Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘Kemanusiaan’ Category

Melebar

with 15 comments

Uneg-uneg.

Tadinya saya ingin memberi judul uneg-uneg ini salah satu dari antara, terfokus, atau serempak, atau mengerucut atau terukur atau convergence. Namun, saat tuts-tuts keyboard laptopku beradu dengan jari-jariku, tiba-tiba pikiranku dipenuhi suara berita radio dan tv, lalu berganti dengan cepat, pada situasi jalan-jalan Jakarta yang selalu kulewati dalam perjalanan pergi-pulang ke dan dari kantor.

Pikiranku terbang mengawang, melompat dari satu topik ketopik lain, membayangkan apa gerangan kejadian sebenarnya, yang ada dan terpatri di dalam pikiran, anggota tim PANSUS, menkeu Ibu Sri Mulyani dan wakil presiden Bapak Boediono. Pikiranku membayangkan apa gerangan yang ada di dalam pikiran para gelandangan, pengemis, penjual koran, penjual rokok, supir, pengemudi motor dan pak polisi yang mengatur lalu lintas.

Apa gerangan yang ada di dalam pikiran anggota fraksi Partai Demokrat, PDIP, GOLKAR dan partai lainnya. Apa gerangan yang ada di dalam pikiran para pengusaha kaya dan industriwan yang sedih menunjukkan wajahnya, seolah berusaha menjadi pahlawan para buruh yang digaji kecil, hanya gara-gara perdagangan bebas sudah dimulai. Apa gerangan yang ada di dalam pikiran para demonstran, petani dan para guru. Apa gerangan yang ada di dalam pikiran para pakar, yang suka menghakimi dan menonjolkan diri, lalu disela wartawan tv yang mengatakan “jangan kemana-mana”, maka muncullah iklan yang durasinya lumayan lama.

Gila!…tiba-tiba saya masuk ke dalam diri mereka!, lalu otakku mencoba membaca apa yang tertulis dalam pikiran mereka. Hmm…saya menikmatinya, meski saya tahu pasti, apa yang kubaca tidak betul, banyak huruf dan karakter yang tidak kukenal, sehingga juga pasti tidak berguna untukku, selain dari salah satu alat testing untuk otakku bahwa ternyata saya tidak gila…Maka karena pikiranku itu selalu melompat dari satu topik ke topik lain maka kuberi judul uneg-uneg ini “Melebar”, dan hasilnya kira-kira samadengandivergence dalam istilah matematika, tidak terukur atau tidak mempunyai arti fisis, pokoknya tidak ada kesimpulan, dan tidak dapat digunakan. Karena ketika kubaca yang tertulis di dalam pikiran mereka, ternyata melebar atau tidak terfokus. Jelaslah, saya salah baca.
______________________________________
dari Bisik-bisik: Berusaha berpikir dari sisi mereka.

Advertisements

Written by Singal

January 16, 2010 at 7:22 pm

Suka-suka

with 27 comments

Suka-suka bisa jadi kata majemuk satu-satunya yang digunakan atas tindakan atau perilaku seseorang yang sulit dijelaskan, karena cenderung personal dan subjektif, meski maksudnya baik tetapi dapat menimbulkan polemik.

Suatu saat, saya dengan seorang teman dipanggil pimpinan, membicarakan penilaian kinerja tahunan, “kalian saya nilai seperti ini, apa pendapat kalian” katanya sambil menunjukkan formulir penilaian. Teman saya itu bilang “suka-suka bapaklah, kan bapak sudah menilainya”.

Ketika BUMN dibentuk, maka istilah fit and proper test menjadi populer, bagi saya istilah ini adalah ganti kata suka-suka. Sedemikian terkenalnya, untuk memilih pimpinan yang terendahpun, istilah ini pasti dipakai, sekaligus menjadi perlindungan bagi pimpinan yang suka-suka, membuat banyak orang kecewa dan hilang motivasi. Mengapa?. Konon, suka-suka semacam ini tidak mungkin terjadi di perusahaan swasta.

Bapak presiden meminta agar kasus cicak-buaya tidak diteruskan ke pengadilan, demi kepentingan umum, meski kepolisian dan kejaksaan menyatakan cukup bukti, saya tidak tahu umum itu siapa?, mungkinkah karena sejuta facebookers, atau sebagian kecil masyarakat yang teriak-teriak (keras) di jalanan dan media masa yang makin senang memberitakannya?!, dalam hatiku, “kasihan Bibit-Chandra”, sebab kebenarannya tak pernah terbukti. Namun hati saya mengatakan “ini kan suka-suka”.

