Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Nasib

leave a comment »

Kugoyang goyangkan telapak tanganku untuk menolak tawaran orang jasa angkutan, “ada yang jemput” kataku, sambil melemparkan pandangan ke barisan mobil yang sedang parkir. Saya sedang menunggu jemputan sopir kantor kami di Kualanamu, di seberang jalan keluar terminal, sebelah kiri, biasanya dia parkir di situ.

Tiba tiba ada yang memanggil namaku, dari antara serombongan orang yang telah berada didekatku, kuperhatikan  mereka, tetapi otakku lemot dan tidak segera memberitahu siapa mereka, mungkin saya terlalu lama melihat barisan mobil yang parkir di tempat yang terang kena cahaya matahari.

“Aduhh..maaf pak, pangling” kataku, sambil salaman. Mereka adalah rombongan orang terhormat dalam karirku ketika masih aktif bekerja. Ternyata jemputan mereka lebih dulu tiba, sambil melambaikan tangan dari jendela mobil, mereka segera hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan ke Medan, terngiang kembali, rumah dan pertemuan singkat itu, mereka ada acara penting di Medan, lalu akan buka bersama dengan kawan kawan nanti sore, masih kusempatkan bilang ”kirim salam, selamat menjalankan ibadah puasa, jangan lupa pak, kalau ada hitungan aljabar berikan ke saya” dan kami tertawa tawa.

Tadi pagi buta sebelum berangkat ke bandara Sukarno Hatta,  saya masih sempat mendengar dan melihat berita di TV sambil membaca teletext berjalan, ada peringatan tentang hujan akan turun tiga hari ke depan, sepak bola eropa dan tentang DPR dan Ahok, dan banyak lagi.

Semua orang peduli kepada Ahok. Bahkan para pembenci mengikutinya ke mana pun dia pergi, sambil menyatakan Ahok itu kotor. Mereka menggunakan berbagai  alat ukur yang presisi, dan alat ukur ciptaan baru, undang undang, dijalin seperti jala terbuat dari benang baja kuat untuk menghadangnya.

Mereka seperti orang gila, bingung, melihatAhok tenang tenang saja, mereka makin panas karena Ahok bersih, harum dan wangi semerbak jauh ke seluruh Nusantara. Lalu mereka menggunakan hidung mendengus dengus, dan tiba tiba dari Senayan ada teriakan “teman Ahok yang kotor” katanya. Maka mereka akan lebih gila lagi.

Tau tau, saya sudah tiba di kantor perwakilan kami di Medan., saya akan makin sering datang ke sini, mungkin itu kata nasib.

Advertisements

Written by Singal

June 18, 2016 at 10:25 pm

Parade

leave a comment »

Menoleh lagi ke belakang.

Desember 2015 lalu kami pulang kampung. Hari ini, 15 May 2016, sebaik pulang gereja, tiba tiba saya teringat lagi. Dasar sudah tua, apa boleh buat, terpaksa kutuliskan lagi sedikit tolehan ke belakang, ini dia:

Embun pagi tebal dan dingin, telah menyatu dengan penduduk Rura Silindung, kokok ayam membangunkan mereka, lalu memulai kegiatan masing masing, suara jangkrik dan kodok sekali sekali masih kedengaran setelah semalaman bernyanyi, kini burung burung akan menggantikannya dengan suara yang lebih merdu. Kokok ayam bagaikan ayunan tangan dirigen memimpin nyanyian koor, menggerakkan kehidupan menyongsong fajar dan hari.

Orang orang mulai bergegas, menembus embun pagi yang malas naik ke langit, seolah permukaan tanah maknit bagi mereka, atau ia malas seolah ingin memberi vitamin bagi orang yang menembusnya agar tetap sehat dan kuat. pergi ke kebun, ke pasar, ke sekolah ke segala penjuru sesuai kepentingan masing masing bergerak bagaikan sebuah parade.

Baju putih anak sekolah menyamarkan mereka, berjalan dengan cepat, sendiri, berdua atau bertiga beriringan bergerak teratur tanpa ada yang memimpin. sekali sekali terdengar obrolan mereka, obrolan secara acak, tugas rumah, pak guru, sawah, berita surat kabar, radio dan hubungan antar manusia, sungguh otak manusia terdiri dari cpu atau computer processor unit dengan RAM dan internal memory yang besarnya tidak terbatas dan tentu tidak dapat ditiru manusia, Tuhan penciptanya.

Foto ini adalah jalan yang menghubungkan desa Hutabarat dan kota Tarutung, yang kujalani tiap hari pergi pulang, ke dan dari sekolah, diluar keperluan lain, ke pasar nonton bioskop hehehe. Sekolah kami di pinggang bukit di kejauhan agak kebiru biruan.

Kujalani tiap hari

Jalan yang menghubungkan Hutabarat dan Tarutung

Saya SR di desa Hutabarat, ini fotonya. Sudah banyak berubah, terutama halaman untuk bermain sudah tidak ada lagi dan berubah menjadi bangunan

SD Hutabarat

Tempatku sekolah SR atau SD

Ini Sekolah saya ketika SMP, terletak dipinggang bukit.

SMP Negeri 2

SMP Negeri 2, Tarutung. Saya bersekolah di sini tahun enampuluhan.

Dan ini sekolah saya ketika SMA, terletak di pinggang bukit, tidak  jauh dari sekolah SMPN 2, dan kedua sekolah ini mempunya lapangan sepak bola yang sama, dan juga keduanya dekat dengan Taman Makam pahlawan Tarutung.

SMA Tangsi

SMA Tangsi Tarutung, Sekarang menjadi SMA Negeri 1.

Ini adalah Gereja di mana saya sekolah minggu, sidi dan menjadi “naposo Bulung”, remaja. Gereja HKBP Hutabarat Partali Toruan.

HKBP Partali Toruan

Gereja HKBP Partali Toruan, saya sekolah minggu, Sidi dan Naposo Bulung di Gereja ini

Written by Singal

May 15, 2016 at 4:13 pm

Nyanyian Danau Toba

leave a comment »

Nyanyianmu Danau Toba, beribu buku, beribu halaman, kau diceritakan Kusuka datang mengunjungimu, kusuka mengingatmu, kusuka mengelilingimu Dalam perjalananku, kudengar nyanyianmu, kadang sedih kada…

Sumber: Nyanyian Danau Toba

Written by Singal

May 5, 2016 at 8:55 pm

Nyanyian Danau Toba

leave a comment »

Nyanyianmu

Danau Toba, beribu buku, beribu halaman, kau diceritakan

Kusuka datang mengunjungimu, kusuka mengingatmu, kusuka mengelilingimu

Dalam perjalananku, kudengar nyanyianmu, kadang sedih kadang senang

Kurasakan dan kudengar semua nyanyianmu, tandanya aku sadar dan sehat

melodi dan simfoni kadang senang, kadang sedih, sambil melihat sekelilingmu

Nenek moyangku menyebar dari salah satu bukit yang kau sebut dalam nyanyianmu.

Ibuku juga lahir dan besar di salah sati tepi pantaimu, maka pamanku dan turunannya masih di sini.

Ini fotomu dalri makam nenek moyangku, kau memberi hidup mereka

Makam nenek moyang

CIMG1357 (1).JPG

 

 

 

 

dan ini juga dalam perjalanan pulang dari makam,

CIMG1360.JPG

Dan ini

 

Satus sisi Toba.JPG

Kau tak pernah berhenti bernyanyi, meski kami sudah banyak yang tuli dan tak peduli

Mungkin kau pikir kami akan bosan juga tuli

Mungkin kau pikir suatu saat kami akan peduli

Paling tidak generasi pengganti kami.

Yang jelas, mungkin kami masih tetap menuruni bukit dari Doloksanggul,

setengah jam kemudian akan tiba di Bakkara,

lalu pasti melewati desa Janji, penyumbang sedikit air permukaanmu,

terjun dari balik bukit, tampak indah, percikannya menyejukkan,

menambah kesehatan karena kita lupa dunia,

lalu setengah jam kemudian tiba ditempat ini lagi, namanya Desa Tipang.

 

Written by Singal

May 5, 2016 at 8:54 pm

Karakter Hebat

with 11 comments

Fiksi

Saya tersentak, tegukan kopi pagi dimulutku tertumpah membasahi koran yang sedang kubaca, terkejut. “Satu keluarga diselamatkan orang yang menderita lupa ingatan dan cacat mental”. Tiba-tiba deringan telepon memaksa saya bangkit dari kursi. “Ini Haryanto…sudah dengar kabar belom” kata suara dari sana tanpa bertanya dengan siapa dia bicara. “ya..ya…pak.. baru saya baca koran” sahutku menebak pikirannya. “Hebat teman kita itu…bisa juga dia sembuh, saya sangat senang…saya ikut bahagiaaaaa…oooh Tuhan terimakasih..”, “saya juga… “, jawabku, mataku berkaca-kaca. Lalu saya buru-buru bersiap berangkat, karena kami janjian pergi menemui mereka pagi ini. Tigor, teman kami yang menderita lupa ingatan dan seolah cacat mental menyelamatkan keluarganya dari jurang. Mobil mereka jatuh, semua luka berat hanya dia yang tidak cedera.

Sebagian masa-lalu ketika kami mahasiswa muncul di benakku, kami penuh canda penuh ceria selalu bersama kemanapun pergi meski tongpes karena kiriman ortu belum datang, naik bus “nompang bang…” . Ketika itu, kondektur bus pun masih mau kalau kita numpang sekali-sekali, semoga mereka beruntung dalam hidupnya. Lulus dan wisuda bersama, lalu mencari pekerjaan masing-masing. Tigor…teman kami yang paling baik, dia menjadi alarm atas kenakalan yang mungkin akan kami perbuat. Dia menjadi penyadar, dia menjadi pagar terakhir agar kenakalan dan kebandelan tidak melampaui batas.

Kami berpisah, jarang bertemu, berkeluarga dan mengarungi laut kehidupan masing-masing, hingga suatu saat Tigor mengalami kecelakaan di tempat kerjanya membuat dia lupa ingatan dan seolah sakit mental, tinggal di rumah dirawat istri dan anaknya. Keluarga hebat, bahagia dipimpin istri berkarakter hebat dan kuat, penuh pengabdian dan cinta. Istrinya selalu membawa suami dan anaknya ke gereja setiap hari minggu atau kegiatan lain. Istrinya kami gelari si malaikat bekerja keras untuk mereka!!!.

Hingga isi berita ini kami baca “…..suami yang menderita lupa ingatan selama lima belas tahun menyelamatkan seluruh keluarganya. Dini hari kemarin, mobil mereka yang dikemudikan istrinya pulang kampung untuk merayakan Natal, jatuh ke jurang sedalam 30 meter. Sementara air yang mengalir dijurang itu telah menggenangi mobil mereka, dia berhasil mengangkat istri dan tiga anaknya satu persatu ke atas, saat ini mereka telah dirawat di rumah sakit, ..….”.

Saya mengemudikan mobil menuju rumah sakit, sementara Haryanto duduk disamping , membaca koran pada berita itu berulang-ulang, menangis. Tigor mengenali kami, lalu berpelukan “Selamat Hari Natal..Tigor! selamat hari Natal untuk seluruh keluarga”. Tigor bilang “Kata dokter luka mereka tidak parah..mungkin sekitar dua hari tiga hari sudah bisa pulang ke rumah”. Tigor telah sembuh!!!.
___________________________________________________
Dari Bisik-bisik: Selamat Hari Natal, Damai selalu beserta kita.

Written by Singal

December 21, 2010 at 11:29 am

Fitnah, Kebenaran Bagian dari Ketidak-Sopanan

with 7 comments

Mungkin saya orang aneh, karena semua temanku boleh suka-suka menyatakan pendapatnya tentang saya, sehingga saya tidak pernah merasa difitnah. Jika seorang teman menyatakan kepada saya “Kata si Anu, kamu itu seperti binatang liar yang busuk” lalu akan saya jawab “itu haknya, biarkan saja”.

Tentu saja persoalannya menjadi lain, kalau si Anu itu, langsung ngomong kepada saya. Perkara pendapatnya melalui teman, itu soalnya sendiri, dan tidak perlu saya konfrontir, karena kalau dikonfrontirpun, tidak menghasilkan apapun yang baik, selain dari gesekan yang melebar dan membuat panas, yang menimbulkan berbagai penyakit dan celaka.

Saya tidak heran, kalau membaca atau mendengar berita yang membuat gesekan, karena mungkin itu bagian dari penghasilan mereka. Yang membuat saya heran adalah timbulnya pertahanan diri dari sumber dan obyek berita dengan menumpahkan kehebatannya dengan banyak embel-embel hasil karya, yang intinya mereka seharusnya dipuji. Jelaslah!, apalagi kalau tukang koar-koar di TV dan di suratkabar itu adalah para pengawal dan punggawa raja.

Saya salah seorang yang terbukti tidak begitu sukses dalam meniti karir, karena sering kalah dalam fit and proper test, maka saya sebenarnya tidak patut menyatakan alasan apapun seperti, “bahwa saya seorang tukang koar-koar yang tidak sopan, yang sering membuat para pengawal dan raja merah kuping. Gara-gara analisis yang saya berikan secara teknis sangat jelas kebenarannya, karena alat-ukur, timbangan, satuan menunjukkan kebenaran dan ternyata kebenaran adalah bagian dari ketidak sopanan”.

Saya juga tak peduli pada kata-kata “Fit and proper test, bagian dari KKN”, karena saya lebih memilih “Tuhan tidak menghendaki saya duduk ditempat itu, karena tidak mampu membuat kesulitan”. Maka saya hidup lebih tenang meski semua orang tetap bebas memberi pendapatnya tanpa terusik, karena saya tidak akan meraung-raung sambil menunjuk dada, prestasi dan kehebatan yang memang tidak ada apa-apanya.

Suatu saat, teman baikku datang “kok bapak kalah lagi?..”, dalam hati saya, “kapan Sengkuni masuk kedalam pikiran temanku ini”, lalu “dipikirnya saya familinya Kurawa”. “aahh.. saya tidak kalah, cuma tidak kepilih..” sahutku. Bisa juga, sebenarnya temanku menginginkan saya yang kepilih. Padahal buat saya sama saja. Dia tidak akan mengatakan itu kepada saya seandainya dia pernah mengenal Gorbachev si pemimpin Uni Sovyet sebelum bubar, yang mempunyai prinsip “selama kita tidak punya kekuasaan dan tidak memegang kemudi atau alat kendali, tetap saja kita harus patuh sebagai penumpang kapal.” setelah punya kekuasaan dan kendali maka “Glasnost dan Perestroika”.

Pikiran saya agak ngelantur ke negeri asing. Di hampir semua negeri maju dan mau maju, termasuk negeri tirai bambu, anggota kabinetnya terdiri dari teknokrat, ekonom, ilmuan dan budayawan. Maka mereka mengambil tindakan yang sangat terukur dan berempati, berpikir dengan menggunakan alat kebenaran, bahkan mengundurkan diri kalau janji tidak menjadi kenyataan. Karakter ini turun ke seluruh perusahaan, bahkan ke klub sepak bola dan kepada masyrakat.

Saya hanya berharap agar di negeri tercinta, semoga penguasa tidak pernah merasa difitnah, semoga penguasa tidak pernah menunjuk dada kebenaran dan kekuasaan kepada rakyat, apalagi mengutus tukang koar-koar dan tukang debat kusir dengan memakai batik mahal atau stelan jas dan dasi yang bagus, pasti dengan parfum yang semerbak dan wangi tetapi sangat memalukan karena kerjanya hanya memepertahankan diri yang tidak berguna bagi rakyat.

Masih banyak yang lebih penting dan perlu dibahas, yaitu bagian dari pertahanan negeri tercinta, seperti pendidikan, bangunan sekolah, jalan dan transportasi umum, pertanian dan pengairan, lapangan kerja dan pengangguran dan lain-lain yang lebih mengena langsung kepada rakyat banyak.
______________________________________
dari Bisik-bisik: Semoga mereka memberi contoh dengan menggunakan alat, ukuran dan kebenaran.

Written by Singal

October 16, 2010 at 4:08 pm

Kakek

with 6 comments

Fiksi

“Kalian jangan lupa, kalian satu dalam tim, buat catatan sistem tagging, saling mengingatkan, setiap kesempatan jangan disia-siakan, jangan bikin malu..ok?, kalian diberangkatkan dengan doa oleh anak dan isteri atau suami atau orangtua” getaran suaranya menumbuhkan semangat yang dia tanam dalam hati mereka.

“Jangan bikin malu…diberangkatkan dengan doa oleh keluarga….., enak saja bapak itu ngomong, apa dia tau kita digaji kecil?” kata salah seorang dari mereka dalam perjalanan ke tempat tugas, “empat hari kan lumayan lama, pisah dengan keluarga” lanjutnya, sementara yang lain diam saja, mereka tahu sifat temannya, ngomongnya saja begitu, dia memang pekerja keras, pantang menyerah dan pembakar semangat.

Kejadian itu tidak pernah dia lupakan, dia istirahat sejenak menatap layar laptopnya dan membaca ulang kata-kata dan kalimat yang baru saja dia ketik, tatapannya menjadi kosong, pikirannya menerawang, hening…diam.

Kini dia tinggal sendiri. Sang bos hebat, dan teman-teman anggota timnya termasuk si pembakar semangat sudah lama pergi menghadap yang Mahakuasa. Masa tuanya dia habiskan menulis dan membantu orang, siapa saja yang memerlukannya, maka dia tidak pernah kesepian dalam kehidupan melajang. Lagi pula, semua anak dan cucu-cucu temannya menganggap dia sebagai keluarga, sebagai orang tua dan sebagai kakek begitu juga sebaliknya dan mereka suka berkunjung.

Banyak isak tangis, banyak doa, banyak kata sambutan, banyak cerita dari orang yang datang melayat. “Selamat jalan kakek!”, dia dimakam kan di TPU tanpa batu nisan sesuai permintaannya dalam tulisan terakhirnya.
_____________________________________________
dari Bisik-bisik: Selamat jalan kakek!, batu nisanmu tertanam dalam hati keluarga dan cucu-cucumu, karya nyatamu tumbuh makin subur dan selalu berbuah.

Written by Singal

March 21, 2010 at 5:50 pm