Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Fitnah, Kebenaran Bagian dari Ketidak-Sopanan

with 7 comments

Mungkin saya orang aneh, karena semua temanku boleh suka-suka menyatakan pendapatnya tentang saya, sehingga saya tidak pernah merasa difitnah. Jika seorang teman menyatakan kepada saya “Kata si Anu, kamu itu seperti binatang liar yang busuk” lalu akan saya jawab “itu haknya, biarkan saja”.

Tentu saja persoalannya menjadi lain, kalau si Anu itu, langsung ngomong kepada saya. Perkara pendapatnya melalui teman, itu soalnya sendiri, dan tidak perlu saya konfrontir, karena kalau dikonfrontirpun, tidak menghasilkan apapun yang baik, selain dari gesekan yang melebar dan membuat panas, yang menimbulkan berbagai penyakit dan celaka.

Saya tidak heran, kalau membaca atau mendengar berita yang membuat gesekan, karena mungkin itu bagian dari penghasilan mereka. Yang membuat saya heran adalah timbulnya pertahanan diri dari sumber dan obyek berita dengan menumpahkan kehebatannya dengan banyak embel-embel hasil karya, yang intinya mereka seharusnya dipuji. Jelaslah!, apalagi kalau tukang koar-koar di TV dan di suratkabar itu adalah para pengawal dan punggawa raja.

Saya salah seorang yang terbukti tidak begitu sukses dalam meniti karir, karena sering kalah dalam fit and proper test, maka saya sebenarnya tidak patut menyatakan alasan apapun seperti, “bahwa saya seorang tukang koar-koar yang tidak sopan, yang sering membuat para pengawal dan raja merah kuping. Gara-gara analisis yang saya berikan secara teknis sangat jelas kebenarannya, karena alat-ukur, timbangan, satuan menunjukkan kebenaran dan ternyata kebenaran adalah bagian dari ketidak sopanan”.

Saya juga tak peduli pada kata-kata “Fit and proper test, bagian dari KKN”, karena saya lebih memilih “Tuhan tidak menghendaki saya duduk ditempat itu, karena tidak mampu membuat kesulitan”. Maka saya hidup lebih tenang meski semua orang tetap bebas memberi pendapatnya tanpa terusik, karena saya tidak akan meraung-raung sambil menunjuk dada, prestasi dan kehebatan yang memang tidak ada apa-apanya.

Suatu saat, teman baikku datang “kok bapak kalah lagi?..”, dalam hati saya, “kapan Sengkuni masuk kedalam pikiran temanku ini”, lalu “dipikirnya saya familinya Kurawa”. “aahh.. saya tidak kalah, cuma tidak kepilih..” sahutku. Bisa juga, sebenarnya temanku menginginkan saya yang kepilih. Padahal buat saya sama saja. Dia tidak akan mengatakan itu kepada saya seandainya dia pernah mengenal Gorbachev si pemimpin Uni Sovyet sebelum bubar, yang mempunyai prinsip “selama kita tidak punya kekuasaan dan tidak memegang kemudi atau alat kendali, tetap saja kita harus patuh sebagai penumpang kapal.” setelah punya kekuasaan dan kendali maka “Glasnost dan Perestroika”.

Pikiran saya agak ngelantur ke negeri asing. Di hampir semua negeri maju dan mau maju, termasuk negeri tirai bambu, anggota kabinetnya terdiri dari teknokrat, ekonom, ilmuan dan budayawan. Maka mereka mengambil tindakan yang sangat terukur dan berempati, berpikir dengan menggunakan alat kebenaran, bahkan mengundurkan diri kalau janji tidak menjadi kenyataan. Karakter ini turun ke seluruh perusahaan, bahkan ke klub sepak bola dan kepada masyrakat.

Saya hanya berharap agar di negeri tercinta, semoga penguasa tidak pernah merasa difitnah, semoga penguasa tidak pernah menunjuk dada kebenaran dan kekuasaan kepada rakyat, apalagi mengutus tukang koar-koar dan tukang debat kusir dengan memakai batik mahal atau stelan jas dan dasi yang bagus, pasti dengan parfum yang semerbak dan wangi tetapi sangat memalukan karena kerjanya hanya memepertahankan diri yang tidak berguna bagi rakyat.

Masih banyak yang lebih penting dan perlu dibahas, yaitu bagian dari pertahanan negeri tercinta, seperti pendidikan, bangunan sekolah, jalan dan transportasi umum, pertanian dan pengairan, lapangan kerja dan pengangguran dan lain-lain yang lebih mengena langsung kepada rakyat banyak.
______________________________________
dari Bisik-bisik: Semoga mereka memberi contoh dengan menggunakan alat, ukuran dan kebenaran.

Advertisements

Written by Singal

October 16, 2010 at 4:08 pm

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. kalau raja terlalu asyik ngurusi para tukang kritik, beliau akan kehilangan banyak waktu dan perhatian untuk ngurusin rakyatnya. lebih penting mana?
    _____________________________________
    dari Bisik-bisik: iya bang Eko Deto, dan disamping itu, Raja sangat sering berpidato mengenai dirinya.

    Eko Deto

    October 19, 2010 at 2:38 pm

  2. Kebenaran tentang suatu hal harus ada yang berani menyatakan, masyarakat umum akan menilainya benar atau salah.
    ______________________________________
    dari Bisik-bisik:iya pak Indra!, benar, harus dimulai di semua lini….

    indra t.

    October 20, 2010 at 8:53 am

  3. ‘Kalah’ dalam suatu fit and proper test, bukan suatu kekalahan sesungguhnya. Apalagi bila para penguji dalam fit and proper test itu, sebenarnya tidak lebih kompeten dari yang diuji. Dan justru ini yang paling sering terjadi, termasuk di lembaga-lembaga terhormat kita di pusat maupun di daerah.
    _______________________________________
    dai Bisik-bisik: iya Sociopolitica!, Yang jelas tukang fit and proper test itu, punya kuasa untuk melakukan keinginannya, apalagi setelah dia bertanya, lalu tak (mau) mendengar jawaban atau penjelasan yang diberikan. hehehe…

    sociopolitica

    October 21, 2010 at 5:23 pm

  4. ada yg usil cerita … Dursasana marah dikatakan pengecut, turun ke medan perang menantang Bima … Sang Dalang tertawa senang karena penonton bertepuk tangan … Si Pemesan yg punya hajat pun tersenyum melihat pertunjukan sukses besar …
    _____________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Usilan!, daaan….pasti sang Dalang tidak membalikkan cerita….

    usilan

    October 31, 2010 at 1:04 am

  5. Semuanya itu dilemma ya Pak. Bagaimana kabar bapak? lama sudah tak saya komentari blog bapak. Membaca tulisan-tulisanpun kini semakin jarang.
    Yah, saya membaur dengan kehidupan pada tulisan Pak Singal di atas ini. Begitu berdilemma memilih salah satunya. Memilih kebenaran = naif, memilih sopan hati ini tidak tenteram…
    Maka dari itu, tujuan saya salah satunya belajar dari orang-orang luar negeri yang seperti deskripsi pada negara2 maju. Tentunya dengan tinggal bersama mereka di luar negeri, negara di mana pengetahuan, etika dan moralnya dijunjung tinggi.
    _____________________________________________
    dari Bisik-bisik: Benar mbak Bernardia Vitri!, Kita tidak pernah berhenti belajar, agar tidak terperangkap dalam dilemma itu. Negeri maju selalu menghindari rakyatnya dari perangkap itu, dengan memberi atau membangun sarana yang memadai agar peraturan (kepentingan rakyat) dapat dilaksanakan. Dengan demikian hukumpun dapat ditegakkan.
    Saya juga agak tersendat menulis di blog ini.

    Bernardia Vitri

    November 10, 2010 at 10:30 pm

  6. Sore Amanguda. apa khabar..? semoga amanguda dan keluarga dan kita semua selalu dalam Lindungan Tuhan YME. Amin
    ___________________________________________
    dari Bisik-bisik: Baik bang, saya dan keluarga sehat, bang Togar dan keluarga juga selalu dalam lindunganNya.
    Tulisan di blog ini agak tersendat, karena lumayan sibuk bang!

    Togar Lubis

    November 15, 2010 at 5:38 pm

  7. maaf ya pak ikut comen,abis ngebacanya menarik sih yang sabar aja pak masih banyak peluang kok yg penting berusaha pasti berhasil…..
    _______________________________________________
    dari Bisik-bisik: iya Yuyu!, kita sungguh sabar, dan menunggu usaha itu dilaksanakan, iya kan?!

    yuyu

    December 14, 2010 at 4:37 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: