Singal’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘Lingkungan’ Category

Parade

leave a comment »

Menoleh lagi ke belakang.

Desember 2015 lalu kami pulang kampung. Hari ini, 15 May 2016, sebaik pulang gereja, tiba tiba saya teringat lagi. Dasar sudah tua, apa boleh buat, terpaksa kutuliskan lagi sedikit tolehan ke belakang, ini dia:

Embun pagi tebal dan dingin, telah menyatu dengan penduduk Rura Silindung, kokok ayam membangunkan mereka, lalu memulai kegiatan masing masing, suara jangkrik dan kodok sekali sekali masih kedengaran setelah semalaman bernyanyi, kini burung burung akan menggantikannya dengan suara yang lebih merdu. Kokok ayam bagaikan ayunan tangan dirigen memimpin nyanyian koor, menggerakkan kehidupan menyongsong fajar dan hari.

Orang orang mulai bergegas, menembus embun pagi yang malas naik ke langit, seolah permukaan tanah maknit bagi mereka, atau ia malas seolah ingin memberi vitamin bagi orang yang menembusnya agar tetap sehat dan kuat. pergi ke kebun, ke pasar, ke sekolah ke segala penjuru sesuai kepentingan masing masing bergerak bagaikan sebuah parade.

Baju putih anak sekolah menyamarkan mereka, berjalan dengan cepat, sendiri, berdua atau bertiga beriringan bergerak teratur tanpa ada yang memimpin. sekali sekali terdengar obrolan mereka, obrolan secara acak, tugas rumah, pak guru, sawah, berita surat kabar, radio dan hubungan antar manusia, sungguh otak manusia terdiri dari cpu atau computer processor unit dengan RAM dan internal memory yang besarnya tidak terbatas dan tentu tidak dapat ditiru manusia, Tuhan penciptanya.

Foto ini adalah jalan yang menghubungkan desa Hutabarat dan kota Tarutung, yang kujalani tiap hari pergi pulang, ke dan dari sekolah, diluar keperluan lain, ke pasar nonton bioskop hehehe. Sekolah kami di pinggang bukit di kejauhan agak kebiru biruan.

Kujalani tiap hari

Jalan yang menghubungkan Hutabarat dan Tarutung

Saya SR di desa Hutabarat, ini fotonya. Sudah banyak berubah, terutama halaman untuk bermain sudah tidak ada lagi dan berubah menjadi bangunan

SD Hutabarat

Tempatku sekolah SR atau SD

Ini Sekolah saya ketika SMP, terletak dipinggang bukit.

SMP Negeri 2

SMP Negeri 2, Tarutung. Saya bersekolah di sini tahun enampuluhan.

Dan ini sekolah saya ketika SMA, terletak di pinggang bukit, tidak  jauh dari sekolah SMPN 2, dan kedua sekolah ini mempunya lapangan sepak bola yang sama, dan juga keduanya dekat dengan Taman Makam pahlawan Tarutung.

SMA Tangsi

SMA Tangsi Tarutung, Sekarang menjadi SMA Negeri 1.

Ini adalah Gereja di mana saya sekolah minggu, sidi dan menjadi “naposo Bulung”, remaja. Gereja HKBP Hutabarat Partali Toruan.

HKBP Partali Toruan

Gereja HKBP Partali Toruan, saya sekolah minggu, Sidi dan Naposo Bulung di Gereja ini

Written by Singal

May 15, 2016 at 4:13 pm

Nyanyian Danau Toba

leave a comment »

Nyanyianmu

Danau Toba, beribu buku, beribu halaman, kau diceritakan

Kusuka datang mengunjungimu, kusuka mengingatmu, kusuka mengelilingimu

Dalam perjalananku, kudengar nyanyianmu, kadang sedih kadang senang

Kurasakan dan kudengar semua nyanyianmu, tandanya aku sadar dan sehat

melodi dan simfoni kadang senang, kadang sedih, sambil melihat sekelilingmu

Nenek moyangku menyebar dari salah satu bukit yang kau sebut dalam nyanyianmu.

Ibuku juga lahir dan besar di salah sati tepi pantaimu, maka pamanku dan turunannya masih di sini.

Ini fotomu dalri makam nenek moyangku, kau memberi hidup mereka

Makam nenek moyang

CIMG1357 (1).JPG

 

 

 

 

dan ini juga dalam perjalanan pulang dari makam,

CIMG1360.JPG

Dan ini

 

Satus sisi Toba.JPG

Kau tak pernah berhenti bernyanyi, meski kami sudah banyak yang tuli dan tak peduli

Mungkin kau pikir kami akan bosan juga tuli

Mungkin kau pikir suatu saat kami akan peduli

Paling tidak generasi pengganti kami.

Yang jelas, mungkin kami masih tetap menuruni bukit dari Doloksanggul,

setengah jam kemudian akan tiba di Bakkara,

lalu pasti melewati desa Janji, penyumbang sedikit air permukaanmu,

terjun dari balik bukit, tampak indah, percikannya menyejukkan,

menambah kesehatan karena kita lupa dunia,

lalu setengah jam kemudian tiba ditempat ini lagi, namanya Desa Tipang.

 

Written by Singal

May 5, 2016 at 8:54 pm

Menular, Terasa Hambar Sang Kaisar!

with 9 comments

Kuurungkan menegur sahabatku pagi itu, wajahnya lebih cemberut dari biasanya. Tiap pagi, tegur sapa selalu keluar dari mulutku “Selamat pagi!, apa kabar pak!?” meskipun saya tidak begitu peduli ada jawaban atau tidak. Dia duduk, lalu saya mendapat hadiah, bunyi benturan keras tutup buka laci dan buku dengan permukaan meja serta suara kecil gerutuan. Sudah terbiasa bagi saya menghadapi sahabatku yang satu ini. Tentu saja, saya selalu datang duluan karena saya tidak suka macet jalanan Jakarta. Sahabatku itu itu tersenyum hambar kearahku, menularkan senyuman hambar bibirku. “loe itu selalu nggrutu aje” kataku, lalu kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Tiba tiba sang kaisar manajer sipemalas tetapi sangat pintar, tidak berperasaan menurut kita, datang, memberi pengarahan yang sangat baik tentang kerja keras, penuh basa basi, kesuksesan perusahaan dan bagaimana harus mempertahankannya. Karena beliau kaisar maka kita menjawabnya “baik pak!” setelah dia pergi kita merasa hambar, atas nasehat yang sangat teoritis bagus masuk logika dan hebatlah pokoknya.

“Misteri kita tergantung bagaimana kita!” kataku pada seorang teman lainnya, meski saya tidak ingin menasehati orang itu, karena saya juga masih perlu dinasehati. “Coba bayangkan kalau kamu menyakiti orang, maka dalam hatinya akan bilang sialan orang ini, lalu dia bercerita sama temannya dan mengamini bahwa anda itu sialan”. Menurutku, sebuah misteri akan mengawang di angkasa seperti gelombang radio, alampun mendengar dan merasakannya, kemudian kita ketibaan sial, kebentur meja dan tersandung pada kerikil kecil. Terasa hambar juga nasehatku itu, karena mungkin teman ini tidak mengharapkan nasehat dariku, melainkan menginginkan mengamini perasaan ketidak sukaannya pada orang lain.

Maka misteri apa gerangan yang terjadi di negeri ini, harga-harga pada naik, sembako, listrik, tabung gas meledak, jalan macet, rusak tidak teratur, hutan gundul, lumpur lapindo, sementara orang terhormat, para kaisar dan para pakar yang makin banyak, menjelaskan mengapa dan apanya serta bagaimana menanggulanginya, dengan intonasi suara penuh perasaan, dilapis kehebatan dan kebanggan karena hidupnya memang sukses, dilihat dari kekuasaannya, bahkan dari baju yang dipakai. Mereka menjelaskan penuh himbauan, ilmu dan teori. Terasa hambar paling tidak menurutku.

Sangat kontras dengan temanku si wajah ceria, gaji kecil, pakaian sangat sangat sederhana, penuh dengan senyuman yang cerah, secerah wajahnya, menularkannya dengan sangat cepat, terbukti dengan kita otomatis menggerakkan bibir, tersenyum cerah juga, menggairahkan urat-urat halus mengalirkan darah, menyegarkan dan menyehatkan wajah kita, “hai..apa kabar?”, “baik..pak” betapa senangnya dan kita menyenanginya. Terasa manis.
_______________________________________
dar Bisik-bisik:Himbauan, teori..terasa hambar!

Written by Singal

July 31, 2010 at 11:24 am

Kakek

with 6 comments

Fiksi

“Kalian jangan lupa, kalian satu dalam tim, buat catatan sistem tagging, saling mengingatkan, setiap kesempatan jangan disia-siakan, jangan bikin malu..ok?, kalian diberangkatkan dengan doa oleh anak dan isteri atau suami atau orangtua” getaran suaranya menumbuhkan semangat yang dia tanam dalam hati mereka.

