon cemara ditebang untuk bahan pulp.
    _____________________
    dari Bisik-bisik: iya mbak Edratna!, Menurutku agak parah. Semoga cepat diperbaiki, dengan kesadaran secara terpadu yang menggunakan perasaan dan berkesinambungan. Bagaimanapun semua hasil usaha tersebut, akan dinikmati secara langsung oleh rakyat, maka berlaku : “dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat”
    Sedih, Ibu saya berasal dari salah satu kampung pinggir Danu Toba. Dulu ada sungai-sungai kecil dan air terjun kecil turun dari bukit, kita dapat berenang sampai kedanau. sekarang tidak ada lagi, “sudah lama kering” kata pamanku.

    edratna

    December 28, 2008 at 6:54 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: