Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘Pariwisata’ Category

Parade

leave a comment »

Menoleh lagi ke belakang.

Desember 2015 lalu kami pulang kampung. Hari ini, 15 May 2016, sebaik pulang gereja, tiba tiba saya teringat lagi. Dasar sudah tua, apa boleh buat, terpaksa kutuliskan lagi sedikit tolehan ke belakang, ini dia:

Embun pagi tebal dan dingin, telah menyatu dengan penduduk Rura Silindung, kokok ayam membangunkan mereka, lalu memulai kegiatan masing masing, suara jangkrik dan kodok sekali sekali masih kedengaran setelah semalaman bernyanyi, kini burung burung akan menggantikannya dengan suara yang lebih merdu. Kokok ayam bagaikan ayunan tangan dirigen memimpin nyanyian koor, menggerakkan kehidupan menyongsong fajar dan hari.

Orang orang mulai bergegas, menembus embun pagi yang malas naik ke langit, seolah permukaan tanah maknit bagi mereka, atau ia malas seolah ingin memberi vitamin bagi orang yang menembusnya agar tetap sehat dan kuat. pergi ke kebun, ke pasar, ke sekolah ke segala penjuru sesuai kepentingan masing masing bergerak bagaikan sebuah parade.

Baju putih anak sekolah menyamarkan mereka, berjalan dengan cepat, sendiri, berdua atau bertiga beriringan bergerak teratur tanpa ada yang memimpin. sekali sekali terdengar obrolan mereka, obrolan secara acak, tugas rumah, pak guru, sawah, berita surat kabar, radio dan hubungan antar manusia, sungguh otak manusia terdiri dari cpu atau computer processor unit dengan RAM dan internal memory yang besarnya tidak terbatas dan tentu tidak dapat ditiru manusia, Tuhan penciptanya.

Foto ini adalah jalan yang menghubungkan desa Hutabarat dan kota Tarutung, yang kujalani tiap hari pergi pulang, ke dan dari sekolah, diluar keperluan lain, ke pasar nonton bioskop hehehe. Sekolah kami di pinggang bukit di kejauhan agak kebiru biruan.

Kujalani tiap hari

Jalan yang menghubungkan Hutabarat dan Tarutung

Saya SR di desa Hutabarat, ini fotonya. Sudah banyak berubah, terutama halaman untuk bermain sudah tidak ada lagi dan berubah menjadi bangunan

SD Hutabarat

Tempatku sekolah SR atau SD

Ini Sekolah saya ketika SMP, terletak dipinggang bukit.

SMP Negeri 2

SMP Negeri 2, Tarutung. Saya bersekolah di sini tahun enampuluhan.

Dan ini sekolah saya ketika SMA, terletak di pinggang bukit, tidak  jauh dari sekolah SMPN 2, dan kedua sekolah ini mempunya lapangan sepak bola yang sama, dan juga keduanya dekat dengan Taman Makam pahlawan Tarutung.

SMA Tangsi

SMA Tangsi Tarutung, Sekarang menjadi SMA Negeri 1.

Ini adalah Gereja di mana saya sekolah minggu, sidi dan menjadi “naposo Bulung”, remaja. Gereja HKBP Hutabarat Partali Toruan.

HKBP Partali Toruan

Gereja HKBP Partali Toruan, saya sekolah minggu, Sidi dan Naposo Bulung di Gereja ini

Written by Singal

May 15, 2016 at 4:13 pm

Nyanyian Danau Toba

leave a comment »

Nyanyianmu Danau Toba, beribu buku, beribu halaman, kau diceritakan Kusuka datang mengunjungimu, kusuka mengingatmu, kusuka mengelilingimu Dalam perjalananku, kudengar nyanyianmu, kadang sedih kada…

Sumber: Nyanyian Danau Toba

Written by Singal

May 5, 2016 at 8:55 pm

Nyanyian Danau Toba

leave a comment »

Nyanyianmu

Danau Toba, beribu buku, beribu halaman, kau diceritakan

Kusuka datang mengunjungimu, kusuka mengingatmu, kusuka mengelilingimu

Dalam perjalananku, kudengar nyanyianmu, kadang sedih kadang senang

Kurasakan dan kudengar semua nyanyianmu, tandanya aku sadar dan sehat

melodi dan simfoni kadang senang, kadang sedih, sambil melihat sekelilingmu

Nenek moyangku menyebar dari salah satu bukit yang kau sebut dalam nyanyianmu.

Ibuku juga lahir dan besar di salah sati tepi pantaimu, maka pamanku dan turunannya masih di sini.

Ini fotomu dalri makam nenek moyangku, kau memberi hidup mereka

Makam nenek moyang

CIMG1357 (1).JPG

 

 

 

 

dan ini juga dalam perjalanan pulang dari makam,

CIMG1360.JPG

Dan ini

 

Satus sisi Toba.JPG

Kau tak pernah berhenti bernyanyi, meski kami sudah banyak yang tuli dan tak peduli

Mungkin kau pikir kami akan bosan juga tuli

Mungkin kau pikir suatu saat kami akan peduli

Paling tidak generasi pengganti kami.

Yang jelas, mungkin kami masih tetap menuruni bukit dari Doloksanggul,

setengah jam kemudian akan tiba di Bakkara,

lalu pasti melewati desa Janji, penyumbang sedikit air permukaanmu,

terjun dari balik bukit, tampak indah, percikannya menyejukkan,

menambah kesehatan karena kita lupa dunia,

lalu setengah jam kemudian tiba ditempat ini lagi, namanya Desa Tipang.

 

Written by Singal

May 5, 2016 at 8:54 pm

Untung Saya Bukan Presiden

with 68 comments

Kalau tidak, maka:
(berikut ini rangkuman secara umum pelaksanaan program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang)

Bidang Pendidikan dan Teknologi
1. Sekolah dan buku gratis.
2. Sekolah sampai kelas 12.
3. Gaji guru (termasuk guru taman kanak-kanak) dan gaji dosen, paling rendah setara 100 gram emas setiap bulan.
4. Masa orientasi dihapuskan karena selalu mengarah pada kekerasan.
5. Pendidikan efektif, anak sekolah berbudi pekerti, tidak kehilangan masa anak-anak dan masa remajanya, maka jumlah buku dan mata pelajaran per kelas per tahun harus dikontrol. Karena (menurutku) kita tidak memerlukan orang pintar yang tidak berperasaan seperti komputer dan mesin.
6. Pendidikan di Universitas dengan mutu yang baik dan berkualitas.
7. Membangun technology research center disegala bidang.

Lingkungan, Pariwisata dan Kesehatan
1. Penebangan hutan akan dihentikan, HPH (Hak Pengelolaan Hutan) dihapuskan dan penghijauan besar-besaran dilaksanakan dan dikontrol tiap hari.
2. Seluruh tepi pantai ditanami pohon bakau sejauh yang bisa ditanami ke arah laut dan sejauh 3 km ke arah darat menjadi hutan lindung. Maka seluruh binatang akan senang.
3. Tidak boleh buang sampah ke sungai, apalagi sampah plastik.
4. Irigasi ke sawah ladang dan lahan pertanian dibangun. Harga jual hasil pertanian harus dijaga demi kemakmuran petani.
5. Semua jenis immunisasi gratis. Pembangunan rumah sakit dan puskesmas ditingkatkan.
6. Fasilitas pariwisata dibangun, agar turis tinggal berlama-lama dengan senang hati.
7. Sampah menjadi bahan bakar energi dan sebagian menjadi pupuk.

Energi Primer dan sekunder
1. Pembangunan Green Energy harus ditingkatkan.
2. Pertambangan Minyak Gas dan Batubara demi kemakmuran rakyat.

Transportasi dan hal-hal terkait.
1. Pembangunan transportasi massal (Mass Transport), kereta api dalam kota dan antar propinsi menjadi prioritas. Di setiap kiri-kanan jalan tol harus dibangun rel kereta api.
2. Pelayanan dan kenyamanan yang baik di setiap stasiun dan bandara.
3. Setiap Bandara dan stasiun bus, harus bisa dicapai dengan kereta api dan tentu saja dengan angkutan umum lainnya.
4. Di mana pun, tempat pelayanan masyarakat tidak boleh ada calo dan preman.
5. Jaminan kenyamanan dan keamanan di angkutan umum.

Kemanan dan Pertahanan
1. Dilarang memukul, mengeroyok dan lain-lain kekerasan dengan alasan apapun.
2. Gaji polisi dan tentara, jaksa dan hakim mulai pangkat terrendah setara 100 gram emas setiap bulan.
3. Angkatan Bersenjata terlatih dan kuat dengan peralatan yang baik dan moderen.
4. Sekali-sekali parade atau “show of force”
5. Mereka bertugas menjamin kemanan dan keamanan bagi Negeri dan pelayanan masyarakat.

Kebudayaan
1. Membangun dan menjaga kelestarian budaya suku bangsa Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika makin berakar kuat.
2. Saling menghargai dan saling menghormati.

Keuangan, Investasi, Industri dan utang piutang
1. Negara tidak boleh menambah utang dengan alasan apapun, kita harus bisa hidup dengan kemampuan dan keberadaan kita sendiri.
2. Dengan demikian semua lembaga keuangan yang suka memberi pinjaman harus segera keluar dari negeri tercinta, misalnya IBRD, ADB, JBIC, …dan lain sebagainya. Go to hell with your money.
3. Membuka dan memberi fasilitas kepada “investor-industri” yang diperlukan di dalam negeri tercinta.
4. Semua biaya yang dibutuhkan berasal dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, dan kekayaan negeri tercinta. (Tambang minyak, gas, batubara dan lain-lain)

Birokrasi dan pegawai pemerintah
1. Gaji paling rendah setara 100 gram emas setiap bulan.
2. Disiplin, berbudipekerti, saling menghormati dan menghargai. Bekerja untuk rakyat tanpa pandang bulu demi kemajuan negeri tercinta.

Hukuman bagi pelanggaran
1. Hukuman berat, tidak ada ampun. Namun tetap diberikan tempat dan kesempatan untuk bertobat bagi setiap orang yang dihukum. (gaji sudah besar. hehehe..)

Hal-hal lain
1. Akan kupilih menteri menteri yang hebat, pintar, dan rendah hati, sesuai dengan disiplin ilmunya dalam melaksanakan program kerja tersebut.
2. Mari kita bekerja sama, dengan tekun dan senang hati dimanapun kita berada demi anak cucu kita.
__________________________________
dari Bisik-bisik: Untung saya bukan presiden, kalau tidak maka:…!!!

Written by Singal

June 19, 2009 at 10:04 pm

Some (one/thing) behind!

with 13 comments

Fiksi.

Rambutnya sudah beruban, pipi dan dahinya memerah berkilat diterpa matahari sore, dari puncak gunung itu, dia tidak bosan memandang ke sekeliling lembah, ke arah utara lalu berputar ke selatan, mengangkat tangan keatas dahi mencegah silau, menghubungkan seluruh bukit kehijauan dan gunung kebiruan yang melingkari lembah itu.

Tidak ada rasa penat, tadi pagi bangun pukul 2.00, pukul 4.00 check-in di bandara Sukarno Hatta, take-off pukul 6.00, naik mobil sewa sejauh 300 km lebih dari Medan, istrahat makan siang di tepi danau Toba Parapat, sekarang hampir pukul 4.00 sore, dia berdiri di puncak gunung ini. Mobil tua yang meraung-raung mendaki jalan tebing terjal berbatu batu mengantarnya kesini. Setengah jam yang lalu setelah turun dari mobil sewa, dia masih minum kopi di salah satu lapo di kaki bukit ini.

Lembah…, sawah yang menguning bergelombang ditiup angin bak ombak laut, terbelah menjadi beberapa bagian, diiris jalan yang tampak menjadi garis hitam kehijauan, menghubungkan kampung-kampung dengan jalan besar, membentuk rangkaian simpul terhubung satu sama lain. Kampung berbagai berbentuk!. Bentuk persegi tidak beraturan,… bentuk bulat,… dan selalu dikelilingi pohon dan bambu. Di dalamnya deretan rumah beratap seng tampak sebesar kotak korek api. Cahaya matahari kadang muncul dari atap seng melalui celah daun pohon yang bergoyang ditiup angin. Sekali-sekali gumpalan debu beterbangan bergulung gulung mengejar mobil menyusuri garis hitam itu menuju jalan besar. “hmm… setiap pagi, jalan besar itu penuh anak sekolah, jalan kaki menembus kabut yang membatasi pandangan dua sampai tiga meter” dia bergumam.

Dua sungai besar mengalir memberi kesuburan pada lembah itu, memberi batas barat, tengah dan timur, yang tidak penah tercatum di ampolop surat pos. Bertemu di suatu tempat, lalu bergerak menuju ke selatan mengejar nun jauh disana…lautan Hindia. “Lembah yang indah dan subur…, kota sekolah…Medan…Jakarta..Indonesia…kota dan lembah yang ada di dunia..dunia makin sempit,…” pikirannya mencampur semua kejadian, dulu, saat ini dan masa datang, lebih cepat dari komputer apapun. Lalu dia berbalik memanggul ransel kesukaannya, melangkahkan kakinya melanjutkan perjalanan sambil menenteng sekotak besar rokok. Ya!, sekotak besar…meski dia tidak pernah merokok.

“Saya harus cepat, tiga bukit lagi harus kulewati…..satu setengah atau dua jam naik turun, lalu mandi di pancuran”. Perasaan menyenangkan mengalahkan kelelahannya, menimbulkan semangat masa mudanya, membayangkan pancuran bambu, airnya jernih keluar dari celah batu yang terbenam di pinggang bukit, terletak tidak jauh, sebelum kampungnya. “bundaran pelangi kecil, akan muncul didepanku bersamaan dengan jatuhnya percikan air pancuran dari kepalaku, dilukis sinar matahari sore. Tetapi hari ini tidak, matahari sudah terbenam saat saya tiba…aah..masih ada hari esok!” pikirannya penuh, serempak dengan langkahnya yang panjang di jalan antara bukit, jurang dan lembah kecil yang ditumbuhi semak, ilalang bercampur dengan pohon-pohon kecil-kecil. Haramonting, sanduduk, motung, tandiang, antunu dan buar-buar, kadang diselingi hau umbang, tambissu, dan sepang. Tiupan angin memaksa pohon dan ilalang berdesir, daun-daunan melambai-lambai disertai suara binatang dan kepakan burung ikut menyambut kehadirannya.

“Mana mungkin baik!…akhir tahun lalu para pabrikan mobil, motor beserta agennya mengumumkan keuntungan dan kenaikan jumlah penjualan, Jasa Marga juga untung, pabrik semen untung…. penghasilan pajak kendaraan…”, tiba-tiba muncul dipikirannya, tadi pagi dia ke bandara melewati banyak polisi tidur, berlubang menyakiti ban mobil, lalu masuk ke jalan besar. Jalan tol menuju bandara sudah mulai padat. Di bandara, hanya satu pintu yang terbuka, orang beringsut mengangkat tangannya ke dada melindungi tubuhnya dari antrian yang berdesakan. Pandangan mata dingin petugas seolah tanpa perasaan, gajinya mungkin kecil, sementara dua temannya asyik ngobrol tidak peduli. “Mana mungkin pelayanan publik yang baik, mana mungkin ada mass transport…. !! omong kosong…rugiii!!. Tiang-tiang mono-rail terbengkalai, bahkan sudah memakan korban mobil dan manusia”.

“Mana mungkin baik!!…., danau toba tetap saja mengecil….hutan tetap saja gundul, meski pabrik pulp kertas telah menyatakan pabriknya tidak mengganggu lingkungan,….permukaan danau toba tetap saja dibiarkan jelek dan bau, karena keramba ikan nila terutama di Parapat berpartisipasi meningkatkan nilai ekspor…”. Terbayang kesialannya terjebak dibelakang mobil truk, penuh kayu menggunung, menakutkan ketika jalan menikung, miring hampir terbalik. Mengakibatkan antrian panjang, mereka parkir dipinggir jalan entah apa sebabnya. Truk-truk itu juga harus melewati jembatan timbang. Lepas dari antrian membuat mobil mobil lari kencang, seolah dikejar hantu yang tak pernah menampakkan dirinya. Maka dia lebih sibuk berdoa daripada menikmati perjalanan, dia lebih sering memasukkan jantungnya yang sering terasa copot…sungguh nyawa hampir tak berharga…tidak ada speed limit.

Terdengar suara pancuran, tak terasa dia akan segera tiba, “bo..ni aek i.., bo..ni aeki!!” dia berteriak keras, dia heran tidak ada jawaban.. “pukul 6 lewat tidak ada orang?!”, biasanya saatnya banyak orang mandi..

Tubuhnya yang segar setelah mandi, menyesuaikan hawa dingin pegunungan. Dia melangkahkan kaki melewati gerbang kampung, cahaya lampu petromax dari lapo satu-satunya menerobos kegelapan menerangi jalan didepannya, hatinya sangat senang, terharu.., langkahnya makin panjang…suara riuh orangtua main catur dan nyanyian pemuda diiringi gitarnya, terdengar sayup-sayup, makin jelas makin kencang… dan “horas!!”
“horas!!…” semua orang menatapnya penuh tanda tanya.
“aku si Tigor…..!!” dia melihat sekeliling tidak ada satupun yang dikenalnya….

Tiba-tiba “bah…sudah pulang kau Tigor…”, seorang tua ubanan langsung memeluknya, “tigapuluh tahun cukup membuat generasi sudah berganti” katanya. “Berapa anakmu, kau sudah punya cucu?!, lihat aku, cucuku pun sudah mau nikah”, lanjutnya.

Tigor terhenyak dan terdiam sejenak, “Saya belum kawin, belum nikah…., tetapi semua anak-anakku, sudah selesai sekolah. Anak pungut!!, mereka banyak yang sudah berkeluarga, mereka tidak mengenal saya, dan saya tidak ingin mereka kenali, saya senang mereka sukses….hehehe..kau tau itu…..”

“Ah..kau itu, si Roma si gunung es itupun belum kawin..meski banyak pemuda yang melamarnya.., sudah tua dia itu..tetap saja cantik.. hehehe…cinta monyetmu itu..” sahut si orangtua temannya semasa sekolah, merekapun ngobrol sampai pagi.
__________________________
dari Bisik-bisik: Lapo: Warung atau kedai kopi/tuak, tempat orang berkumpul, minum, makan, main catur dan bernyanyi sering diiringi gitar.
Haramonting, baca [Haramotting]: sejenis tumbuhan liar setinggi pinggang orang dewasa, biasanya tumbuh di padang rumput dan steppa kadang disemak-semak, buahnya bulat sebesar ujung ibu jari orang dewasa, kalau sedang masak warnanya merah, rasanya manis dan enak dimakan.
Sanduduk [sadduduk]: sejenis tumbuhan liar setinggi pinggang orang dewasa, sering tumbuh berdampingan atau diselingi haramonting, daun bunga dan buahnya didominasi warna ungu. Buahnya bulat lonjong lebih kecil dari buah haramonting, rasanya sepat.
Motung: Sejenis pohon kecil, daunnya lebar dua warna, bagian bawah putih dan bagian atas hijau, tiupan angin seolah memberi lambaian dan bagus kelihatan.
Tandiang [taddiang]: Pakis
Antunu [attunu]: Sejenis pohon batangnya langsung bercabang, daunnya seperti pandan berduri lebih panjang, buahnya sebesar mangga dan kulitnya sperti buah nangka, tidak dimakan. Tumbuh di jurang kecil, kehadirannya menandakan kelembaban dan kemungkinan ada air.
Buar-buar: sejenis tumbuhan seperti rotan, besar tetapi kaku, jarang digunakan, ujungnya berduri.
Hau umbang [hau ubbang]: sejenis pohon tidak pernah atau jarang menjadi besar, tetapi banyak tumbuh dibukit, batangnya sering digunakan sebagai pagar.
Tambissu [tabbiccu]: sejenis pohon tak pernah atau jarang besar, seperti hau umbang, batangnya sering dipakai sebagai pagar. sejenis ulat suka daun tambissu ini, dapat dimakan.
Sepang: Sejenis pohon, batangnya lurus tidak bercabang, lunak dan ringan, dipakai sebagai bahan untuk membuat okulele dan gitar kualitas sedang.
Bo..ni aek i..: adalah kata normal yang harus diteriakkan ke pemandian kalau kita ingin lewat, atau mandi.

Written by Singal

December 10, 2008 at 9:29 pm

Mimpi Rel-Ganda Kereta Api di Indonesia.

with 11 comments

Meski hanya angan-angan, saya langsung menyetujui mimpi teman saya, yang berencana membangun  rel-ganda kereta api, dari Sabang sampai ke Merauke. Temanku ini selalu memberi contoh rangkaian kereta di Eropa dan Amerika. Konon, sejak awal mereka membangun rangkaian kereta api, sebagai salah satu prioritas dan telah terbukti!!. Prioritas negeriku, adalah membuat mobil dan “jalan-jalan yang berlubang serta jalan tol yang macet”, sudah terbukti pula!!. Hidup, industriawan mobil!!! Hidup, jasa marga!!!

Sesuai mimpinya, lalu saya bayangkan orang kampungku, dengan mudah membawa hasil buminya. Saya bayangkan orang kampungku, pergi pulang dari satu tempat ke tempat lainnya dapat dalam waktu yang tepat. Dan, di kota, saya bayangkan, semua kegiatan, dapat diatur dengan baik.

Jakarta dengan penduduk lebih dari 12 juta orang. Kemudian, Medan, Bandung, Jogyakarta, Surabaya dan Ujung Pandang juga sudah dijejali penduduk. Kesibukan menjadi jantung kota, menggerakkan orang kesegala penjuru.  Angkuatan kota semrawut, macet dimana-mana. Hasilnya?!, banyak orang lelah, stress, menjadi tidak sabaran, pemarah, egois dan saling serobot. Evolusi peradaban sedang berlangsung!!!. pelan pelan, kembali ke jaman purba dalam bentuk lain.

Dahulu sudah ada kereta api dari Kutaraja (Banda Aceh) ke Medan, sekarang hilang. Di Jakarta rel kereta ke stasiun Tanjung Priok hilang atau tidak berfungsi. Pembangunan mono-rel? jangan tanya!, tiangnya saja yang ada, dan menjadi salah satu penyebab kemacetan. Jakarta Transport dan bus-waynya? aneh! membeli minyaknya saja tidak mampu.

Mudah-mudahan temanku ini, suatu saat menjadi presiden. Semoga pula dia seorang presiden yang kuat dan berwibawa nan bijaksana, sehingga dapat melaksanakan mimpinya, seperti Gorbachev menyatakan Glasnot dan Prestroika.

_____________

dari Bisik-bisik: Negeri ini kan perlu lapangan kerja,…….. iya kan?

Written by Singal

March 20, 2008 at 9:24 am

Banjir Kiriman dari Gunung dan Langit, Jakarta, Jawa dan Luar Jawa

with 11 comments

Kemarin sore pukul 17.30, 12 Maret 2008, perjalanan pulang dari arah Blok M ke Cinere, macet parah luar biasa. Dua jam sebelumnya, Jakarta dapat kiriman dari langit, diguyur hujan deras, kita dengar di radio ElShinta, memang, sebagian besar jalan banjir dan menyebabkan macet di mana-mana.

Jakarta macet?!, sudah biasa. Jakarta banjir?! sudah biasa. Yang luar biasa, adalah kambing hitamnya, “saluran air tersumbat sampah  dan pompa air dibeberapa terowongan tidak berfungsi”. Kita tidak tahu kambing ini sebenarnya tinggal berapa ekor.

Berbarengan dengan itu ada berita, kiriman air dari gunung akan tiba pula, atas jasa sungai Ciliwung dan akan melanda daerah alirannya, jalan umum, rumah, pertokoan atau apapun yang ada didepannya, tanpa peduli dan perasaan, karena ia tidak diberi perasaan, seperti alat kontrol dan sarana yang lain seperti waduk misalnya.

Hal yang sama, bengawan Solo melanda kawasan Bojonegoro, Tuban dan Lamongan di Jawa Timur. Bengawan Madiun melanda Ngawi. Banjir di mana-mana, kabupaten Bandung di Jawa Barat. Daerah Muara Enim dan kota Palembang di Sumatera Selatan. Kalimantan Selatan dan lain-lain.

Masyarakat yang terkena banjir ada yang mengungsi ada yang bertahan. Padi dipanen lebih awal, wabah penyakit mengancam. Jalan-jalan rusak. Sementara DPR sibuk melakukan pemilihan Gubernur Bank Indonesia. Meneg BUMN dan beberapa menteri terkait, sibuk pula mencari orang, yang akan didudukkan mengganti jajaran direktur, yang telah habis masa periodenya. Hujan dan banjir memang, mungkin bukan pekerjaan mereka.

Selalu berulang tiap tahun pada musim dan situasi yang sama, aneh juga keledai, binatang yang tidak mau terperosok dua kali pada tempat yang sama.

Namun, sebaiknya, kita harus melakukan sesuatu secara bersama, agar tidak berulang terus, sehingga berlakulah nasehat orangtua kita yaitu,  “Bersatu kita teguh bercerai kita rubuh” dan “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.

__________

dari Bisik-bisik: Bantuan lagi direncanakan dan disusun daftarnya begitukan, maksudnya!

Written by Singal

March 13, 2008 at 1:16 pm