Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Karakter Hebat

with one comment

Written by Singal

December 21, 2010 at 9:41 pm

Posted in Uncategorized

Karakter Hebat

with 11 comments

Fiksi

Saya tersentak, tegukan kopi pagi dimulutku tertumpah membasahi koran yang sedang kubaca, terkejut. “Satu keluarga diselamatkan orang yang menderita lupa ingatan dan cacat mental”. Tiba-tiba deringan telepon memaksa saya bangkit dari kursi. “Ini Haryanto…sudah dengar kabar belom” kata suara dari sana tanpa bertanya dengan siapa dia bicara. “ya..ya…pak.. baru saya baca koran” sahutku menebak pikirannya. “Hebat teman kita itu…bisa juga dia sembuh, saya sangat senang…saya ikut bahagiaaaaa…oooh Tuhan terimakasih..”, “saya juga… “, jawabku, mataku berkaca-kaca. Lalu saya buru-buru bersiap berangkat, karena kami janjian pergi menemui mereka pagi ini. Tigor, teman kami yang menderita lupa ingatan dan seolah cacat mental menyelamatkan keluarganya dari jurang. Mobil mereka jatuh, semua luka berat hanya dia yang tidak cedera.

Sebagian masa-lalu ketika kami mahasiswa muncul di benakku, kami penuh canda penuh ceria selalu bersama kemanapun pergi meski tongpes karena kiriman ortu belum datang, naik bus “nompang bang…” . Ketika itu, kondektur bus pun masih mau kalau kita numpang sekali-sekali, semoga mereka beruntung dalam hidupnya. Lulus dan wisuda bersama, lalu mencari pekerjaan masing-masing. Tigor…teman kami yang paling baik, dia menjadi alarm atas kenakalan yang mungkin akan kami perbuat. Dia menjadi penyadar, dia menjadi pagar terakhir agar kenakalan dan kebandelan tidak melampaui batas.

Kami berpisah, jarang bertemu, berkeluarga dan mengarungi laut kehidupan masing-masing, hingga suatu saat Tigor mengalami kecelakaan di tempat kerjanya membuat dia lupa ingatan dan seolah sakit mental, tinggal di rumah dirawat istri dan anaknya. Keluarga hebat, bahagia dipimpin istri berkarakter hebat dan kuat, penuh pengabdian dan cinta. Istrinya selalu membawa suami dan anaknya ke gereja setiap hari minggu atau kegiatan lain. Istrinya kami gelari si malaikat bekerja keras untuk mereka!!!.

Hingga isi berita ini kami baca “…..suami yang menderita lupa ingatan selama lima belas tahun menyelamatkan seluruh keluarganya. Dini hari kemarin, mobil mereka yang dikemudikan istrinya pulang kampung untuk merayakan Natal, jatuh ke jurang sedalam 30 meter. Sementara air yang mengalir dijurang itu telah menggenangi mobil mereka, dia berhasil mengangkat istri dan tiga anaknya satu persatu ke atas, saat ini mereka telah dirawat di rumah sakit, ..….”.

Saya mengemudikan mobil menuju rumah sakit, sementara Haryanto duduk disamping , membaca koran pada berita itu berulang-ulang, menangis. Tigor mengenali kami, lalu berpelukan “Selamat Hari Natal..Tigor! selamat hari Natal untuk seluruh keluarga”. Tigor bilang “Kata dokter luka mereka tidak parah..mungkin sekitar dua hari tiga hari sudah bisa pulang ke rumah”. Tigor telah sembuh!!!.
___________________________________________________
Dari Bisik-bisik: Selamat Hari Natal, Damai selalu beserta kita.

Written by Singal

December 21, 2010 at 11:29 am

Fitnah, Kebenaran Bagian dari Ketidak-Sopanan

with 7 comments

Mungkin saya orang aneh, karena semua temanku boleh suka-suka menyatakan pendapatnya tentang saya, sehingga saya tidak pernah merasa difitnah. Jika seorang teman menyatakan kepada saya “Kata si Anu, kamu itu seperti binatang liar yang busuk” lalu akan saya jawab “itu haknya, biarkan saja”.

Tentu saja persoalannya menjadi lain, kalau si Anu itu, langsung ngomong kepada saya. Perkara pendapatnya melalui teman, itu soalnya sendiri, dan tidak perlu saya konfrontir, karena kalau dikonfrontirpun, tidak menghasilkan apapun yang baik, selain dari gesekan yang melebar dan membuat panas, yang menimbulkan berbagai penyakit dan celaka.

Saya tidak heran, kalau membaca atau mendengar berita yang membuat gesekan, karena mungkin itu bagian dari penghasilan mereka. Yang membuat saya heran adalah timbulnya pertahanan diri dari sumber dan obyek berita dengan menumpahkan kehebatannya dengan banyak embel-embel hasil karya, yang intinya mereka seharusnya dipuji. Jelaslah!, apalagi kalau tukang koar-koar di TV dan di suratkabar itu adalah para pengawal dan punggawa raja.

Saya salah seorang yang terbukti tidak begitu sukses dalam meniti karir, karena sering kalah dalam fit and proper test, maka saya sebenarnya tidak patut menyatakan alasan apapun seperti, “bahwa saya seorang tukang koar-koar yang tidak sopan, yang sering membuat para pengawal dan raja merah kuping. Gara-gara analisis yang saya berikan secara teknis sangat jelas kebenarannya, karena alat-ukur, timbangan, satuan menunjukkan kebenaran dan ternyata kebenaran adalah bagian dari ketidak sopanan”.

Saya juga tak peduli pada kata-kata “Fit and proper test, bagian dari KKN”, karena saya lebih memilih “Tuhan tidak menghendaki saya duduk ditempat itu, karena tidak mampu membuat kesulitan”. Maka saya hidup lebih tenang meski semua orang tetap bebas memberi pendapatnya tanpa terusik, karena saya tidak akan meraung-raung sambil menunjuk dada, prestasi dan kehebatan yang memang tidak ada apa-apanya.

Suatu saat, teman baikku datang “kok bapak kalah lagi?..”, dalam hati saya, “kapan Sengkuni masuk kedalam pikiran temanku ini”, lalu “dipikirnya saya familinya Kurawa”. “aahh.. saya tidak kalah, cuma tidak kepilih..” sahutku. Bisa juga, sebenarnya temanku menginginkan saya yang kepilih. Padahal buat saya sama saja. Dia tidak akan mengatakan itu kepada saya seandainya dia pernah mengenal Gorbachev si pemimpin Uni Sovyet sebelum bubar, yang mempunyai prinsip “selama kita tidak punya kekuasaan dan tidak memegang kemudi atau alat kendali, tetap saja kita harus patuh sebagai penumpang kapal.” setelah punya kekuasaan dan kendali maka “Glasnost dan Perestroika”.

Pikiran saya agak ngelantur ke negeri asing. Di hampir semua negeri maju dan mau maju, termasuk negeri tirai bambu, anggota kabinetnya terdiri dari teknokrat, ekonom, ilmuan dan budayawan. Maka mereka mengambil tindakan yang sangat terukur dan berempati, berpikir dengan menggunakan alat kebenaran, bahkan mengundurkan diri kalau janji tidak menjadi kenyataan. Karakter ini turun ke seluruh perusahaan, bahkan ke klub sepak bola dan kepada masyrakat.

Saya hanya berharap agar di negeri tercinta, semoga penguasa tidak pernah merasa difitnah, semoga penguasa tidak pernah menunjuk dada kebenaran dan kekuasaan kepada rakyat, apalagi mengutus tukang koar-koar dan tukang debat kusir dengan memakai batik mahal atau stelan jas dan dasi yang bagus, pasti dengan parfum yang semerbak dan wangi tetapi sangat memalukan karena kerjanya hanya memepertahankan diri yang tidak berguna bagi rakyat.

Masih banyak yang lebih penting dan perlu dibahas, yaitu bagian dari pertahanan negeri tercinta, seperti pendidikan, bangunan sekolah, jalan dan transportasi umum, pertanian dan pengairan, lapangan kerja dan pengangguran dan lain-lain yang lebih mengena langsung kepada rakyat banyak.
______________________________________
dari Bisik-bisik: Semoga mereka memberi contoh dengan menggunakan alat, ukuran dan kebenaran.

Written by Singal

October 16, 2010 at 4:08 pm

Ekonomi dan Penguasa

with 6 comments

Gambaran kemajuan ekonomi negeri ini, mungkin bisa diwakili iklan real estate di radio, televisi dan media masa “Cuma satu setengah miliar rupiah, buruan ..sebentar lagi naik” para penguasa negeri pun tidak habis-habisnya menyatakan kita bertambah maju. Sementara itu, saya selalu menghitung lembaran uang di kantong, semoga cukup sampai akhir bulan.

Ketika saya menulis paragraf diatas, tiba-tiba temanku masuk dengan wajah yang ceria dan berseri, tangannya menggenggam plastik “oleh-oleh dari Cirebon pak” katanya, “hebat…ntar buka di depan teman-teman” sambutku, “baik pak..”. Hmmm…saya membayangkan kantongnya sudah kosong, tetapi hatinya sangat kaya tidak ternilai.

Bisa juga gambaran kemajuan ekonomi itu, diwakili makin banyaknya mobil dan motor alias kendaraan di Jakarta dan kota besar, berarti penduduk negeri mampu menghabiskan, waktu dan ongkos transport lebih besar dari biaya bahan pokoknya. Sementara itu pengemis anak kecil juga makin banyak di lampu-lampu merah jalanan, yang seharusnya mereka berada di sekolah atau di rumah untuk belajar.

Kemarin pagi saya dengar di radio Elshinta jalan Martadinata antara Priok dan Ancol ditutup, karena ambrol . Sebelumnya hujan deras membasahi Jakarta dan sekitarnya. Biasa!..sorenya saya dengar di radio yang sama, penjelasan-penjelasan dari penguasa tentang itu, banyak hal mulai dari lingkungan, jalan tua, dan lain-lain yang saya kurang mengerti.

Akhir-akhir ini, pemerintah sedang menyiapkan, ketua dan anggota KPK, Jaksa Agung dan Kapolri. Mereka ini akan mejadi pemegang kendali dan penjaga kebenaran. Penjaga keamanan dan kenyamanan, penjaga para pelaksana undang-undang , semoga mereka benar penjaga kebenaran. Semoga mereka adalah orang sehat baik pikiran jiwa dan rohani.

Sungguh orang yang sedang mengalami sakit jiwalah ketika dalam kekuasaannya seharusnya menyatakan yang benar tetapi mulutnya terkatub rapat, kalaupun terbuka bahkan menyatakan sebaliknya. Sungguh orang yang sakit jiwalah ketika dalam kekuasaannya seharusnya menolong orang lemah tetapi diam dan menonton saja. Sungguh orang sakit jiwalah yang dalam kekuasaannya membiarkan orang memukuli dan melukai orang lain padahal sudah tahu sebelumnya.
___________________________________________________
Dari Bisik-bisik: katanya koruptor bisa bebas kalau dinyatakan sakit berat apalagi sakit jiwa.

Written by Singal

September 17, 2010 at 8:28 am

Menular, Terasa Hambar Sang Kaisar!

with 9 comments

Kuurungkan menegur sahabatku pagi itu, wajahnya lebih cemberut dari biasanya. Tiap pagi, tegur sapa selalu keluar dari mulutku “Selamat pagi!, apa kabar pak!?” meskipun saya tidak begitu peduli ada jawaban atau tidak. Dia duduk, lalu saya mendapat hadiah, bunyi benturan keras tutup buka laci dan buku dengan permukaan meja serta suara kecil gerutuan. Sudah terbiasa bagi saya menghadapi sahabatku yang satu ini. Tentu saja, saya selalu datang duluan karena saya tidak suka macet jalanan Jakarta. Sahabatku itu itu tersenyum hambar kearahku, menularkan senyuman hambar bibirku. “loe itu selalu nggrutu aje” kataku, lalu kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Tiba tiba sang kaisar manajer sipemalas tetapi sangat pintar, tidak berperasaan menurut kita, datang, memberi pengarahan yang sangat baik tentang kerja keras, penuh basa basi, kesuksesan perusahaan dan bagaimana harus mempertahankannya. Karena beliau kaisar maka kita menjawabnya “baik pak!” setelah dia pergi kita merasa hambar, atas nasehat yang sangat teoritis bagus masuk logika dan hebatlah pokoknya.

“Misteri kita tergantung bagaimana kita!” kataku pada seorang teman lainnya, meski saya tidak ingin menasehati orang itu, karena saya juga masih perlu dinasehati. “Coba bayangkan kalau kamu menyakiti orang, maka dalam hatinya akan bilang sialan orang ini, lalu dia bercerita sama temannya dan mengamini bahwa anda itu sialan”. Menurutku, sebuah misteri akan mengawang di angkasa seperti gelombang radio, alampun mendengar dan merasakannya, kemudian kita ketibaan sial, kebentur meja dan tersandung pada kerikil kecil. Terasa hambar juga nasehatku itu, karena mungkin teman ini tidak mengharapkan nasehat dariku, melainkan menginginkan mengamini perasaan ketidak sukaannya pada orang lain.

Maka misteri apa gerangan yang terjadi di negeri ini, harga-harga pada naik, sembako, listrik, tabung gas meledak, jalan macet, rusak tidak teratur, hutan gundul, lumpur lapindo, sementara orang terhormat, para kaisar dan para pakar yang makin banyak, menjelaskan mengapa dan apanya serta bagaimana menanggulanginya, dengan intonasi suara penuh perasaan, dilapis kehebatan dan kebanggan karena hidupnya memang sukses, dilihat dari kekuasaannya, bahkan dari baju yang dipakai. Mereka menjelaskan penuh himbauan, ilmu dan teori. Terasa hambar paling tidak menurutku.

Sangat kontras dengan temanku si wajah ceria, gaji kecil, pakaian sangat sangat sederhana, penuh dengan senyuman yang cerah, secerah wajahnya, menularkannya dengan sangat cepat, terbukti dengan kita otomatis menggerakkan bibir, tersenyum cerah juga, menggairahkan urat-urat halus mengalirkan darah, menyegarkan dan menyehatkan wajah kita, “hai..apa kabar?”, “baik..pak” betapa senangnya dan kita menyenanginya. Terasa manis.
_______________________________________
dar Bisik-bisik:Himbauan, teori..terasa hambar!

Written by Singal

July 31, 2010 at 11:24 am

Kakek

with 6 comments

Fiksi

“Kalian jangan lupa, kalian satu dalam tim, buat catatan sistem tagging, saling mengingatkan, setiap kesempatan jangan disia-siakan, jangan bikin malu..ok?, kalian diberangkatkan dengan doa oleh anak dan isteri atau suami atau orangtua” getaran suaranya menumbuhkan semangat yang dia tanam dalam hati mereka.

“Jangan bikin malu…diberangkatkan dengan doa oleh keluarga….., enak saja bapak itu ngomong, apa dia tau kita digaji kecil?” kata salah seorang dari mereka dalam perjalanan ke tempat tugas, “empat hari kan lumayan lama, pisah dengan keluarga” lanjutnya, sementara yang lain diam saja, mereka tahu sifat temannya, ngomongnya saja begitu, dia memang pekerja keras, pantang menyerah dan pembakar semangat.

Kejadian itu tidak pernah dia lupakan, dia istirahat sejenak menatap layar laptopnya dan membaca ulang kata-kata dan kalimat yang baru saja dia ketik, tatapannya menjadi kosong, pikirannya menerawang, hening…diam.

Kini dia tinggal sendiri. Sang bos hebat, dan teman-teman anggota timnya termasuk si pembakar semangat sudah lama pergi menghadap yang Mahakuasa. Masa tuanya dia habiskan menulis dan membantu orang, siapa saja yang memerlukannya, maka dia tidak pernah kesepian dalam kehidupan melajang. Lagi pula, semua anak dan cucu-cucu temannya menganggap dia sebagai keluarga, sebagai orang tua dan sebagai kakek begitu juga sebaliknya dan mereka suka berkunjung.

Banyak isak tangis, banyak doa, banyak kata sambutan, banyak cerita dari orang yang datang melayat. “Selamat jalan kakek!”, dia dimakam kan di TPU tanpa batu nisan sesuai permintaannya dalam tulisan terakhirnya.
_____________________________________________
dari Bisik-bisik: Selamat jalan kakek!, batu nisanmu tertanam dalam hati keluarga dan cucu-cucumu, karya nyatamu tumbuh makin subur dan selalu berbuah.

Written by Singal

March 21, 2010 at 5:50 pm

Harapan

with 10 comments

Dia berteriak-teriak menjajakan dagangannya, di tengah orang yang lalu lalang sibuk dengan tujuannya masing-masing, sebagian melihat dan mendengar karena dekat dengan orang itu. Teriakannya berganti dengan kibasan saja, penuh harap semoga ada yang membeli. Sebuah harapan dengan usaha dan energi yang luar biasa, untuk untung yang sedikit, namun tidak ternilai bagi kelangsungan hidupnya. “Harapan yang hidup” bermukim dalam dirinya, sungguh luar biasa!.

Sementara itu, anggota pansus bank Century telah selesai melaksanakan tugasnya, mereka memaparkan pandangan akhir masing-masing, mereka juga berusaha, mengeluarkan energi yang besar, baik pikiran baik fisik, cuma apa yang mereka harapkan sulit dimengerti, paling tidak buat saya, mungkin karena saya hanya kebetulan mendengar dan membaca sekilas. Sebagian dari mereka sering juga berteriak, mungkin untuk suatu harapan, yang menurutku bukan untuk dirinya, mereka bukan seperti pedagang jalanan tadi.

Bandung dilanda banjir, longsor di mana-mana, dan gempa Santiago yang luar biasa besarnya, menimbulkan penderitaan bagi yang langsung merasakannya, para korban penuh harap, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, adakah pansusnya?. Sebuah harapan yang sangat sederhana, mereka butuh pertolongan.

Ketika kita penuh harap, akan kebenaran dan keadilan, sama dengan harapan pertolongan ketika bencana datang, jelas berbeda dengan pedagang jalanan yang tidak memerlukan pansus, karena dia menimbulkan dan mecari harapannya sendiri.

Harapan korban bencana dan pedagang jalanan, jelas nyata dapat dirasakan, berbeda dengan harapan akan kebenaran dan keadilan kelihatannya menjadi semu atau samar-samar dan sering sangat mengecewakan.
_______________________________________
dari Bisik-bisik: Semoga kebenaran dan keadilan menjadi nyata dan dapat dirasakan

Written by Singal

February 28, 2010 at 9:26 pm