Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for July 2008

Si Guru

with 39 comments

“Kamu, tinggal dimana?”

“di Jatinegara, pak”

“dengan orang tua?, lahir di Jakarta?”

“ya pak”

“sudah punya pacar?”

“hmmm…”

“rajin lah belajar, jangan sia-siakan kesempatanmu, buat mereka bahagia, orang tuamu, pacarmu dan saudara-saudaramu”, kata guru itu, sambil menepuk bahu si mahasiswa, si guru duduk dipinggir mejanya, sambil menunjuk papantulis, menjelaskan pelajaran yang baru ditulisnya.

“kamu?!”, katanya pada mahasiwa lain, si guru duduk pula di pinggir mejanya, seperti sebelumnya.

“kost pak, dekat sini”

“kamu perantau?!”

“ya pak”

“tanggal berapa datang kirimanmu, berapa bersaudara?, sudah berapa umur orangtuamu”

“biasanya tanggal 25 tiap bulan, banyak pak, sudah tua”

“buat berita bagus ke kampungmu  dengan nilai kuliah yang bagus, biarkan orang lain yang bercerita, kamu baik dan rajin”

“ya pak”

Sambil berjalan dengan langkah panjang, dari ujung keujung, si guru dengan suara keras,

“Kalian semua, belajar dengan keras, saya yakin kalian pintar-pintar, buat orangtua, saudara, paman, adik kakak, bangga dan senang bercerita akan prestasimu”, “buat umur mereka panjang”, “buat negeri ini tidak pusing memikirkan kamu”, “pelajaran ini dan pelajaran lainnya,  dibuat mudah?…bisa, dibuat sulit?…bisa, tergantung dari kamu”. “benar?!”

“benar pak…”,

“ok, jangan asal jawab benar, sekarang catat, PR (pekerjaan rumah), no sekian, no sekian, kalian bekerja samalah, berteman dan tukar pikiran mengerjakannya”. “bawa minggu depan, dan kita bahas, buktikan janji kalian”, “semangat!!!”, “sampai bertemu minggu depan”

_______________________

dari Bisik-bisik: Tenyata mahasiswa masih perlu diberi semangat, iya kan?! (guru!!, saya lebih suka menyebut dosen itu guru)

Advertisements

Written by Singal

July 27, 2008 at 12:45 pm

Mo kemane kiteee bapak?!

with 24 comments

Pertarungan, pertandingan, atau pemilihan, entah apapun namanya, tujuannya sama, yaitu mencari seorang atau tim (team) pemenang, yang layak dinobatkan menyandang gelar juara, atau kepala desa, atau gubernur atau presiden. Cara pertarungan atau pertandingan atau pemilihan itu bebeda, tetapi akibat yang ditimbulkan di negeri tercinta sering sama, yaitu, tawuran (salah satu turunan paham anarkisme?).

Bosan mendengar, membaca dan menonton tawuran diberbagai media massa, seolah negeri ini adalah negeri barbar atau negeri tidak berpendidikan atau negeri yang penuh uncivilized people. Yang mengherankan penyebab tawuran itu “sangat sederhana”, bisa karena tidak menerima keputusan pemerintah, bisa karena tidak memerima keputusan panitia pemilihan, bisa karena tuduhan main curang, atau bisa karena tuduhan wasit berat sebelah. Tiba-tiba saja, stadion rusak, rumah hangus, mobil terbakar, pagar rusak, ada orang cedera bahkan tewas, mo kemane kiteee bapak?!.

Tanaman atribut ketakutan sering disuburkan, banyak orang memakai baju loreng-loreng, satpam, hansip, mahasiswa, pemuda dan polisi seperti aktor dalam film-film cowboy, dan banyak lagi. Mereka memakai atribut kebanggaan yang menakutkan. mo kemane kiteee bapak?!

Biaya pendidikan mahal, mulai TK, SD sampai Universitas, tetapi banyak peminatnya, penduduk negeri ternyata banyak yang kaya. Lalu, dengan jumlah yang lebih banyak, anak rakyat miskin  putus sekolah, menganggur,  jadi pembantu, sopir atau buruh di negeri ini atau pergi ke negeri jiran jadi pahlawan devisa. mo kemane kiteee bapak?!

_____________________

dari Bisik-bisik: Mo kemane kiteee bapak?! mo kemane mereka, iya kan?! Negeri tercinta makin jauh ketinggalan dari negeri tetangga, begitu maksudnya kan?!, Saatnya pendidikan diprioritaskan dan gratis, iya kan?!

Written by Singal

July 20, 2008 at 4:32 pm

Fail to Plan, Plan to Fail, Listrik Padam, Harga Naik

with 28 comments

“Sedia payung sebelum hujan” nasehat orangtua dan guru kepada kita. “Sesuatu yang mungkin terjadi pasti terjadi”, kata Murphy yang terkenal itu.

Entah apa yang terjadi sepanjang hari Senin itu, semua serba salah sejak subuh pagi, bebannya terasa berat. “Itulah, kamu sejak jumat sore saya sudah ingatkan” kata istrinya nyerocos tak henti henti, “kamu bilang besok saja, itu cuma sebentar, lalu sebentarnya manaaaa?!”.

Sementara omelan istrinya masih terngiang, hanya karena soal sepele, entah mengapa dia lupa memperbaiki kunci pintu rumahnya. Tiba-tiba!, pintu kamar kerjanya terbuka “Sudah kuperintahkan kamu supaya lembur, menyelesaikan pekerjaan ini, sekarang kamu mau bilang apa lagi, saya sudah diminta pak Direktur, agar dipresentasikan kepada mitra kerja kita, pagi ini juga!”. terdengar teguran keras dari bosnya.

Aduuh!!, sial benar, bahkan memalukan. Semuanya pekerjaan mudah,  gagal semuanya. Bayangan pekerjaan itu berputar-putar dalam benaknya. Tidak ada maaf, yang ada hanya penyesalan dan pengakuan atas kegagalan karena kelalaiannya. Pengakuan atas kegagalan merencanakan, samadengan merencanakan kegagalan, pikirnya. Tidak akan terulang lagi, akan kuperbaiki sikapku, lanjutnya dalam hati.

Dampak kegagalannya sungguh luar biasa, istrinya terpaksa tinggal dirumah, tidak pergi ke tempat kerjanya di pabrik, sementara tiga orang anaknya semua pergi kesekolah, salah seorang diantaranya akan masuk keperguruan tinggi tahun ini. Kantornya kehilangan kesempatan, gagal mencapai perjanjian kerja sama dengan mitranya.

Sorenya, setiba di rumah, “sudah kamu beli lilinnya?!” tanya istrinya dengan suara meninggi. “Sebentar ma!, saya akan beli ke warung seberang jalan sana”, dia menghilang dengan cepat. Lagi…lagi…, dia lupa, hari itu daerah mereka kebagian pemadaman listrik. Sial benar hari ini!, semoga lilinnya belum habis, kalau habis saya terpaksa pergi ke supermarket, dengan jarak tempuh pergi pulang dua jam dan sudah gelap, katanya dalam hati, sambil melangkah dengan cepat. Tadi, dia bahkan belum sempat melangkahkan kakinya dipintu rumahnya.

“Hei…, bung minggir”, seru kondektur bus, dia hampir keserempet. Dia jalan cepat cepat, sambil terbawa dalam berbagai macam kejadian yang dihadapinya tiap hari. Harga bahan pokok termasuk minyak, gas dan biaya pendidikan makin mahal karena gajinya kecil, jalan-jalan penuh lobang, macet, penumpang angkutan kota berhimpit himpitan, copet, pengendara motor, pak ogah dan lain sebagainya yang bukan urusannya muncul dan berlarian di benaknya. Biang keladi alias penyebab yang diberikan penguasa negeri, sungguh dia tidak mengerti. Yang terjadi adalah, semuanya seolah menjadi beban hidupnya.

Hmmm…Fail to plan, Plan to fail… jangan jangan itu yang terjadi pikirnya, dia telah lupa, tadi nyawanya hampir melayang diterbangkan bus. Cuma, siapa yang menyesal, siapa yang mengaku lalai dan gagal?! kalau tidak ada siapa siapa, berarti tidak ada yang perlu diperbaiki, toh…, ternyata tidak ada yang salah, dia berdialog terus dengan dirinya, sambil berjalan menenteng lilin yang akan dinyalakan untuk menerangi kegelapan malam di rumah dengan keluarga tercinta.

_________________________

dari Bisik-bisik: Kita tersandung dan jatuh karena kerikil bukan karena batu besar, iya kan?! Dengan menyusun rencana yang baik pasti menghasilkan yang baik, begitu maksudnya kan?!

Written by Singal

July 4, 2008 at 9:57 pm