Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Menular, Terasa Hambar Sang Kaisar!

with 9 comments

Kuurungkan menegur sahabatku pagi itu, wajahnya lebih cemberut dari biasanya. Tiap pagi, tegur sapa selalu keluar dari mulutku “Selamat pagi!, apa kabar pak!?” meskipun saya tidak begitu peduli ada jawaban atau tidak. Dia duduk, lalu saya mendapat hadiah, bunyi benturan keras tutup buka laci dan buku dengan permukaan meja serta suara kecil gerutuan. Sudah terbiasa bagi saya menghadapi sahabatku yang satu ini. Tentu saja, saya selalu datang duluan karena saya tidak suka macet jalanan Jakarta. Sahabatku itu itu tersenyum hambar kearahku, menularkan senyuman hambar bibirku. “loe itu selalu nggrutu aje” kataku, lalu kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Tiba tiba sang kaisar manajer sipemalas tetapi sangat pintar, tidak berperasaan menurut kita, datang, memberi pengarahan yang sangat baik tentang kerja keras, penuh basa basi, kesuksesan perusahaan dan bagaimana harus mempertahankannya. Karena beliau kaisar maka kita menjawabnya “baik pak!” setelah dia pergi kita merasa hambar, atas nasehat yang sangat teoritis bagus masuk logika dan hebatlah pokoknya.

“Misteri kita tergantung bagaimana kita!” kataku pada seorang teman lainnya, meski saya tidak ingin menasehati orang itu, karena saya juga masih perlu dinasehati. “Coba bayangkan kalau kamu menyakiti orang, maka dalam hatinya akan bilang sialan orang ini, lalu dia bercerita sama temannya dan mengamini bahwa anda itu sialan”. Menurutku, sebuah misteri akan mengawang di angkasa seperti gelombang radio, alampun mendengar dan merasakannya, kemudian kita ketibaan sial, kebentur meja dan tersandung pada kerikil kecil. Terasa hambar juga nasehatku itu, karena mungkin teman ini tidak mengharapkan nasehat dariku, melainkan menginginkan mengamini perasaan ketidak sukaannya pada orang lain.

Maka misteri apa gerangan yang terjadi di negeri ini, harga-harga pada naik, sembako, listrik, tabung gas meledak, jalan macet, rusak tidak teratur, hutan gundul, lumpur lapindo, sementara orang terhormat, para kaisar dan para pakar yang makin banyak, menjelaskan mengapa dan apanya serta bagaimana menanggulanginya, dengan intonasi suara penuh perasaan, dilapis kehebatan dan kebanggan karena hidupnya memang sukses, dilihat dari kekuasaannya, bahkan dari baju yang dipakai. Mereka menjelaskan penuh himbauan, ilmu dan teori. Terasa hambar paling tidak menurutku.

Sangat kontras dengan temanku si wajah ceria, gaji kecil, pakaian sangat sangat sederhana, penuh dengan senyuman yang cerah, secerah wajahnya, menularkannya dengan sangat cepat, terbukti dengan kita otomatis menggerakkan bibir, tersenyum cerah juga, menggairahkan urat-urat halus mengalirkan darah, menyegarkan dan menyehatkan wajah kita, “hai..apa kabar?”, “baik..pak” betapa senangnya dan kita menyenanginya. Terasa manis.
_______________________________________
dar Bisik-bisik:Himbauan, teori..terasa hambar!

Advertisements

Written by Singal

July 31, 2010 at 11:24 am

9 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Selamat bersua lagi pak,
    Keep writing! 🙂
    _______________________________________
    dari Bisik-bisik: Terimakasih pak And! salam.

