Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Suka-suka

with 27 comments

Suka-suka bisa jadi kata majemuk satu-satunya yang digunakan atas tindakan atau perilaku seseorang yang sulit dijelaskan, karena cenderung personal dan subjektif, meski maksudnya baik tetapi dapat menimbulkan polemik.

Suatu saat, saya dengan seorang teman dipanggil pimpinan, membicarakan penilaian kinerja tahunan, “kalian saya nilai seperti ini, apa pendapat kalian” katanya sambil menunjukkan formulir penilaian. Teman saya itu bilang “suka-suka bapaklah, kan bapak sudah menilainya”.

Ketika BUMN dibentuk, maka istilah fit and proper test menjadi populer, bagi saya istilah ini adalah ganti kata suka-suka. Sedemikian terkenalnya, untuk memilih pimpinan yang terendahpun, istilah ini pasti dipakai, sekaligus menjadi perlindungan bagi pimpinan yang suka-suka, membuat banyak orang kecewa dan hilang motivasi. Mengapa?. Konon, suka-suka semacam ini tidak mungkin terjadi di perusahaan swasta.

Bapak presiden meminta agar kasus cicak-buaya tidak diteruskan ke pengadilan, demi kepentingan umum, meski kepolisian dan kejaksaan menyatakan cukup bukti, saya tidak tahu umum itu siapa?, mungkinkah karena sejuta facebookers, atau sebagian kecil masyarakat yang teriak-teriak (keras) di jalanan dan media masa yang makin senang memberitakannya?!, dalam hatiku, “kasihan Bibit-Chandra”, sebab kebenarannya tak pernah terbukti. Namun hati saya mengatakan “ini kan suka-suka”.

Menurutku facebookers, tukang teriak jalanan dan media masa yang berbondong-bondong untuk membela Bibit-Chandra, tidak ada bagi nenek tua Ny. Minah, yang dihukum karena mencuri tiga buah kakao, meski kakao itu tidak pernah beliau sembunyikan. Suka-suka orang untuk tidak berbuat atau membela.

Maksud baik pimpinan baru (kantor pemerintah, BUMN) menjelaskan rencana kerja yang akan dilaksanakan pada masa-masa berikut, menghasilkan pikiran rasa positif, negatif dan hambar atau apatis, juga suka-suka pegawai berpikiran begitu, terutama bila pimpinan itu bukan dari pegawai karir.

Saya mau mengritik diri sendiri, karena suka menyatakan kebenaran menurut pikiran saya sendiri. Ketika memberikan nasehat alias perintah kepada anak saya. “Bapak selalu turut pada perintah nenek-kakekmu, maka kalian pun harus turut, agar maju dan dapat berkat Tuhan” perintahku. “Itukan suka-suka bapak, ngomong” jawab mereka. Lalu bisa menimbulkan perdebatan yang lebih seru, menjadi tidak jelas juntrungannya, hanya karena berbeda sisi pandang ala demokrasi rumah tangga, maklum mereka sudah besar dan dewasa. Terbukti, jaman dulu dan sekarang sulit betemu, meski itu hasil transformasi situasi dan waktu. Pandangan anak-anak bahwa saya suka-suka, karena saya penguasa di rumah.

“Suka-suka” menular kepada supir angkutan kota, pedagang kaki lima, pak Ogah, meski mereka berjuang untuk hidup, tetapi sering mengganggu kenyamanan. Suatu saat, petugas polisi dan kamtib PEMDA, akan menertibkannya, dengan suka-suka.

Petugas pelayanan masyarakat, terminal, stasiun kereta api, bandara, juga suka-suka dengan tatapan dingin kepada orang, yang sedang antri di depan banyak pintu tetapi hanya satu yang terbuka.

Dengan demikian “suka-suka” dapat kita sebut milik penguasa, atau setidaknya yang bisa berkuasa.

Karena suatu saat saya merasa penguasa, maka saya ajak semua orang harus tersenyum, kalau murung wajib traktir bagi semua orang, karena “Murung adalah milik orang kaya”. Sehingga, ada-ada saja yang tiba-tiba miskin, karena harus tersenyum. “Senyuman adalah milik orang miskin” kataku, ini juga kategori suka-suka.

Teman saya bilang, senyuman yang paling mahal di dunia ada di Hongkong dan Taiwan, sedemikian mahalnya maka pimpinan kantor pelayanan publik, dengan suka-suka, meletakkan cermin kecil di depan pegawainya, sehingga kalau orang atau tamu datang, dia akan melihat mukanya lebih dulu, terpaksa dia tersenyum, tamu itu pun ikut tersenyum, padahal si pegawai tersenyum kepada bayangannya sendiri, terbukti senyum adalah penyakit yang paling cepat menular, salah satu penyakit menular yang menyehatkan.
_______________________________________________
dari Bisik-bisik: Tulisan ini kumulai dengan suka-suka lalu kututup dengan suka-suka.

Advertisements

Written by Singal

November 29, 2009 at 11:53 pm

27 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Itulah manusia, tidak mau dikekang. Maunya bebas sebebas bebasnya. Padahal dari kebebasan terkadang telah merampas kebebasan orang lain
    ____________________________________________________
    dri Bisik-bisik: iya Andi Zulkifli!, Mungkin manusia kadang-kadang tidak menggunakan akal sehatnya.

    Andi Zulkifli

    November 30, 2009 at 7:27 am

  2. Jadi mungkin Bibit dan Chandra adalah korban orang atau kelompok orang yang mau suka-suka mengeksresikan diri dan korban media yang suka-suka mengeksploitasi peristiwa demi tiras.

    Suka-suka saya bikin komentar ya, Bang? Jujur aku suka tulisan Abang yang suka-suka.
    _____________________________________________
    ari Bisik-bisik: iya bang Ekodeto!, Negeri kita sedang mengalami ujian, cuma penyusun materi ujian itu tampaknya suka-suka juga. Saat ini banyak korban suka-suka..hehehe…

    Ekodeto

    November 30, 2009 at 1:18 pm

  3. Ah…. kalo ego telah hilang dari diri maka manusia sudah berubah menjadi malaikat……………
    ________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya Bang Romeo!, dan manusia tidak pernah mengilangkannya, maka manusia selalu mengalami kususahan, apalagi manusia yang suka-suka.

    romeo

    December 1, 2009 at 10:53 am

  4. Suka-suka saya dong mau komentar apa, hehe
    Suka-suka juga sama Pak Singal bikin tulisan suka-suka
    Suka-suka juga mereka yang mau memberi komentar ya, hehe 😀
    ____________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya Bernardia Vitri!, berarti mbak Vitri juga menjadi penguasa, karena bisa suka-suka hehehe.

    Bernardia Vitri

    December 1, 2009 at 11:58 am

  5. Pandangan kita kepada penguasa bahwa dia melakukan tindakan suka-suka, tetapi penguasa menganggap yang dilakukannya adalah terbaik buat dirinya dan tanggung jawab yang dimilikinya.
    ____________________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya pak Indra Tjahja!, benar bagi penguasa. dan penguasa harus melakukan aturan demi tanggung jawab, tanpa merasa salah, namun mereka (termasuk saya kalee, karena saya penguasa) suka-suka lempar tanggung jawab, hehehe…..

    indra tjahja

    December 2, 2009 at 7:38 am

  6. Suka-suka sendiri sekehendak hati, terjadi setiap hari: tangkap suka-suka, vonnis suka-suka, bertengkar dalam debat tv suka-suka, dan di bawah meja ambil uang negara suka-suka……
    ___________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Sociopolitica! kerjaan para yang merasa penguasa.

    sociopolitica

    December 4, 2009 at 8:30 am

  7. suka-suka main kesini sesuka saya !
    ______________________________________
    dari Bisik-Bisik: iya Pencarian Puisi!, sukalah mampir.

    Pencarian Puisi

    December 4, 2009 at 4:52 pm

  8. suka-suka masih banyak terjadi di negri ini, dari bidang a sam pai z .
    kadang-kadang miris sebagai anak bangsa. heran
    _________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Kawanlama95!. semoga saling menghargai sesama, menjadi suka-suka.

    kawanlama95

    December 5, 2009 at 2:01 am

  9. suka suka… pake suka suka..
    kayak iklan esia yg baru yaa…
    haha…
    ____________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Elmoudy!, memang suka-suka, meski saya tidak tau atau belum tau ikla esia.

    elmoudy

    December 5, 2009 at 9:19 am

  10. Saya selalu salut akan tulisan bapak.Namun apa bpk memberi nasehat,kalau ada orang yg tersinggung bisa masuk pengadilan lo, he he he kaya PRITA .Just kiding.
    _______________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya Oklek33, Mereka para penguasa dan yang merasa penguasa, sering suka-suka memasukkan orang ke penjara, Nenek Ny Mina, PRITA dan lain-lain dengan alasan menegakkan hukum. Mereka ngomong atau berpidato atas kebijakan (meski sudah jelas amblas) masih bilang demi keselamatan ekonomi, entah ekonomi siapa maksudnya. hehehe. dan itupun atas dasar kebijakan sebagai penguasa.

    oklek33

    December 5, 2009 at 9:54 am

  11. Suka suka. Topik cukup bagus bapak.Kata dan prinsip yang cukup ngetren.Namun bnyk yg lupa dasarnya.Seorang anak dinasehati ayah menjawab suka suka adalah HAK bagi anak namun apakah anak sudah menjalankan KEWAJIBAN ? Lalu para mereka yg disana jg suka2 dg kputusan lalu apakah sudah TEPAT PUTUSANNYA? Lalu nenek memetik kakau,pengaes kapuk dibanding bibit,candhra..Adalah LINTAS BESAR DAN KECIL.Media jg tak lepas dari kata bisnis.. Ya saya juga ikut suka suka tapiiiiiii sukanya jgn merugikan orang lain donk k k k k k k
    ___________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Oklek33!, Hmm..mereka suka-suka iya kan?! lalu menggangu kita masyarakat atau paling tidak kita merasa terganggu, mereka pakai dasi, baju bagus dan wangi untuk mejelaskan kebijakan yang amblas, kepada kita rakyat yang dekil bau dan tak punya pekerjaan, karena lapangan kerja memang kage ade…

    oklek33

    December 5, 2009 at 10:06 am

  12. Artinya kita tidak akan pernah lepas dari ‘suka-suka’ ya? Okey lah kalo begitu, ‘suka-suka’nya kita sepakati dengan suatu etika atau aturan, ya, kayak berlalulintas gitu lho, suka-suka silahkan tapi begitu ada pelanggaran mesti tegas pada aturan sebagai patokan. Artinya jangan pakai ‘suka-suka’nya petugas lagi, semacam pungli gitu. Nah, dalam menentukan aturan, nilainya ‘suka-suka’nya mesti universal, tentu saja mesti dimasukan HAM juga. Jadi jangan hak suka-sukanya mayoritas saja, apa pun alasannya. Nah kalo gitu kan enak? Iya toh pak, dari pada capek ta gendong aja, kan aku lagi kuat! (kan lagi kuat!)
    ______________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Erensdh!, suka-suka cenderung mengganggu kenyamanan dan menyakitkan orang lain.

    erensdh

    December 5, 2009 at 2:18 pm

  13. kalau saya malah kebanyakan senyum..
    suka-suka ingat yang lucu-lucu juga,
    hidup ini terlalu sayang dilewati dengan stress..

    Cuman suka-suka saya gak boleh melanggar suka-suka orang lain..
    __________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya Romailprincipe!, benar…, suka-suka yang kita sukai, tidak mengganggu kenyaman orang lain.

    romailprincipe

    December 5, 2009 at 7:38 pm

  14. Bener tuh, suka-suka kadang jadi penguasa. Salam kenal.
    ALRIS
    ____________________________________
    dar Bisik-bisik:iya Alrisblog!, penguasa yang kadang suka-suka, salam kenal juga, sering mampir.

    alrisblog

    December 5, 2009 at 10:25 pm

  15. Hmm… suka adalah kata yang positif. Akan tetapi, kalau dijadikan kata ulang, kok malah bisa jadi negatif ya, Pak? Ini kan bertentangan dengan hukum matematika. Mestinya postitif kali positif tetap positif. Positif tambah positif ya tetap positif.

    Ah, suka-suka yang mau pakai suka-suka saja lah.
    ________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Kombor!, Matematik selalu pasti kebenarannya. dan suka-suka yang benar dapat juga dipasang pada alat kontrolnya.

    kombor

    December 5, 2009 at 11:39 pm

  16. Sepertinya istilah ” suka-suka ” ini samadengan istilah ahli zoologi yaitu golongan ” omnivore ” – golongan pemakan segalanya untuk membedakannya dengan golongan pemakan tumbuh2an ( herbivore ) dan pemakan daging (carnivore).Perilaku suka suka umumnya dilakukan dengan motivasi selera atau keinginan. Contoh soal barangkali adalah amandemen UUD 45 (sampai 3 kali ?) dengan alasan untuk menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Contoh lain lagi adalah seringnya kesepakatan dilanggar ( minta dirobah ) apabila dalam perjalannya kesepakatan itu merugikan si pelaku suka suka. Jadi perilaku “suka suka ” ada yang berdampak positip dan ada berdampak negatip, tergantung dari sisi mana kita melihatnya.
    __________________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya bang Olanto!, maka berlaku di situ bumi dipijak di situ langit dijunjung. Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya. memang suka-suka dari mana melihatnya.

    olanto

    December 6, 2009 at 11:29 pm

  17. kunjungan di pagi hari….,
    ________________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Tyan’s!, suka-suka mas Tyan’s datang dan mampir, dan semoga makin suka.

    tyan's

    December 7, 2009 at 5:09 am

  18. Horas lae’

    Kritis kali tulisan abang ini. saya jadi teringat sebuah film drama komedi Indonesia yang diproduksi pada tahun 1987 oleh Dono, Kasino, dan Indro.

    ” Saya Suka Punya Kamu ” dari judulnya kita pikir itu ngeres ternyata kelucuan dalam pentas ini tetap ada penindas dan tertindas.

    Thanks atas kunjungan Bang, salam sejahtera
    _____________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya bang Pambudi Nugroho!, kalau penguasa sudah suka kita mau bilang apa?, kita memberi saran bahkan menolakpun mereka tetap akan suka-suka. Pokoknya abdinya akan repot mencari jalan agar kesukaannya tidak kelihatan suka-suka.

    Pambudi Nugroho

    December 8, 2009 at 11:00 am

  19. jadi…sebenernya qta ini diatur oleh suka2nya pemerintah dan aparat di dalamnya ya hehehe ^^
    ___________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Ok!, mereka tampaknya melakukan itu dibeberapa hal, dan tidak ingin bahkan tidak atau belum mau berubah. Lihat saja galian dipinggir jalan, PAM, PLN, TELKOM, bergantian dalam waktu yang berurutan pada jalan yang sama.

    ok

    December 9, 2009 at 3:19 pm

  20. semoga keputusan pemerintah untuk Indonesia ga sekedar suka2 T_T
    salam sore pak 🙂
    ______________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Dc!, suka-suka mereka sangat banyak.

    dc

    December 9, 2009 at 3:21 pm

  21. saya suka bagian kalimat: “suka-suka bapaklah, kan bapak sudah menilainya”. Mau dikasih pendapat juga keputusan ada ditangan pimpinan 🙂

    salam saya 🙂
    ________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya Diedien®!, penguasa sering pura-pura baik.

    Diedien®

    December 9, 2009 at 3:24 pm

  22. penerapan pasal 340 pada kasus protap juga terlihat teramat suka suka, pak Singal.
    _________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Hh!, berarti yang menerapkan itu lagi berkuasa kalee.

    hh

    December 10, 2009 at 12:25 pm

  23. benar, kalo keputusan udah ditetapkan baru ditanyakan ke anak buahnya, ya itu suka-suka pimpinannya aja
    ___________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Jack!, Pimpinan itu suka-sukanya berbuat seperti itu. Karena barangkali pimpiman itu meras pemilik satu-satunya, dan kita buruhnya. Padahal kita sama-sama pemilik, karena milik ibu kita bersama, ibu Pertiwi.

    jack

    December 10, 2009 at 9:33 pm

  24. begitu yah

    Hi salam kenal just blogwalking doang. main dong ke blog saya
    http://blog.unsri.ac.id/kaskuserr/nais-inpo-gan/mrlist/1234/

    dijamin bikin KETAGIHAN..!!! ^^
    _____________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Kaskuser!, terimakasih, sering mampir juga.

    kaskuser

    December 13, 2009 at 4:29 pm

  25. Suka-suka kita dibatasi oleh suka-suka nya orang lain.. 🙂
    ___________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya Dira!, dan oleh banyak hal lainnya.

    dira

    December 15, 2009 at 1:42 pm

  26. Hehehe Suka-suka memang menyenangkan. Tapi ya bener, sesuka-sukanya kita orang lain juga belum tentu sama sukanya dengan kita. 🙂
    ___________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya Perempuannya!, iya selera memang beda.

    perempuannya

    December 17, 2009 at 11:54 am

  27. Ini juga komentar suka-suka 😀
    Ngomong-ngomong Pak, siapa ya Pak Ogah? 😀
    _____________________________________
    dari Bisik-bisik: iya bang Alisyah!, memang enak juga suka-suka itu, hehehe. disebut Pak Ogah, harus pakai “balen” dulu baru mau kerja. istilah ini berasal dari “ulah teman si Unyil” pada sandiwara TV anak-anak, tahun 70 an. Dalam setiap episode ceritanya “kerja seringan apapun kalau diminta bantuan” si teman ini selalu minta “cepe dulu”. Kalau tidak dipenuhi, dia akan bilang “ogah ah…”. Saat ini, istilah itu turun pada orang yang berkelakuan seperti itu, misalnya orang yang mengatur lalu lintas, putaran, jalan sempit, dll, kalau kita tidak beri duit tidak bakalan bisa lewat hehehe.

    alisyah

    December 30, 2009 at 3:10 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: