Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Enak.

leave a comment »

“Makan bu!” kataku kearah dua orang gadis penjaga Warteg dekat kantorku, eeeh mereka tertawa saling tunjuk “ibuuu!” senda gurau mereka saling tunjuk. “Makan apa pak” kata salah seorang dari mereka. “Nasi sedikit saja mbak” kataku, dia tertawa lagi menunjuk temannya “ini ibu, saya mbak” katanya. Lalu kulihat etalase makanan, hmmm banyak macam, “tempe orek, pete sambal, bandeng goreng tengahnya, labu siam lalu kuah opor ayam” kataku sambil menunjuk satu satu. “Teh tawar panas, mbak” lanjutku.

Biasanya, saya makan buah saja untuk siang, namun Indo Maret dekat kantor itu tidak menjual bijian hari ini, “habis Pak” katanya, lalu saya ke Warteg itu, dua toko di samping. Hmmm…Warteg ini sebagai cadangan tempat makan. Segar, enak cocok dengan lidahku, maka selalu ke sini, kalau buah kesukaanku tidak ada. Memang dasar kantong gue pas untuk itu. Hahaha.

#imajo…enak, kubayangkan temanku mencium napasku bau pete, biasanya bau kopi dan rokok #

Advertisements

Written by Singal

November 17, 2018 at 1:35 pm

Catatan, kutulis supaya tertulis

leave a comment »

Lebih dari sepuluh tahun sudah sangat lama berlalu, “ro jo ho tu Bekasi, kau ke sini dulu, ke Bekasi” kata ayah melalui telepon. Ayah sudah lama sakit, “makan kesukaanmu, tidak ada pantangan” itu kata dokter ahli di RSCM, rujukan sejawatnya dari Medan, “tidak usah makan obat” lanjutnya, tanda pengobatan lanjutan adalah sia sia. Maka kami selalu mengantarnya kepada seorang Sin She di bilangan Pasar Baru “lebih nyaman” kata ayah, meski kami tahu, dia menyenangkan hati kami.

Hari ini, 11 Nopember 2018, kumpulan marga saya Sihombing, pesta lima tahunan, sekaligus pelantikan pengurus baru. Saya sungguh bersyukur, berakhir juga masa tugas, apalagi satu tahun terakhir ini saya kurang aktif, karena kegiatan yang padat ditempat lain. Hmmm..bagian dinamika hidup.

Di tengah pesta ini kuingat itu semua, “tadi Bupati datang, mau membeli tanah” kata ayahku, sambil kupegang tangannya. Saya duduk di samping tempat tidurnya, di rumah adik perempuanku, janda yang tegar itu. Wajahnya tetap berseri, tetap kemerah merahan seolah tidak sakit.

“Kita tidak pernah, dan tidak boleh menjual tanah, kalian ingat itu” katanya menatap saya dengan penuh ketegasan. “Kita berkan saja kepada mereka, biar kampung kita itu maju” lanjutnya. “Baik Pak” jawabku. Sepeninggal ibu saya, ayahku ini cepat merosot kesehatannya, tetapi pikirannya sangat sehat, mereka sama persis, hmmm. Dua minggu kemudian, beliau menghadap Tuhan di Surga.

Acara pemakaman di kampung kelahirannya, kampung kami, surat penyerahan tanah untuk Kantor PolRes kabupaten Humbahas, kami tanda tangani duabelas kakak beradik diatas peti jenajahnya, disaksikan Bupati dan tua tua marga kampung kami.

Majulah kabupaten Humbahas, majulah tapanuli, majulah negeriku Indonesia.

“Kita cepat pulang” kataku kepada istri tercinta polisi toba, “saya kan mau ke Gorontalo” lanjutku, ditengah serunya lagu, musik dan tortor.

#itulah dulu, acara pelantikan pengurus baru sudah dimulai. Semangat pengurus baru, majulah kalian#

Written by Singal

November 17, 2018 at 1:29 pm

Menyongsong fajar, Obat pikun

leave a comment »

“kita lewat lebak bulus” kataku ke supir mobil on line yang ku pesan, kunyalakan lampu lalu kulambaikan tangan dari jendela kepada istri tercinta polisi toba. Hmmm… dia menungguku berdiri di pintu rumah membalas lambaian tanganku, rumput halaman, daun bunga bunga dan pohon kecil basah terlihat memantulkan cahaya lampu, mereka ikut melihatku sampai hilang.

Jakarta Raya tak pernah tidur, jalan toll macet karena perbaikan. Tidak apa apa tiga jam lagi dalam hatiku. Saya harus ke Gorontalo, pekerjaanku memaksaku harus ke sana.

Sepi jam segini

Di sini, pukul 00.00 tempat merokok terminal 1C, bandara Sukarno Hatta, 11 November 2018, gue liat banyak juge nih orang orang pade ngepul, dikejauhan ada juga yang tiduran mungkin pesawatnya masih lama. Hmmm..bandara yang selalu padat, kuingat perjalanan Menado Jakarta Pekanbaru, saya lebih memilih tidur di kursi bandara, daripada pulang ke rumah, waktu itu pukul 23.00, menunggu pesawat pagi pukul 6.00.

“bapak dimana?” kubaca pesan seorang teman di WA. “Baik Pak” lanjutnya setelah kuberitahu. Masih lama, boarding time 01.40,

Akhir minggu yang selalu padat, sabtu ke pesta adat, minggu pulang gereja ke acara sosial yang terjadual maupun yang tibatiba. Selalu begitu. Hidup penuh syukur meski capek. Hehehe berbahagialah orang capek.

Kususul temanku ke ruang tunggu, sambil kuteguk air yang kubawa dari rumah…hahaha aku tidak suka air kemasan, kecuali terpaksa banget. Hehehe..menyongsong fajar ke Timur, kutulis supaya tidak pikun,

#itulah dulu, gue asyik ngobrol nih dengan teman rombonganku#

Written by Singal

November 17, 2018 at 11:51 am

Ternyata mereka bisa dan hebat

with one comment

Sepanjang Perjalanan dari Gorontalo ke Molibagu menyusur pantai arah selatan dan bukit terjal di sebelah Utara

Selasa pagi, 13 November 2018. Penuh juga satu piring, saya mengambil semua makanan yang disediakan, masing masing sesendok makan, untuk sarapan pagiku, sudah menjadi kebiasaanku setiap kali menginap di Hotel, lalu kopi dan telur mata sapi setengah matang yang dibuat kalau kita pesan.

“Sudah berkeluarga pak?” tanyaku kepada pak supir yang menemani kami selama di Gorontalo ini, mobilnya kami sewa termasuk menginap. Hmmm..pertanyaan yang aneh dan tidak sopan kalau di negeri Barat.
“Satu putra sudah semester empat, satu putri masih SMA” jawabnya, kami menghabiskan makanan masing masing lalu keluar dari ruang makan mencari udara segar. “Hidup kita untuk mereka Pak, beri mereka dukungan dan semangat” kataku. Dia mengangguk sambil menghembuskan asap rokok dari hidungnya, hehehe…gue juge.

Dia tinggal bersama keluarga di daerah perbatasan propinsi Gorontalo dengan propinsi Sulawesi Utara, punya usaha sewa mobil dan punya kebun cengkeh juga, anaknya indekost di Gorontalo. Dalam perjalanan survey yang kami lakukan ke arah Molotabu sampai ke Molibagu dia sempatkan mampir di rumahnya di tepi jalan raya. Daerah yang kaya, sepanjang perjalanan, indah menyenangkan, sebelah selatan laut jernih, sebelah utara bukit terjal yang subur, pohon kelapa cengkeh dan beragam pohon lainnya.

“Belajar adalah kesenangan, tinggal kelaspun tidak apapa asal sudah belajar” kataku kepada anak anakku, dalam hati mana mungkin tinggal kelas kalau sudah belajar, lalu mereka melakukannya, kini mereka tinggal di rumah masing masing, meninggalkan saya dengan istri tercinta polisi toba. Hahaha sekali sekali datang juga kok ke rumah, bersenda gurau dengan kami.

Kuingat ketika saya duduk di atas meja mahasiswaku kutepuk pundaknya “kamu perantau ya, tanggal berapa habis kiriman” kataku, “bapak ini” katanya sambil tersenyum, “kirim berita baik ke kampung, ayah ibumu dan kepada semua saudaramu, belajar dengan baik” lanjutku, “dan berita baik itu bukan dari suratmu, tetapi dari teman temanmu ini”. Tentu kalau ke mahasiswi saya berdiri dihadapannya memberi semangat. Hmmm..saya dekat dengan mahasiswa.

Lalu bell, tanda jam pelajaran selesai, “buat tugas, bawa minggu depan” kutulis nomor soal dari text book buku pegangan yang telah ditentukan, lalu terdengar protes “bapak belum mengajarkannya” seru mereka. “Mahasiswa harus mampu belajar sendiri, lalu bersosialisasi dalam group”, gaya mengajar saya begitu, lalu minggu depannya kita bahas dan bicarakan kekurangan kalau ada, ternyata mereka bisa dan hebat.

“Sudah tiba Pak” kata temanku membuyarkan lamunanku.

Written by Singal

November 17, 2018 at 11:13 am

Nasib

leave a comment »

Kugoyang goyangkan telapak tanganku untuk menolak tawaran orang jasa angkutan, “ada yang jemput” kataku, sambil melemparkan pandangan ke barisan mobil yang sedang parkir. Saya sedang menunggu jemputan sopir kantor kami di Kualanamu, di seberang jalan keluar terminal, sebelah kiri, biasanya dia parkir di situ.

Tiba tiba ada yang memanggil namaku, dari antara serombongan orang yang telah berada didekatku, kuperhatikan  mereka, tetapi otakku lemot dan tidak segera memberitahu siapa mereka, mungkin saya terlalu lama melihat barisan mobil yang parkir di tempat yang terang kena cahaya matahari.

“Aduhh..maaf pak, pangling” kataku, sambil salaman. Mereka adalah rombongan orang terhormat dalam karirku ketika masih aktif bekerja. Ternyata jemputan mereka lebih dulu tiba, sambil melambaikan tangan dari jendela mobil, mereka segera hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan ke Medan, terngiang kembali, rumah dan pertemuan singkat itu, mereka ada acara penting di Medan, lalu akan buka bersama dengan kawan kawan nanti sore, masih kusempatkan bilang ”kirim salam, selamat menjalankan ibadah puasa, jangan lupa pak, kalau ada hitungan aljabar berikan ke saya” dan kami tertawa tawa.

Tadi pagi buta sebelum berangkat ke bandara Sukarno Hatta,  saya masih sempat mendengar dan melihat berita di TV sambil membaca teletext berjalan, ada peringatan tentang hujan akan turun tiga hari ke depan, sepak bola eropa dan tentang DPR dan Ahok, dan banyak lagi.

Semua orang peduli kepada Ahok. Bahkan para pembenci mengikutinya ke mana pun dia pergi, sambil menyatakan Ahok itu kotor. Mereka menggunakan berbagai  alat ukur yang presisi, dan alat ukur ciptaan baru, undang undang, dijalin seperti jala terbuat dari benang baja kuat untuk menghadangnya.

Mereka seperti orang gila, bingung, melihatAhok tenang tenang saja, mereka makin panas karena Ahok bersih, harum dan wangi semerbak jauh ke seluruh Nusantara. Lalu mereka menggunakan hidung mendengus dengus, dan tiba tiba dari Senayan ada teriakan “teman Ahok yang kotor” katanya. Maka mereka akan lebih gila lagi.

Tau tau, saya sudah tiba di kantor perwakilan kami di Medan., saya akan makin sering datang ke sini, mungkin itu kata nasib.

Written by Singal

June 18, 2016 at 10:25 pm

Pertemuan

leave a comment »

Sanga (Sempat)

“Sempatkanlah datang” suara teman melalui hp, ia bersemangat ingin bertemu, kurasakan tekanannya suaranya, ia sangat senang maklum sudah 46 (empat puluh enam) tahun  tidak bertemu,  memang Jakarta…kota egois.  “sudah banyak teman di sini, si anu, si itu dan..”  disebut satu per satu, tidak ada satupun yang kuingat, siapa mereka.

Dulu kami satu  kampung dan satu SMA, bertemu di group whatsup, maka ia tau no hp ku. “saya usahakan, lae” sahutku singkat. karena saya sedang menghadiri acara adat “marhusip dan ria raja” (acara melamar, berbalas pantun) di Cililitan, sedang mereka di Kelapa Gading menghadiri acara adat perkawinan, salah seorang teman SMA kita mantu.

Ini foto pada acara adat “marhusip nya di Cililitan.

Cililitan

Dan akhirnya saya sempatkan ke Kelapa Gading, malah di daulat “mandok hata” (memberikan  kata selamat berbahagia) tentu dengan bebarapa peribahasa yang berkaitan dengan kehidupan.meski salah salah sedikit tidak apa-apa.

IMG-20160522-WA0009

Written by Singal

May 25, 2016 at 5:51 pm

Parade

leave a comment »

Menoleh lagi ke belakang.

Desember 2015 lalu kami pulang kampung. Hari ini, 15 May 2016, sebaik pulang gereja, tiba tiba saya teringat lagi. Dasar sudah tua, apa boleh buat, terpaksa kutuliskan lagi sedikit tolehan ke belakang, ini dia:

Embun pagi tebal dan dingin, telah menyatu dengan penduduk Rura Silindung, kokok ayam membangunkan mereka, lalu memulai kegiatan masing masing, suara jangkrik dan kodok sekali sekali masih kedengaran setelah semalaman bernyanyi, kini burung burung akan menggantikannya dengan suara yang lebih merdu. Kokok ayam bagaikan ayunan tangan dirigen memimpin nyanyian koor, menggerakkan kehidupan menyongsong fajar dan hari.

Orang orang mulai bergegas, menembus embun pagi yang malas naik ke langit, seolah permukaan tanah maknit bagi mereka, atau ia malas seolah ingin memberi vitamin bagi orang yang menembusnya agar tetap sehat dan kuat. pergi ke kebun, ke pasar, ke sekolah ke segala penjuru sesuai kepentingan masing masing bergerak bagaikan sebuah parade.

Baju putih anak sekolah menyamarkan mereka, berjalan dengan cepat, sendiri, berdua atau bertiga beriringan bergerak teratur tanpa ada yang memimpin. sekali sekali terdengar obrolan mereka, obrolan secara acak, tugas rumah, pak guru, sawah, berita surat kabar, radio dan hubungan antar manusia, sungguh otak manusia terdiri dari cpu atau computer processor unit dengan RAM dan internal memory yang besarnya tidak terbatas dan tentu tidak dapat ditiru manusia, Tuhan penciptanya.

Foto ini adalah jalan yang menghubungkan desa Hutabarat dan kota Tarutung, yang kujalani tiap hari pergi pulang, ke dan dari sekolah, diluar keperluan lain, ke pasar nonton bioskop hehehe. Sekolah kami di pinggang bukit di kejauhan agak kebiru biruan.

Kujalani tiap hari

Jalan yang menghubungkan Hutabarat dan Tarutung

Saya SR di desa Hutabarat, ini fotonya. Sudah banyak berubah, terutama halaman untuk bermain sudah tidak ada lagi dan berubah menjadi bangunan

SD Hutabarat

Tempatku sekolah SR atau SD

Ini Sekolah saya ketika SMP, terletak dipinggang bukit.

SMP Negeri 2

SMP Negeri 2, Tarutung. Saya bersekolah di sini tahun enampuluhan.

Dan ini sekolah saya ketika SMA, terletak di pinggang bukit, tidak  jauh dari sekolah SMPN 2, dan kedua sekolah ini mempunya lapangan sepak bola yang sama, dan juga keduanya dekat dengan Taman Makam pahlawan Tarutung.

SMA Tangsi

SMA Tangsi Tarutung, Sekarang menjadi SMA Negeri 1.

Ini adalah Gereja di mana saya sekolah minggu, sidi dan menjadi “naposo Bulung”, remaja. Gereja HKBP Hutabarat Partali Toruan.

HKBP Partali Toruan

Gereja HKBP Partali Toruan, saya sekolah minggu, Sidi dan Naposo Bulung di Gereja ini

Written by Singal

May 15, 2016 at 4:13 pm