    andi zulkifli

    July 31, 2010 at 4:02 pm

  2. Soal misteri negeri ini; sebagian besar ahlak manusianya sudah rusak karena tidak lagi punya rasa KASIH bagi sesama. Keserakahan, kesombongan peguasa dan jajaran aparatnya yang tidak mau dikritik. Sudah terlalu tuli dan buta mata mereka untuk berempaty pada kesejahteraan rakyat. Terlalu induvidualis dengan kelompoknya. Sementara para pengamat dan pakar, pintarnya cuma omdo. Mereka bisa tega makan hanya dari mengamati, lalu memberi statement yang tidak menguntungkan bagi masyarakat. Prediksiku, lae, negeri ini menuju kehancuran jika tidak segera dibenahi secara menyeluruh tatanan bernegara dan berkewarganegaraan. Horas jala gabe.
    _______________________________________
    dari Bisik-bisik: iya bang Shaut Hutabarat!, sebenarnya masih banyak waktu untuk berbuat yang baik dan nyata, bukan hanya OMDO di TV dan media masa, agar terasa manis.

    Shaut Hutabarat

    August 1, 2010 at 8:30 pm

  3. selalu ada jurang antara apa yang dikatakan pemerintah dengan kenyataan yang terjadi dan dirasakan langsung masyarakat.
    __________________________________
    dari Bisik-bisik:iya bang Eko Deto!, dan tampaknya mereka (pemerintah) menikmati kekuasaannya.

    Eko Deto

    August 2, 2010 at 7:52 pm

  4. apa yang saya rasakan sepertinya tersalurkan dengan apik dalam tulisan pak singal ini.
    apakabar pak?
    _________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya Mascayo!, baik pak…semoga negeri kita makin baik.

    mascayo

    August 2, 2010 at 9:25 pm

  5. Dengan terbukanya informasi kita berharap masalah yang timbul dimasyarakat harga naik, tabung gas , listrik dapat diatasi oleh pemerintah satu demi satu dengan kesabaran.
    ___________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya pak Indra semoga pemerintah dapat mengatasinya. Atau pemerintah dapat meningkatkan daya beli masyarakat.

    indra t.

    August 3, 2010 at 4:21 pm

  6. Secara perorangan bangsa kita memang pintar pintar, kalau ambil program doktor ke LN, hampir semua diatas rata rata; kalau gak berlebihan: jenius. Tetapi secara bangsa, entah mengapa, orang orang jenius tadi tidak mampu melaksanakan rumusan rumusan jitu yang mereka buat agar sejajar dengan bangsa lain, paling tidak, masyarakat tidak kesulitan hanya untuk makan nasi, kenyang, tiga kali sehari.
    ______________________________________________
    dari Bisik-bisik: Benar pak, mungkin mereka merasa pintar sendiri, sehingga selalu memaksakan kehendak, atau mungkin tidak bisa bekerja sama dan tidak menghargai sekelilingnya. Barangkali lho pak!…..

    hh

    August 6, 2010 at 8:51 am

    • Bukan barangkali, pak Singal. Itu pasti. Mereka tidak mempunyai keberanian untuk bekerjasama sebagai ganti memaksakan kehendak,tidak punya keberanian bekerjasama untuk menghargai sekelilingnya, terutama rakyatnya.
      _____________________________________
      dari Bisik-bisik: iya bang, jangan-jangan mereka menggunakan istilah “sesama bis kota dilarang saling mendahului” hehehe….

      hh

      August 6, 2010 at 7:56 pm

  7. Orang kita tidak punya keberanian untuk memulai sesuatu yang baru. hampir semua sistem di kita tidak mendidik orang menjadi pemberani.
    ______________________________________
    dari Bisik-bisik:iya bang Togar Silaban!, mungkin karena (kita?) dididik meletakkan loyalitas pada tempat yang salah. Alias loyal kepada atasan, loyal kepada pemerintah dll. Akibatnya minta petunjuk terus.

    togarsilaban

    August 6, 2010 at 3:52 pm

  8. Seorang sahabat merespon komentar sahabatnya seperti ini:
    seperti kata Gandhi : Bumi mencukupi kebutuhan seluruh umat manusia tetapi tidak cukup memenuhi keinginan segelintir manusia serakah..
    _________________________________________
    dari Bisik-bisik:iya bang Hh, dan segelintir orang itu sering menjadi penguasa..dan mereka tidak bisa mengendalikan keserakahannya.

    hh

    August 9, 2010 at 9:14 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: