Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for December 2008

Sang Pengusaha

with 53 comments

“Pulanglah nak!, kamu kan pajojorhon malam ini, beritahu inang-bajumu agar pakayanmu diambil dari laemu tukang jahit samping rumah kita. Baju itomu si Riama ada di atas tempat tidur, sudah mama sterika, durung-durung kalian sudah mama siapkan diatas lemari” kata ibunya sambil menancapkan berkas lima atau enam semai padi siap tanam, bersama tangannya ke dalam tanah yang berlumpur lembut dan berair, mengangkat tangannya, meninggalkan batang dan daunnya dipermukaan dan akarnya berada didalam, lalu dengan cepat mengambil yang lain dari berkasnya segera menancapkannya sambil membungkuk mundur.

Anak laki-lakinya berumur 12 tahun masih klas 6 SD berbuat hal yang sama, sekali-sekali mereka berdiri untuk meluruskan pinggangnya. Sangat jarang anak laki-laki ikut menanam padi, apalagi anak sekecil dia.
“Tinggal sedikit lagi ma.., kita pulang bersama saja ma.. kita ke gereja bersamaan dengan si Riama dan bapak, kan?! “. katanya. Sambil berdiri, dia memperhatikan ibunya yang kurus, membungkuk, dengan cekatan menancap semai padi, kepalanya ditutup mandar yang dilipat melindungi sengatan matahari.

Ibunya, diam saja terus membungkuk dan mundur memasukkan tangannya kedalam lumpur dan membiarkan semai padinya tertancap. Ibu yang bersemangat, ibu yang tak letih berjuang demi keluarganya, Ibu dengan wajah yang penuh syukur memancarkan kebahagian, membaginya kepada semua orang yang berhadapan dengannya. Suaminya bekerja sebagai pamundak dipasar. Badannya tegap, pundak dan punggung yang keras lebam. Pekerjaannya menaikkan dan menurunkan karung penuh beras, mendorong drum minyak tanah dan minyak goreng dari dan ke truk dan toko-toko, semua orang di pasar itu menyenanginya.

Mereka adalah sosok keluarga yang tidak pernah lepas dari kerja fisik yang keras, termasuk anaknya. Namun, tidak pernah mundur atau menyerah meski sangat miskin. Mereka selalu merasa penuh berkat, penuh kebahagiaan didalam kekurangannya. Anehnya, banyak orang yang justru teman-temannya, sering menyebutnya si burju-loak.

Biasanya, di kampung itu, pada bulan Desember sebelum hari Natal, semua orang sudah selesai menanam padi. Mereka selalu belakangan, baik tahun ini juga tahun-tahun sebelumnya. Ibunya ikut menanam padi di sawah tetangga, lagi pula ayahnya baru kemarin menggaru sawah mereka, sedang ibunya mencabut atau mengambil semai padi siap tanam, menyusunnya menjadi berkas-berkas, lalu meletakkannya berbaris jarak dua meteran di dalam sawah yang telah digaru ayahnya, agar mudah ditanam besok harinya.

Diantara suara hujan Desember yang bedesah dan bunyi daun pohon serta tumbuhan kebun lainnya yang dibentur hujan, terdengar suara lonceng gereja bergema, menandakan pukul lima sore. “Tiuuur!, Tiur! ambil dulu daun pisang itu!” kata ibunya kepada adiknya, inang baju anaknya. “Ayo kita berangkat, ayah kalian nanti menyusul, mungkin pekerjaannya belum selesai”.

Mereka berjalan menuju gereja dengan daun pisang sebagai payung. Sawah dikiri kanan jalan yang baru ditanam tampak senang menyambut air jatuh dari atas. Wajah si Bonar dan Riama sangat senang, hari ini hari Natal, mereka memakai baju baru, iya baju baru… mereka memakai baju baru saat berbicara dengan Tuhan. “Tuhan akan menerima kami dengan senang. Tuhan juga akan menjaga ayahku” pikir si Bonar. Ayahnya biasanya sudah tiba di rumah meski bukan hari Natal.

Dia berjalan dengan sangat cepat di jalan yang masih basah, gunung sudah menghitam, awan memutih naik, sangat jelas di kegelapan, hujan baru reda, sekali-sekali kelipan lampu tampak dari kampung di gunung, suara jangkrik, kodok sawah dan binatang kecil lain besahutan. Dia bergegas, cahaya dari pintu dan jendela gereja di depannya sudah kelihatan. “Sonang ni borngin na i, uju ro Jesus i.…malam kudus…..” terdengar alunan nyanyian diiringi poti marende pedal, dia masuk tidak ada tempat duduk, “ahh… disana masih bisa di pojok bangku belakang”. “Beritahu bukit dan lembah, beritahu berita damai …damai di bumi…damai bagi seluruh umat manusia” suara yang terdengar dari nyanyian dan khotbah.

“Bapak tidak melihat saya pajojorhon“, suara si Riama yang berpegangan dengan ibunya, menyela pembicaraan dalam perjalanan pulang yang diterangi lilin ditangan mereka. “Iya nak, ketika bapak mau pulang bapak harus menolong seorang anak yang ditabrak mobil, membawanya kerumah sakit, orang tuanya belum tahu, kita tidak mengenalnya. Semua uang bapak habis membeli obatnya bahkan masih kurang, semoga dia lekas sembuh nak!” sahut bapaknya tangannya terletak di pundak si Bonar, sambil memperhatikan istrinya yang bijak, sebelumnya, dia telah membisikkannya kepada si jantung hatinya itu.

“Ma..! Pa..!, si Riama tidak bisa pulang, dia sibuk menyelesaikan research Doktornya di Leiden Belanda. Iniii, ini si Bonar, maa..! paa…!!!, ……!!” Suara tangisnya di atas dua gundukan tanah di kebun belakang rumahnya, Ibunya meninggal ketika Bonar masih kelas dua SMA dan Riama kelas satu SMA, ayahnya menyusul setahun kemudian. Kini Bonar seorang pengusaha yang sukses, mempekerjakan lebih dari empat ribu orang karyawan.

“Sudahlah nak ” kata inang udanya yang sudah menjanda, suaminya meninggal beberapa tahun lalu. “Sudah lah nak, ayo kita berangkat…kau dengar lonceng gereja itu?”.

Selamat Hari Natal
dan Tahun Baru.
Damai di bumi, damai bagi seluruh umat manusia.
_________________________________
dari Bisik-bisik:
Pajojorhon: liturgi, anak-anak menyebut firman Tuhan dari depan mimbar gereja.
Inang-baju: kata panggil kepada adik ibu yang belum menikah
Lae: kata panggil antara laki-laki atau saudara sepupu, atau ipar
Ito: Saudara perempuan, kalau laki-laki yang memanggil (berlaku timbal balik, saudara laki-laki kalau perempuan yang memanggil). Berlaku juga antara gadis dan pemuda.
Durung-durung: Persembahan kepada Tuhan.
Menggaru: meratakan sawah sebelum ditanam.
Mandar: kain sarung
Pamundak: orang yang bekerja mengangkat barang berat seperti beras dan lain-lain, di pasar.
Burju-loak: orang yang baik tetapi bodoh
Poti marende: organ
Inang-uda: adik ibunya, dipangil inang baju sebelum menikah.

Advertisements

Written by Singal

December 22, 2008 at 6:17 pm

Some (one/thing) behind!

with 13 comments

Fiksi.

Rambutnya sudah beruban, pipi dan dahinya memerah berkilat diterpa matahari sore, dari puncak gunung itu, dia tidak bosan memandang ke sekeliling lembah, ke arah utara lalu berputar ke selatan, mengangkat tangan keatas dahi mencegah silau, menghubungkan seluruh bukit kehijauan dan gunung kebiruan yang melingkari lembah itu.

Tidak ada rasa penat, tadi pagi bangun pukul 2.00, pukul 4.00 check-in di bandara Sukarno Hatta, take-off pukul 6.00, naik mobil sewa sejauh 300 km lebih dari Medan, istrahat makan siang di tepi danau Toba Parapat, sekarang hampir pukul 4.00 sore, dia berdiri di puncak gunung ini. Mobil tua yang meraung-raung mendaki jalan tebing terjal berbatu batu mengantarnya kesini. Setengah jam yang lalu setelah turun dari mobil sewa, dia masih minum kopi di salah satu lapo di kaki bukit ini.

Lembah…, sawah yang menguning bergelombang ditiup angin bak ombak laut, terbelah menjadi beberapa bagian, diiris jalan yang tampak menjadi garis hitam kehijauan, menghubungkan kampung-kampung dengan jalan besar, membentuk rangkaian simpul terhubung satu sama lain. Kampung berbagai berbentuk!. Bentuk persegi tidak beraturan,… bentuk bulat,… dan selalu dikelilingi pohon dan bambu. Di dalamnya deretan rumah beratap seng tampak sebesar kotak korek api. Cahaya matahari kadang muncul dari atap seng melalui celah daun pohon yang bergoyang ditiup angin. Sekali-sekali gumpalan debu beterbangan bergulung gulung mengejar mobil menyusuri garis hitam itu menuju jalan besar. “hmm… setiap pagi, jalan besar itu penuh anak sekolah, jalan kaki menembus kabut yang membatasi pandangan dua sampai tiga meter” dia bergumam.

Dua sungai besar mengalir memberi kesuburan pada lembah itu, memberi batas barat, tengah dan timur, yang tidak penah tercatum di ampolop surat pos. Bertemu di suatu tempat, lalu bergerak menuju ke selatan mengejar nun jauh disana…lautan Hindia. “Lembah yang indah dan subur…, kota sekolah…Medan…Jakarta..Indonesia…kota dan lembah yang ada di dunia..dunia makin sempit,…” pikirannya mencampur semua kejadian, dulu, saat ini dan masa datang, lebih cepat dari komputer apapun. Lalu dia berbalik memanggul ransel kesukaannya, melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan sambil menenteng sekotak besar rokok. Ya!, sekotak besar…meski dia tidak pernah merokok.

“Saya harus cepat, tiga bukit lagi harus kulewati…..satu setengah atau dua jam naik turun, lalu mandi di pancuran”. Perasaan menyenangkan mengalahkan kelelahannya, menimbulkan semangat masa mudanya, membayangkan pancuran bambu, airnya jernih keluar dari celah batu yang terbenam di pinggang bukit, terletak tidak jauh, sebelum kampungnya. “bundaran pelangi kecil, akan muncul didepanku bersamaan dengan jatuhnya percikan air pancuran dari kepalaku, dilukis sinar matahari sore. Tetapi hari ini tidak, matahari sudah terbenam saat saya tiba…aah..masih ada hari esok!” pikirannya penuh, serempak dengan langkahnya yang panjang di jalan antara bukit, jurang dan lembah kecil yang ditumbuhi semak, ilalang bercampur dengan pohon-pohon kecil-kecil. Haramonting, sanduduk, motung, tandiang, antunu dan buar-buar, kadang diselingi hau umbang, tambissu, dan sepang. Tiupan angin memaksa pohon dan ilalang berdesir, daun-daunan melambai-lambai disertai suara binatang dan kepakan burung ikut menyambut kehadirannya.

“Mana mungkin baik!…akhir tahun lalu para pabrikan mobil, motor beserta agennya mengumumkan keuntungan dan kenaikan jumlah penjualan, Jasa Marga juga untung, pabrik semen untung…. penghasilan pajak kendaraan…”, tiba-tiba muncul dipikirannya, tadi pagi dia ke bandara melewati banyak polisi tidur, berlubang menyakiti ban mobil, lalu masuk ke jalan besar. Jalan tol menuju bandara sudah mulai padat. Di bandara, hanya satu pintu yang terbuka, orang beringsut mengangkat tangannya ke dada melindungi tubuhnya dari antrian yang berdesakan. Pandangan mata dingin petugas seolah tanpa perasaan, gajinya mungkin kecil, sementara dua temannya asyik ngobrol tidak peduli. “Mana mungkin pelayanan publik yang baik, mana mungkin ada mass transport…. !! omong kosong…rugiii!!. Tiang-tiang mono-rail terbengkalai, bahkan sudah memakan korban mobil dan manusia”.

“Mana mungkin baik!!…., danau toba tetap saja mengecil….hutan tetap saja gundul, meski pabrik pulp kertas telah menyatakan pabriknya tidak mengganggu lingkungan,….permukaan danau toba tetap saja dibiarkan jelek dan bau, karena keramba ikan nila terutama di Parapat berpartisipasi meningkatkan nilai ekspor…”. Terbayang kesialannya terjebak dibelakang mobil truk, penuh kayu menggunung, menakutkan ketika jalan menikung, miring hampir terbalik. Mengakibatkan antrian panjang, mereka parkir dipinggir jalan entah apa sebabnya. Truk-truk itu juga harus melewati jembatan timbang. Lepas dari antrian membuat mobil mobil lari kencang, seolah dikejar hantu yang tak pernah menampakkan dirinya. Maka dia lebih sibuk berdoa daripada menikmati perjalanan, dia lebih sering memasukkan jantungnya yang sering terasa copot…sungguh nyawa hampir tak berharga…tidak ada speed limit.

Terdengar suara pancuran, tak terasa dia akan segera tiba, “bo..ni aek i.., bo..ni aeki!!” dia berteriak keras, dia heran tidak ada jawaban.. “pukul 6 lewat tidak ada orang?!”, biasanya saatnya banyak orang mandi..

Tubuhnya yang segar setelah mandi, menyesuaikan hawa dingin pegunungan. Dia melangkahkan kaki melewati gerbang kampung, cahaya lampu petromax dari lapo satu-satunya menerobos kegelapan menerangi jalan didepannya, hatinya sangat senang, terharu.., langkahnya makin panjang…suara riuh orangtua main catur dan nyanyian pemuda diiringi gitarnya, terdengar sayup-sayup, makin jelas makin kencang… dan “horas!!”
“horas!!…” semua orang menatapnya penuh tanda tanya.
“aku si Tigor…..!!” dia melihat sekeliling tidak ada satupun yang dikenalnya….

Tiba-tiba “bah…sudah pulang kau Tigor…”, seorang tua ubanan langsung memeluknya, “tigapuluh tahun cukup membuat generasi sudah berganti” katanya. “Berapa anakmu, kau sudah punya cucu?!, lihat aku, cucuku pun sudah mau nikah”, lanjutnya.

Tigor terhenyak dan terdiam sejenak, “Saya belum kawin, belum nikah…., tetapi semua anak-anakku, sudah selesai sekolah. Anak pungut!!, mereka banyak yang sudah berkeluarga, mereka tidak mengenal saya, dan saya tidak ingin mereka kenali, saya senang mereka sukses….hehehe..kau tau itu…..”

“Ah..kau itu, si Roma si gunung es itupun belum kawin..meski banyak pemuda yang melamarnya.., sudah tua dia itu..tetap saja cantik.. hehehe…cinta monyetmu itu..” sahut si orangtua temannya semasa sekolah, merekapun ngobrol sampai pagi.
__________________________
dari Bisik-bisik: Lapo: Warung atau kedai kopi/tuak, tempat orang berkumpul, minum, makan, main catur dan bernyanyi sering diiringi gitar.
Haramonting, baca [Haramotting]: sejenis tumbuhan liar setinggi pinggang orang dewasa, biasanya tumbuh di padang rumput dan steppa kadang disemak-semak, buahnya bulat sebesar ujung ibu jari orang dewasa, kalau sedang masak warnanya merah, rasanya manis dan enak dimakan.
Sanduduk [sadduduk]: sejenis tumbuhan liar setinggi pinggang orang dewasa, sering tumbuh berdampingan atau diselingi haramonting, daun bunga dan buahnya didominasi warna ungu. Buahnya bulat lonjong lebih kecil dari buah haramonting, rasanya sepat.
Motung: Sejenis pohon kecil, daunnya lebar dua warna, bagian bawah putih dan bagian atas hijau, tiupan angin seolah memberi lambaian dan bagus kelihatan.
Tandiang [taddiang]: Pakis
Antunu [attunu]: Sejenis pohon batangnya langsung bercabang, daunnya seperti pandan berduri lebih panjang, buahnya sebesar mangga dan kulitnya sperti buah nangka, tidak dimakan. Tumbuh di jurang kecil, kehadirannya menandakan kelembaban dan kemungkinan ada air.
Buar-buar: sejenis tumbuhan seperti rotan, besar tetapi kaku, jarang digunakan, ujungnya berduri.
Hau umbang [hau ubbang]: sejenis pohon tidak pernah atau jarang menjadi besar, tetapi banyak tumbuh dibukit, batangnya sering digunakan sebagai pagar.
Tambissu [tabbiccu]: sejenis pohon tak pernah atau jarang besar, seperti hau umbang, batangnya sering dipakai sebagai pagar. sejenis ulat suka daun tambissu ini, dapat dimakan.
Sepang: Sejenis pohon, batangnya lurus tidak bercabang, lunak dan ringan, dipakai sebagai bahan untuk membuat okulele dan gitar kualitas sedang.
Bo..ni aek i..: adalah kata normal yang harus diteriakkan ke pemandian kalau kita ingin lewat, atau mandi.

Written by Singal

December 10, 2008 at 9:29 pm