Menurutku facebookers, tukang teriak jalanan dan media masa yang berbondong-bondong untuk membela Bibit-Chandra, tidak ada bagi nenek tua Ny. Minah, yang dihukum karena mencuri tiga buah kakao, meski kakao itu tidak pernah beliau sembunyikan. Suka-suka orang untuk tidak berbuat atau membela.

Maksud baik pimpinan baru (kantor pemerintah, BUMN) menjelaskan rencana kerja yang akan dilaksanakan pada masa-masa berikut, menghasilkan pikiran rasa positif, negatif dan hambar atau apatis, juga suka-suka pegawai berpikiran begitu, terutama bila pimpinan itu bukan dari pegawai karir.

Saya mau mengritik diri sendiri, karena suka menyatakan kebenaran menurut pikiran saya sendiri. Ketika memberikan nasehat alias perintah kepada anak saya. “Bapak selalu turut pada perintah nenek-kakekmu, maka kalian pun harus turut, agar maju dan dapat berkat Tuhan” perintahku. “Itukan suka-suka bapak, ngomong” jawab mereka. Lalu bisa menimbulkan perdebatan yang lebih seru, menjadi tidak jelas juntrungannya, hanya karena berbeda sisi pandang ala demokrasi rumah tangga, maklum mereka sudah besar dan dewasa. Terbukti, jaman dulu dan sekarang sulit betemu, meski itu hasil transformasi situasi dan waktu. Pandangan anak-anak bahwa saya suka-suka, karena saya penguasa di rumah.

“Suka-suka” menular kepada supir angkutan kota, pedagang kaki lima, pak Ogah, meski mereka berjuang untuk hidup, tetapi sering mengganggu kenyamanan. Suatu saat, petugas polisi dan kamtib PEMDA, akan menertibkannya, dengan suka-suka.

Petugas pelayanan masyarakat, terminal, stasiun kereta api, bandara, juga suka-suka dengan tatapan dingin kepada orang, yang sedang antri di depan banyak pintu tetapi hanya satu yang terbuka.

Dengan demikian “suka-suka” dapat kita sebut milik penguasa, atau setidaknya yang bisa berkuasa.

Karena suatu saat saya merasa penguasa, maka saya ajak semua orang harus tersenyum, kalau murung wajib traktir bagi semua orang, karena “Murung adalah milik orang kaya”. Sehingga, ada-ada saja yang tiba-tiba miskin, karena harus tersenyum. “Senyuman adalah milik orang miskin” kataku, ini juga kategori suka-suka.

Teman saya bilang, senyuman yang paling mahal di dunia ada di Hongkong dan Taiwan, sedemikian mahalnya maka pimpinan kantor pelayanan publik, dengan suka-suka, meletakkan cermin kecil di depan pegawainya, sehingga kalau orang atau tamu datang, dia akan melihat mukanya lebih dulu, terpaksa dia tersenyum, tamu itu pun ikut tersenyum, padahal si pegawai tersenyum kepada bayangannya sendiri, terbukti senyum adalah penyakit yang paling cepat menular, salah satu penyakit menular yang menyehatkan.
_______________________________________________
dari Bisik-bisik: Tulisan ini kumulai dengan suka-suka lalu kututup dengan suka-suka.

Written by Singal

November 29, 2009 at 11:53 pm

Dialog Diri, “Provokatif”

with 21 comments

Pagi itu, dia menuliskan dalam bulatan merah “provokatif…tidak mendidik..merusak karakter bangsa..” pada surat kabar langganannya. Sambil menghirup dan meludeskan sisa kopinya yang masih hangat, “Maaa!..saya berangkat.. buru-buru..”, teriaknya, sambil menyambar tas kerjanya, lalu menghilang tanpa menunggu sang istri tercinta yang biasanya mengantar sampai ke pintu, sedang sibuk di dapur.

Pagi itu menjadi kurang bersahabat bagi karakternya. “Gue..kesel banget baca koran, melihat televisi dan mendengar radio, coba lihat…” dia menunjukkan tulisan di notes kepada temannya, “Ini mau kukirim ke redaksi seluruh koran dan semoga mereka mau memuatnya..”.

“Ahhh… kau ini, kapan kau berubah! meledak-ledak terus. Namun aku tau. itu buah semangatmu, itu buah kebaikan karaktermu….hahaha..kirim!, kudukung..kalau mereka tidak memuatnya..ini..” sahut temannya, sambil mengacungkan tinjunya.
Dia tau, teman baiknya rendah hati, namun lebih meledak-ledak lagi, dibandingkan dengan dia. Ya!, temannya bertukar pikiran, temannya saling mengingatkan, temannya saling tolong menolong.

