Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘Korupsi’ Category

Menteri..oh..Menteri, pernahkah?

with one comment

Dia tetap melahap makanannya,  setengah piring nasi, sambal, sayur tempe tahu dan teh hangat, tidak perduli gaduhnya suara orang-orang disampingnya atas “kebijakan pemerintah yang tidak bijak” menurut mereka karena harga minyak naik.

Bagi dia, semua itu omong kosong, bagi dia nasi setengah, tempe dan tahu sekali makan cukup!, dia malah heran mengapa pula orang orang meributkan  pemerintah dan menteri-menterinya yang memberi penjelasan itu, dan heran juga mengapa pemerintah harus menjelaskannya. “Mereka tidak mengerti kebutuhanku” kata hatinya, sembari mengerakkan kakinya berdiri, membayar makanannya 5000 rupiah, lalu menarik gerobaknya menghilang dari pandangan.

Wajah menteri-menteri yang berbaju bagus, tampak di televisi, mereka semua hadir lengkap kata penyiar TV, mungkin pemerintah mau menunjukkan mereka semua bersatu seia sekata. paling tidak di depan masyarakat. Menurutku mereka tampil seperti aktor bukan sebagai dirinya, memberitahu kesulitan negara, tetapi negara akan melindungi rakyat, mereka menjelaskan negara ini peduli rakyat maka BLSM atau Bantuan Langsung Sementara Masyarakat, akan segera juga terbit dan dibagikan.  Lalu memberi jawaban atas pertanyaan wartawan, setelah itu televisinya menyiarkan iklan, sayang kalau uangnya hilang percuma.

Kini aku menggerutu karena macetnya jalan jakarta, mungkin menteri menteri itu, tidak pernah melihat atau merasakan kemacetan ini. Bus,  Metro Mini dan angkutan umum lain,  justru “ngetem”  pada saat puncak kegiatan harian kota. Mereka menahan lalu lintas alias berhenti meski lampu sudah hijau hingga lampu kembali merah. Mereka menjalankan busnya dengan lambat lalu berhenti, menunggu penumpang yang melambaikan tangannya dari jauh, dari gang atau jalan pertigaan. Mereka para supir, akhirnya tetap meneguk air liur pahitnya karena busnya tetap kosong. Mereka para supir, juga tidak perduli isi pidato itu, mereka perduli pada setoran yang tak kunjung dapat.  Istri, anaknya, keluarganya perlu makan, perlu sekolah, dan terselip dalam pikiranku “mereka juga perlu rekreasi”.

Gerutuku bermunculan, pernahkah menteri-menteri itu merasakan kejamnya gelombang sepeda motor Jakarta?, pernahkah mereka merasakan sakitnya pejalan kaki, karena gelombang sepada motor menyita jalan mereka?. Pernahkah para menteri memikirkan bahwa gelombang sepeda motor lahir karena angkutan umum tidak nyaman?. Pernahkah para menteri ngobrol satu sama lain mengenai, gelombang sepeda motor menjadi predator alias pembunuh angkutan umum yang tidak nyaman itu?. Pikirku “mereka para menteri pasti mengetahui itu, tapi tidak (mau) merasakannya apalagi penderitaan para supir itu”. Saat ini sepeda motor menjadi tsunami bergerak tanpa hambatan. Dan minyak penggeraknya.

Produsen motor dan mobil seperti Honda, Yamaha, Suzuki, Toyota, Mitshubissi dan produsen lainnya menguasai jalanan. Normalnya sebagai perusahaan, pastilah managemennya bangga atas kesuksesan peningkatan penjualan tiap tahun. Perusahaan media masa dan televisi juga pastilah kebagian dari kesuksesan itu karena iklan. Tentu saja pengusaha jalan tol kebagian untung sangat besar, sampai-sampai mereka punya hak untuk menaikkan tarif secara otomatis pada waktu tertentu secara reguler.

Sementara negeri ini,  melalui para menteri dan punggawanya akan membagi-bagikan uang kompensasi  atau BLSM kepada rakyat kecil,  pikirku,  angkutan publik yang baik dan nyaman tidak mungkin ada dalam waktu dekat ini, meski ini salah satu cara mengurangi kebutuhan minyak, juga tidak atau belum untuk infrastruktur, jalan, irigasi dan lainmya. Oh..Menteri..Menteri, saya melapor, “dugaanku, ada yang memerlukan bahkan mempertahankan kemacetan”. Maka rel dan kereta api  dari Jakarta ke Bandara Sukarno-Hatta tidak mungkin ada, meski dalam pikiranku, untuk mengadakannya hanya sebuah surat perintah lalu pidato pernyataan,  seperti  pidato kenaikan harga minyak.

_________________________________________

dari Bisik-bisik:  Semoga para menteri tidak mengetahui itu…hehehe.

Advertisements

Written by Singal

June 22, 2013 at 12:33 pm

Ekonomi dan Penguasa

with 6 comments

Gambaran kemajuan ekonomi negeri ini, mungkin bisa diwakili iklan real estate di radio, televisi dan media masa “Cuma satu setengah miliar rupiah, buruan ..sebentar lagi naik” para penguasa negeri pun tidak habis-habisnya menyatakan kita bertambah maju. Sementara itu, saya selalu menghitung lembaran uang di kantong, semoga cukup sampai akhir bulan.

Ketika saya menulis paragraf diatas, tiba-tiba temanku masuk dengan wajah yang ceria dan berseri, tangannya menggenggam plastik “oleh-oleh dari Cirebon pak” katanya, “hebat…ntar buka di depan teman-teman” sambutku, “baik pak..”. Hmmm…saya membayangkan kantongnya sudah kosong, tetapi hatinya sangat kaya tidak ternilai.

Bisa juga gambaran kemajuan ekonomi itu, diwakili makin banyaknya mobil dan motor alias kendaraan di Jakarta dan kota besar, berarti penduduk negeri mampu menghabiskan, waktu dan ongkos transport lebih besar dari biaya bahan pokoknya. Sementara itu pengemis anak kecil juga makin banyak di lampu-lampu merah jalanan, yang seharusnya mereka berada di sekolah atau di rumah untuk belajar.

Kemarin pagi saya dengar di radio Elshinta jalan Martadinata antara Priok dan Ancol ditutup, karena ambrol . Sebelumnya hujan deras membasahi Jakarta dan sekitarnya. Biasa!..sorenya saya dengar di radio yang sama, penjelasan-penjelasan dari penguasa tentang itu, banyak hal mulai dari lingkungan, jalan tua, dan lain-lain yang saya kurang mengerti.

Akhir-akhir ini, pemerintah sedang menyiapkan, ketua dan anggota KPK, Jaksa Agung dan Kapolri. Mereka ini akan mejadi pemegang kendali dan penjaga kebenaran. Penjaga keamanan dan kenyamanan, penjaga para pelaksana undang-undang , semoga mereka benar penjaga kebenaran. Semoga mereka adalah orang sehat baik pikiran jiwa dan rohani.

Sungguh orang yang sedang mengalami sakit jiwalah ketika dalam kekuasaannya seharusnya menyatakan yang benar tetapi mulutnya terkatub rapat, kalaupun terbuka bahkan menyatakan sebaliknya. Sungguh orang yang sakit jiwalah ketika dalam kekuasaannya seharusnya menolong orang lemah tetapi diam dan menonton saja. Sungguh orang sakit jiwalah yang dalam kekuasaannya membiarkan orang memukuli dan melukai orang lain padahal sudah tahu sebelumnya.
___________________________________________________
Dari Bisik-bisik: katanya koruptor bisa bebas kalau dinyatakan sakit berat apalagi sakit jiwa.

Written by Singal

September 17, 2010 at 8:28 am

Menular, Terasa Hambar Sang Kaisar!

with 9 comments

Kuurungkan menegur sahabatku pagi itu, wajahnya lebih cemberut dari biasanya. Tiap pagi, tegur sapa selalu keluar dari mulutku “Selamat pagi!, apa kabar pak!?” meskipun saya tidak begitu peduli ada jawaban atau tidak. Dia duduk, lalu saya mendapat hadiah, bunyi benturan keras tutup buka laci dan buku dengan permukaan meja serta suara kecil gerutuan. Sudah terbiasa bagi saya menghadapi sahabatku yang satu ini. Tentu saja, saya selalu datang duluan karena saya tidak suka macet jalanan Jakarta. Sahabatku itu itu tersenyum hambar kearahku, menularkan senyuman hambar bibirku. “loe itu selalu nggrutu aje” kataku, lalu kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Tiba tiba sang kaisar manajer sipemalas tetapi sangat pintar, tidak berperasaan menurut kita, datang, memberi pengarahan yang sangat baik tentang kerja keras, penuh basa basi, kesuksesan perusahaan dan bagaimana harus mempertahankannya. Karena beliau kaisar maka kita menjawabnya “baik pak!” setelah dia pergi kita merasa hambar, atas nasehat yang sangat teoritis bagus masuk logika dan hebatlah pokoknya.

“Misteri kita tergantung bagaimana kita!” kataku pada seorang teman lainnya, meski saya tidak ingin menasehati orang itu, karena saya juga masih perlu dinasehati. “Coba bayangkan kalau kamu menyakiti orang, maka dalam hatinya akan bilang sialan orang ini, lalu dia bercerita sama temannya dan mengamini bahwa anda itu sialan”. Menurutku, sebuah misteri akan mengawang di angkasa seperti gelombang radio, alampun mendengar dan merasakannya, kemudian kita ketibaan sial, kebentur meja dan tersandung pada kerikil kecil. Terasa hambar juga nasehatku itu, karena mungkin teman ini tidak mengharapkan nasehat dariku, melainkan menginginkan mengamini perasaan ketidak sukaannya pada orang lain.

Maka misteri apa gerangan yang terjadi di negeri ini, harga-harga pada naik, sembako, listrik, tabung gas meledak, jalan macet, rusak tidak teratur, hutan gundul, lumpur lapindo, sementara orang terhormat, para kaisar dan para pakar yang makin banyak, menjelaskan mengapa dan apanya serta bagaimana menanggulanginya, dengan intonasi suara penuh perasaan, dilapis kehebatan dan kebanggan karena hidupnya memang sukses, dilihat dari kekuasaannya, bahkan dari baju yang dipakai. Mereka menjelaskan penuh himbauan, ilmu dan teori. Terasa hambar paling tidak menurutku.

Sangat kontras dengan temanku si wajah ceria, gaji kecil, pakaian sangat sangat sederhana, penuh dengan senyuman yang cerah, secerah wajahnya, menularkannya dengan sangat cepat, terbukti dengan kita otomatis menggerakkan bibir, tersenyum cerah juga, menggairahkan urat-urat halus mengalirkan darah, menyegarkan dan menyehatkan wajah kita, “hai..apa kabar?”, “baik..pak” betapa senangnya dan kita menyenanginya. Terasa manis.
_______________________________________
dar Bisik-bisik:Himbauan, teori..terasa hambar!

Written by Singal

July 31, 2010 at 11:24 am

Kucing Putih, Kucing Hitam dan Nasionalisme!

with 38 comments

Obrolan dengan temanku Moh. Roem Lubis dan Moh. Nuh, di suatu tempat di tengah hutan Sumatera Selatan.

Membuat keputusan ditengah ketidakpastian, ibarat kita sedang berada di atas puing-puing yang terapung di tengah lautan, mengikuti arus yang selalu berubah arah setiap saat, tanpa batas, memberi rasa tidak nyaman yang tak terhingga, yang ada hanya harapan “Semoga arus ke arah daratan, semoga ada kapal penolong datang, berbagai semoga…tujuannya hanya ingin selamat, ingin hidup”. Sebuah harapan yang tidak pasti, karena tidak ada kemudi alias loss control.

“Saya tidak peduli, apa itu kucing putih atau kucing hitam, sejauh kucing itu bisa menangkap tikus, itu kucing yang baik” kata pemimpin Cina Deng Xiaoping, dan negeri Cina makin maju seperti sekarang. Dia menyatukan perbedaan ideologi. “Pertikaian ideologi membuat Cina terbelakang”.

Lalu, Deng mengirim sangat banyak mahasiswa berbagai disipilin ilmu, ke luar negeri, konon ratusan ribu orang. 25 (duapuluh lima) tahun kemudian, lebih dari sepuluh ribu orang dari antara mereka pulang, seraya memberi kontribusi yang hebat, membangun Cina moderen. Deng sang pemimpin, sudah almarhum ketika mereka pulang. Namun, beliau telah memberi kemudi untuk mengontrol ketidakpastian menjadi harapan yang pasti.

Suatu saat saya bercakap-cakap dengan seorang teman,
“Loe itu kalo dihubungi, ga pernah ada di tempat” kataku,
“Ruangan di kantor kami sedang diperbaiki. Saat ini kami semua berada dalam satu ruangan seperti di kelas, tidak ada batas, jadi tidak nyaman” jawabnya.
“Bah..kita kan, menyelesaikan pekerjaan kita sendiri, jadi perasaan seperti itu perlu dimatikan” sahutku.
“Ga..lah.. kayak kamu ga tau aja…, pokoknya ga nyaman!..” suaranya sudah mulai meninggi.
“Hati-hati..loe harus sering tarik napas..bebaskan pikiranmu….agar tidak stress…hehehe” jawabku menutup pembicaraan.
Meski kondisi dan situasi seperti itu relatif, dalam hati, saya benarkan juga pendapatnya.

Tanpa batas, sering menambah ketidakpastian, dapat membuat sebuah sistem tidak bisa dikontrol (uncontrolled system condition), dapat membuat keseimbangan terganggu dan tidak stabil. Dalam ketidakstabilan kita hanya berharap semoga tidak collapse atau ambruk.

Sebentar lagi kita akan memilih calon legislatif dan calon pemimpin yang akan mememegang kemudi negeri tercinta, Mereka para calon akan mewujudkan legenda pribadinya, kita hanya berharap ketika mereka sudah duduk di kursinya, semoga mereka searah menyuarakan dan mengemudikan kepentingan bangsa.

Maju!, tidak hanya berjanji mementingkan kepentingan pribadi, kelompok dan ideologi, mencari-cari kelemahan dan kesalahan, lupa membangun, lupa cita-cita dan lupa arah.

Suatu saat Obama menyatakan dalam kampanyenya “There will be time to punish those who set this fire, but now is the moment for us to come together and put the fire out.” , juga ketika si lelaki tua menyatakan kepada si Santiago bocah kecil “harta terungkap oleh kekuatan air yang mengalir, dan terkubur oleh arus yang sama” (Novel, Sang Alkemis, Paulo Coelho).

Harapan kita, suatu saat, siapapun yang jadi anggota legislatif dan yang menjadi pemimpin semoga mereka memberi kepastian arah bagi kepentingan bangsa.

Gong Xi Fa Cai
Selamat Tahun Baru Imlek
Tambah rezeki, tambah sehat dan panjang umur.
_________________________________
dari Bisik-bisik: Bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh, iya kan?!, mari! pentingkan kebutuhan bangsa, sesuai kompetensi kita!

Written by Singal

January 26, 2009 at 6:32 pm

Change!, Harta Tak Laku di Surga

with 38 comments

Sehari setelah Barack Obama terpilih jadi presiden harga saham global malah turun. Mungkin para orang kaya makin takut gara-gara model ekonominya, mereka kegerahan dan terpaksa menjual sahamnya, sehingga harganya jatuh lagi. Pajak golongan penghasilan menengah kebawah dikurangi makin kecil sedang pajak orang kaya ditambah atau makin besar Saya membayangkan para opportunis, berpikir keras, memanfaatkan kesempatan atas pidatonya “Change has come to America”, meski tetap saja lebih dari 200.000 orang kehilangan pekerjaan.

Sementara itu, menteri keuangan negeri tercinta, mengumumkan harga bensin premium akan turun 500 rupiah dari 6000 rp. menjadi 5500 rp. mulai pada bulan Desember yang akan datang, disambut protes supir angkutan umum, nelayan dan pengurus organisasi angkutan lainnya. “harga minyak solar juga harus diturunkan” seru mereka. Dan hampir berbarengan dengan itu, di berbagai kota, para buruh berteriak-teriak menentang SKB 4 menteri (tenaga kerja, dalam negeri, perindustrian dan perdagangan) karena konon menyengsarakan mereka.

Tiap kali lampu merah menyala, anak-anak itu menyebar, menepukkan kedua telapak tangannya keras-keras ke dekat jendela mobil yang berhenti, ada juga yang menggoyangkan tongkat kecil sehingga kumpulan dua atau tiga tutup botol berlapis longgar yang dipaku di ujungnya, berbunyi “krik..krriik..krik” sambil menengadahkan tangannya, dan di ujung jalan, seorang dewasa tampak mengawasi mereka. Mereka akan menyingkir ke punggung pemisah jalan atau trotoar sempit, bila lampu bertukar warnanya menjadi hijau, mereka bagian dari generasi penerus bangsa. Change always come, but what a change! . Setahu saya para wakil rakyat atau setidaknya media massa jarang membicarakan atau menyentuh kehidupan mereka. Lebih peduli memantau KPU yang sedang sibuk memeriksa keabsahan data para caleg, sebagian lagi sibuk memikirkan jurus jitu menghadapi pemilu, “mereka ingin berkuasa”.

“Change!!”. “change has come to this world”, “change has come to this century”. Mereka para demokrat jadi pemimpin, menguasai senat, menguasai DPR, sangat menjunjung hak azasi manusia, dan mereka melakukan segala daya upaya untuk itu. Akankah ada negara baru yang lahir di dunia ini demi hak azasi manusia?. Para separatis, para minoritas menggunakan alasan hak azasi, untuk memimpin, untuk mengatur diri sendiri atau untuk kaya. Teringat akan presiden Kennedy, Johnson, Carter dan Clinton, mereka dari partai Demokrat, di sela era partai Republik, barangkali, ada saja yang bergejolak, ada saja yang ingin berkuasa.

Suatu ketika, saya pernah bilang kepada seseorang!. “Pasti kamu sangat senang sebagai orang kaya”. Lalu dia menimpali “harta tak laku di surga, dibawa ke neraka terbakar, dibawa kedalam kubur digali orang, tak pernah kujaga bahkan tak pernah kupikirkan itu”. Hebat….

Sepak terjang KPK makin menggebu memeriksa banyak pejabat dan bekas pejabat yang disangka korupsi, bermacam-macam alasan mengapa mereka melakukan itu. Pada hal, sudah makin jelas, keinginan kaya, keinginan berkuasa, yang sering menghancurkan keserasian lingkungan, sering mengabaikan kebersamaan, sering menumbuhkan kesengsaraan, itulah penyebabnya.

Hmmm…semoga mereka yang sudah kaya, yang sudah berkuasa dapat berbagi rasa! berbagi pekerjaan, berbagi kepada rakyat banyak.
___________________________________
dari Bisik-bisik: Kebersamaan itu disimpan dimana?, kok… sering tidak kelihatan, iya kan?!

Written by Singal

November 12, 2008 at 3:38 pm

“Jangan Panik!”, Panik Juga!

with 30 comments

Ketika krisis kredit perumahan di Amerika Serikat kedengaran dan diberitakan di media massa, negeri kita masih tenang-tenang saja, bahkan setelah goncangannya terasa, kita masih disuruh tenang. Jajaran pimpinan negeri kita berkata, “tidak perlu panik”, dan “Pengaruh krisis ekonomi di Amerika Serikat hanya berpengaruh sedikit terhadap perekonomian kita!”.

Apa yang terjadi?!, tidak lama setelah pernyataan itu, ternyata Bursa Efek Jakarta (BEJ) menghentikan perdagangan saham, selang waktu sehari dibuka dan dihentikan lagi, ternyata orang kaya itu alias investor panik. Saya heran juga!, kalau pemimpin negeri ini sudah berkata “jangan panik”, ternyata tidak manjur bagi orang-orang kaya.

Karena saya miskin, sebagaimana kebanyakan rakyat, jelaslah tidak panik alias tidak ada alasan untuk panik, namun tetap penuh harap semoga negeri ini tidak dilanda krisis itu. Mereka, orang kaya itu tetap harus ditolong (aneh juga saya ini, hehehei) agar pabrik atau perusahaannya tidak tutup, sehingga tidak ada pengurangan tenaga kerja.

Kabar terakhir, di media massa, pemerintah telah menyiapkan dana yang lumayan besar untuk menolong pasar di BEJ, semoga jurus ini masih sempat?!. Mengapa?!, karena terlalu sering kita menangkis setelah terpukul, hehehe…
_____________________________
dari Bisik-bisik: Orang kaya ternyata banyak juga yang stress, dan panik, iya kan?!

Written by Singal

October 12, 2008 at 9:18 pm

Fail to Plan, Plan to Fail, Listrik Padam, Harga Naik

with 28 comments

“Sedia payung sebelum hujan” nasehat orangtua dan guru kepada kita. “Sesuatu yang mungkin terjadi pasti terjadi”, kata Murphy yang terkenal itu.

Entah apa yang terjadi sepanjang hari Senin itu, semua serba salah sejak subuh pagi, bebannya terasa berat. “Itulah, kamu sejak jumat sore saya sudah ingatkan” kata istrinya nyerocos tak henti henti, “kamu bilang besok saja, itu cuma sebentar, lalu sebentarnya manaaaa?!”.

Sementara omelan istrinya masih terngiang, hanya karena soal sepele, entah mengapa dia lupa memperbaiki kunci pintu rumahnya. Tiba-tiba!, pintu kamar kerjanya terbuka “Sudah kuperintahkan kamu supaya lembur, menyelesaikan pekerjaan ini, sekarang kamu mau bilang apa lagi, saya sudah diminta pak Direktur, agar dipresentasikan kepada mitra kerja kita, pagi ini juga!”. terdengar teguran keras dari bosnya.

Aduuh!!, sial benar, bahkan memalukan. Semuanya pekerjaan mudah,  gagal semuanya. Bayangan pekerjaan itu berputar-putar dalam benaknya. Tidak ada maaf, yang ada hanya penyesalan dan pengakuan atas kegagalan karena kelalaiannya. Pengakuan atas kegagalan merencanakan, samadengan merencanakan kegagalan, pikirnya. Tidak akan terulang lagi, akan kuperbaiki sikapku, lanjutnya dalam hati.

Dampak kegagalannya sungguh luar biasa, istrinya terpaksa tinggal dirumah, tidak pergi ke tempat kerjanya di pabrik, sementara tiga orang anaknya semua pergi kesekolah, salah seorang diantaranya akan masuk keperguruan tinggi tahun ini. Kantornya kehilangan kesempatan, gagal mencapai perjanjian kerja sama dengan mitranya.

Sorenya, setiba di rumah, “sudah kamu beli lilinnya?!” tanya istrinya dengan suara meninggi. “Sebentar ma!, saya akan beli ke warung seberang jalan sana”, dia menghilang dengan cepat. Lagi…lagi…, dia lupa, hari itu daerah mereka kebagian pemadaman listrik. Sial benar hari ini!, semoga lilinnya belum habis, kalau habis saya terpaksa pergi ke supermarket, dengan jarak tempuh pergi pulang dua jam dan sudah gelap, katanya dalam hati, sambil melangkah dengan cepat. Tadi, dia bahkan belum sempat melangkahkan kakinya dipintu rumahnya.

“Hei…, bung minggir”, seru kondektur bus, dia hampir keserempet. Dia jalan cepat cepat, sambil terbawa dalam berbagai macam kejadian yang dihadapinya tiap hari. Harga bahan pokok termasuk minyak, gas dan biaya pendidikan makin mahal karena gajinya kecil, jalan-jalan penuh lobang, macet, penumpang angkutan kota berhimpit himpitan, copet, pengendara motor, pak ogah dan lain sebagainya yang bukan urusannya muncul dan berlarian di benaknya. Biang keladi alias penyebab yang diberikan penguasa negeri, sungguh dia tidak mengerti. Yang terjadi adalah, semuanya seolah menjadi beban hidupnya.

Hmmm…Fail to plan, Plan to fail… jangan jangan itu yang terjadi pikirnya, dia telah lupa, tadi nyawanya hampir melayang diterbangkan bus. Cuma, siapa yang menyesal, siapa yang mengaku lalai dan gagal?! kalau tidak ada siapa siapa, berarti tidak ada yang perlu diperbaiki, toh…, ternyata tidak ada yang salah, dia berdialog terus dengan dirinya, sambil berjalan menenteng lilin yang akan dinyalakan untuk menerangi kegelapan malam di rumah dengan keluarga tercinta.

_________________________

dari Bisik-bisik: Kita tersandung dan jatuh karena kerikil bukan karena batu besar, iya kan?! Dengan menyusun rencana yang baik pasti menghasilkan yang baik, begitu maksudnya kan?!

Written by Singal

July 4, 2008 at 9:57 pm