“Mass media menanam berita, memupuk dan memeliharanya, dipetik, lalu dijual setelah dikemas dengan bungkusan yang menarik. Mereka tidak peduli….yang penting laku”. Dia bergumam sendiri, terlintas dibenaknya kejadian tadi pagi dan merasa bersalah kepada istrinya, “betapa gobloknya saya..saya juga ternyata larut pada berita-berita itu..gilaa…gue bodoh benaran”.

Orang pintar, akhli dan para pakar tampaknya senang diwawancarai wartawan, memberi pendapat, atas berita, atas kasus yang masih dicari kebenarannya secara hukum, dipertontonkan kadang interaktif dengan penonton atau pakar lainnya, lalu iklan. “mana berita bagusnya?!, mana pendidikannya?!, Oooo..bangsaku semoga makin bijak memilih hal yang baik, kebenaran bukan suara terbanyak, bukan dugaan”.
_________________________________
dari Bisik-bisik: Semoga mass media menjadi ujung tombak bagi pendidikan bangsa negeri tercinta.

Written by Singal

October 31, 2009 at 9:17 pm

Untung Saya Bukan Presiden

with 68 comments

Kalau tidak, maka:
(berikut ini rangkuman secara umum pelaksanaan program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang)

Bidang Pendidikan dan Teknologi
1. Sekolah dan buku gratis.
2. Sekolah sampai kelas 12.
3. Gaji guru (termasuk guru taman kanak-kanak) dan gaji dosen, paling rendah setara 100 gram emas setiap bulan.
4. Masa orientasi dihapuskan karena selalu mengarah pada kekerasan.
5. Pendidikan efektif, anak sekolah berbudi pekerti, tidak kehilangan masa anak-anak dan masa remajanya, maka jumlah buku dan mata pelajaran per kelas per tahun harus dikontrol. Karena (menurutku) kita tidak memerlukan orang pintar yang tidak berperasaan seperti komputer dan mesin.
6. Pendidikan di Universitas dengan mutu yang baik dan berkualitas.
7. Membangun technology research center disegala bidang.

Lingkungan, Pariwisata dan Kesehatan
1. Penebangan hutan akan dihentikan, HPH (Hak Pengelolaan Hutan) dihapuskan dan penghijauan besar-besaran dilaksanakan dan dikontrol tiap hari.
2. Seluruh tepi pantai ditanami pohon bakau sejauh yang bisa ditanami ke arah laut dan sejauh 3 km ke arah darat menjadi hutan lindung. Maka seluruh binatang akan senang.
3. Tidak boleh buang sampah ke sungai, apalagi sampah plastik.
4. Irigasi ke sawah ladang dan lahan pertanian dibangun. Harga jual hasil pertanian harus dijaga demi kemakmuran petani.
5. Semua jenis immunisasi gratis. Pembangunan rumah sakit dan puskesmas ditingkatkan.
6. Fasilitas pariwisata dibangun, agar turis tinggal berlama-lama dengan senang hati.
7. Sampah menjadi bahan bakar energi dan sebagian menjadi pupuk.

Energi Primer dan sekunder
1. Pembangunan Green Energy harus ditingkatkan.
2. Pertambangan Minyak Gas dan Batubara demi kemakmuran rakyat.

Transportasi dan hal-hal terkait.
1. Pembangunan transportasi massal (Mass Transport), kereta api dalam kota dan antar propinsi menjadi prioritas. Di setiap kiri-kanan jalan tol harus dibangun rel kereta api.
2. Pelayanan dan kenyamanan yang baik di setiap stasiun dan bandara.
3. Setiap Bandara dan stasiun bus, harus bisa dicapai dengan kereta api dan tentu saja dengan angkutan umum lainnya.
4. Di mana pun, tempat pelayanan masyarakat tidak boleh ada calo dan preman.
5. Jaminan kenyamanan dan keamanan di angkutan umum.

Kemanan dan Pertahanan
1. Dilarang memukul, mengeroyok dan lain-lain kekerasan dengan alasan apapun.
2. Gaji polisi dan tentara, jaksa dan hakim mulai pangkat terrendah setara 100 gram emas setiap bulan.
3. Angkatan Bersenjata terlatih dan kuat dengan peralatan yang baik dan moderen.
4. Sekali-sekali parade atau “show of force”
5. Mereka bertugas menjamin kemanan dan keamanan bagi Negeri dan pelayanan masyarakat.

Kebudayaan
1. Membangun dan menjaga kelestarian budaya suku bangsa Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika makin berakar kuat.
2. Saling menghargai dan saling menghormati.

Keuangan, Investasi, Industri dan utang piutang
1. Negara tidak boleh menambah utang dengan alasan apapun, kita harus bisa hidup dengan kemampuan dan keberadaan kita sendiri.
2. Dengan demikian semua lembaga keuangan yang suka memberi pinjaman harus segera keluar dari negeri tercinta, misalnya IBRD, ADB, JBIC, …dan lain sebagainya. Go to hell with your money.
3. Membuka dan memberi fasilitas kepada “investor-industri” yang diperlukan di dalam negeri tercinta.
4. Semua biaya yang dibutuhkan berasal dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, dan kekayaan negeri tercinta. (Tambang minyak, gas, batubara dan lain-lain)

Birokrasi dan pegawai pemerintah
1. Gaji paling rendah setara 100 gram emas setiap bulan.
2. Disiplin, berbudipekerti, saling menghormati dan menghargai. Bekerja untuk rakyat tanpa pandang bulu demi kemajuan negeri tercinta.

Hukuman bagi pelanggaran
1. Hukuman berat, tidak ada ampun. Namun tetap diberikan tempat dan kesempatan untuk bertobat bagi setiap orang yang dihukum. (gaji sudah besar. hehehe..)

Hal-hal lain
1. Akan kupilih menteri menteri yang hebat, pintar, dan rendah hati, sesuai dengan disiplin ilmunya dalam melaksanakan program kerja tersebut.
2. Mari kita bekerja sama, dengan tekun dan senang hati dimanapun kita berada demi anak cucu kita.
__________________________________
dari Bisik-bisik: Untung saya bukan presiden, kalau tidak maka:…!!!

Written by Singal

June 19, 2009 at 10:04 pm

Koalisi Berbagi Kekuasaan atau Gotong Royong

with 29 comments

Gotong royong adalah salah satu budaya negeri tercinta, tolong menolong membajak sawah, memanen, membuat jalan, membuat irigasi, menjaga kebersihan, keamanan dan lain-lain yang berguna, hasilnya langsung dikecap masyarakat.

Gotong royong membongkar dan melanda batas rasial, melanda batas diskriminasi. Gotong royong satu perasaan, satu tujuan, satu cita-cita, pengamalan pancasila dan buah bhineka tunggal ika.

Gotong royong berakar kuat!, sayang….., kini…pohon dan daunnya mengering hampir rontok meski di negeri tercinta tidak ada musim gugur, ia tertelan siapa loe siapa gue. Tertelan oleh kendaraan macet dan jalan penuh lobang. Tertelan hutan beton dan gemerlap lampu kristal, tertelan sumbangan penyalur kebaikan yang berpakaian bagus, ganteng, cantik dan suka berkoar-koar sebagai orang baik.

Kini..gotong royong hanya tumbuh subur pada gelandangan, pemulung, nelayan dan petani, berlawanan dengan politikus, mereka bekerja sama, tolong menolong juga, mereka sebut koalisi.

Koalisi, politikus?!. Mereka berunding dulu, sering sangat alot lalu mereka meberitakannya. Informasinya tidak jelas, mereka hanya menyatakan sudah sepakat, sudah sepaham, sudah saling mengerti. Aneh…menurutku.

Kita hanya menduga dan menebak apanya yang sepaham, apanya yang sepakat, apanya yang saling mengerti. Mereka hanya berbagi kekuasaan.

(Nb. setelah postingan ini, terbit 13 jam lebih, saya mengganti judulnya dari “Gotong royong, Berbagi kekuasaan” menjadi “Koalisi Berbagi Kekuasaan atau Gotong Royong” tanpa merobah isinya.)
__________________________________
dari Bisik-bisik: Gotong royong memang berbeda dengan koalisi, iya kan?!.

Written by Singal

May 29, 2009 at 6:49 pm

Pemilu, Pemilihan Umum untukmu Indonesia

with 30 comments

Mengisi kekosongan dengan buru-buru….hehehe…

“Aku tidak suka pangkat Jenderal” kata Naga Bonar, “aku jadi Marsekal saja” lanjutnya kepada si Lukman. “Lagipula untuk apa pangkat itu, tak perlu itu buatku”.

“Perlu bang, perluuu…” sahut Lukman, “biar Belanda itu jelas berunding dengan siapa”.

Si Lukman ini sangat hebat, dia yang mengatur dan memilih semua pangkat pasukan Naga Bonar, karena cuma dia anak sekolahan, atau setidaknya pernah duduk dibangku sekolah. Namun ada satu orang yang protes.

Si Bujang sang ajudan protes, karena pangkatnya letnan, sedang temannya mayor, lagi pula dia merasa paling berjasa karena menggendong ibu Nagabonar kalau Belanda datang, mereka berlari ke tempat perlindungan.

“Aaaah!..mana kutaaau ituu, si Lukman yang buat paaangkat Jang…..!!!, kalau begitu kau sersan mayor saaja lah!, ada sersaaannya ada juga mayooornya” teriak Naga Bonar dengan enteng sambil membelakangi si Bujang sembari melihat kearah rimba di depannya.

Pemilihan yang hebat, dan jelas posisinya, meski bukan pemilhan umum.

Dalam waktu dekat, kita menjadi si Lukman, bukan memilih dan menentukan pangkat, melainkan memilih wakil kita atau anggota DPR, DPRD I dan DPRD II, untuk menentukan nasib bangsa dan masyarakat secara umum. Memberi kemudi kendaraan namanya Indonesia kepada mereka yang kita pilih untuk menjalankannya.

Selamat memilih dan semoga pilihan kita itu adalah supir yang tepat dan baik, dapat diandalkan, mereka dapat mengemudikan dengan benar seperti Hamilton, Raikonnen, Masa, Alonso dan lain-lain di mobil roket formula satu.

Naga Bonar terbukti tangguh, seperti juga Hamilton, Raikonnen, Masa dan Alonso. Caleg (Calon Legislatif) yang terbukti tangguh, “siapa ya… no comment! ask yourself!…. semoga ada supir tangguh untukmu Indonesia “.
________________________________
dari Bisik-bisik: Selamat memilih wakilmu!

Written by Singal

April 3, 2009 at 7:20 pm

Berbahagia Apa Adanya

with 38 comments

Obrolan dengan temanku.

“Senang saya melihat bapak”, kataku kepada seorang teman, di suatu tempat di tengah hutan karet berbukit sebelah utara, Jawa Tengah.
“Bapak selalu memancarkan senyum meski dalam keadaan lelah begini, raut mukamu tetap berseri, hehehe”, lanjutku.

“Tiga kondisi yang selalu saya usahakan agar terlaksana, pertama membahagiakan diri dengan apa adanya, kedua membahagiakan keluarga dengan apa adanya, ketiga membahagiakan tetangga dan lingkungan dengan apa adanya. Nah! saat ini saya sedang membahagiakan diriku..”, katanya, tangannya memegang lutut kaki kanannya menekuk berpijak di ketinggian sedang kaki kirinya lurus berpijak di tempat yang lebih rendah.

“Semacam setting atau pengaturan ekonomi pribadi, ekonomi keluarga dan ekonomi lingkungan, begitulah…!, kita kan tidak hidup sendirian jadi semua kita lakoni dengan senang” dia melanjutkan dengan bersemangat, “Saya selalu merencanakan setting yang sangat rendah, sehingga bila kenyataannya sama atau sedikit lebih tinggi, maka saya sudah senang. Bila kenyataannya jauh lebih tinggi, wah..senang banget..jadi…semua keinginan kusesuaikan, bahkan kurendahkan sedikit dibawah kemampuanku” katanya.

“Luar biasa…” kataku, “Semacam kita miskin harta, tanpa jabatan tetapi tetap bahagia. Bahagia apa adanya” lanjutku.
“Betul…karena keinginan itu sering membuat kita susah…hahaha..” sergahnya, kami mulai menuruni bukit, menuju lembah.

Sambil mengagumi pemandangan musim panen bulan Februari, kugoda lagi temanku “berarti bapak sebebarnya tidak punya cita-cita dong..”
“cita-cita?!, ambisi maksudmu?!..” tanyanya…
“apalah semacam rencana dan usaha untuk masa depan yang lebih baik, daripada apa adanya” jawabku.
“bahagia apa adanya..itulah usaha dan cita-citaku..” katanya sambil melompat ke jalan setapak, dan menuju mobil kami diparkir.

“Coba lihat dan pikir”, katanya “banyak orang berpisah dengan temannya karena berbagai macam sebab, menurutku sih…penyebabnya sederhana saja, semua itu karena keinginan yang melebihi kemampuannya, sehingga…. pastilah tidak terpenuhi”.
“Seperti caleg?!…parpol?!..itu maksudmu?!..”, kataku
“hahaha..”, kami masuk mobil melanjutkan perjalanan, matahari memerah melukis awan dan sekelilingnya.
__________________________________________
dari Bisik-bisik: Berbahagia apa adanya!, iya kan?!.

Written by Singal

February 24, 2009 at 9:24 pm