“Jangan bikin malu…diberangkatkan dengan doa oleh keluarga….., enak saja bapak itu ngomong, apa dia tau kita digaji kecil?” kata salah seorang dari mereka dalam perjalanan ke tempat tugas, “empat hari kan lumayan lama, pisah dengan keluarga” lanjutnya, sementara yang lain diam saja, mereka tahu sifat temannya, ngomongnya saja begitu, dia memang pekerja keras, pantang menyerah dan pembakar semangat.

Kejadian itu tidak pernah dia lupakan, dia istirahat sejenak menatap layar laptopnya dan membaca ulang kata-kata dan kalimat yang baru saja dia ketik, tatapannya menjadi kosong, pikirannya menerawang, hening…diam.

Kini dia tinggal sendiri. Sang bos hebat, dan teman-teman anggota timnya termasuk si pembakar semangat sudah lama pergi menghadap yang Mahakuasa. Masa tuanya dia habiskan menulis dan membantu orang, siapa saja yang memerlukannya, maka dia tidak pernah kesepian dalam kehidupan melajang. Lagi pula, semua anak dan cucu-cucu temannya menganggap dia sebagai keluarga, sebagai orang tua dan sebagai kakek begitu juga sebaliknya dan mereka suka berkunjung.

Banyak isak tangis, banyak doa, banyak kata sambutan, banyak cerita dari orang yang datang melayat. “Selamat jalan kakek!”, dia dimakam kan di TPU tanpa batu nisan sesuai permintaannya dalam tulisan terakhirnya.
_____________________________________________
dari Bisik-bisik: Selamat jalan kakek!, batu nisanmu tertanam dalam hati keluarga dan cucu-cucumu, karya nyatamu tumbuh makin subur dan selalu berbuah.

Written by Singal

March 21, 2010 at 5:50 pm

Bom, Keadilan dan Kebenaran atau Keselamatan

with 49 comments

“Eiiiii….. hahaha….”, suara dan tawa temanku yang satu ini, selalu memecah suasana kesunyian pagi di kantor kami. Dia memanggil salah seorang teman kongkownya. Celotehannya selalu membuat urat-urat halus pipi mengembang, sehingga darah mengalir dengan lancar, menghangatkan para wajah yang berubah menjadi ganteng dan menjadi cantik karena memperlihatkan senyum, meski ada-ada saja yang tetap cemberut.

“Lihat…” katanya, dia ngobrol keras-keras dengan teman itu. “loe sudah baca koran ga!”. Lalu dia nyorocos terus “Ada bom meledak, di hotel JW Mariot dan Ritz-Carlton. MU…Manchester United ga jadi datang!, Presiden mengaitkannya dengan pilpres!, gila…gila..gwe rugi niih”.

Dia beranalisis sendiri, dan menyatakan rugi, karena mungkin sudah membeli tiket buat nonton MU. Sementara temannya hanya menimpali sepatah sepatah kata. “Sungguh biadab!!, korbannya orang tak berdosa, tidak masuk akal. Kita rugi, negeri ini rugi.. rugi buesaaar….”, kita menjadi tegang mendengarnya, dan wajah-wajah ganteng dan cantik surut kembali ke aslinya, mereka memulai kesibukan masing-masing.

Teman ini masih saja meneruskannya “seharusnya presiden ga usah ikut manas-manasi suasana. masa dia menunjuk dirinya sendiri, sementara korban lagi kesakitan benaran. Malah pakai tunjuk foto segala, tunjukin orangnya dong, foto mah bisa dibuat dimana saja. Kita serasa orang bodoh, kita sih tidak pro siapa-siapa. Siapapun presiden pokoknya gwe ada kerjaan, itu saja”, kita diam saja, meski dalam hati betul juga dia.

Banyak komentar, banyak kesenangan atas kesakitan, dimana keadilan dan kebenaran? apakah negeri ini akan melupakannya? apakah saling tuduh, dan saling paling benar berlanjut?. Apalagi kalau para politikus dan orang pintarnya, saling silih berbicara di media masa terutama di acara tv. Dalam hatiku semoga mereka bukanlah orang yang mempunyai sifat dan karakter yang hebat “the fantastic liar” yang bisa mempengaruhi orang, tidak perduli keadilan dan kebenaran, yang penting dia berhasil, mencari keuntungan dan keselamatannya sendiri.

Kegalauan hati teman tadi dinyatakan dengan volume suara yang keras, bisa jadi gambaran kejengkelan dan kebosanan atas perang kata-kata politikus, yang cenderung tidak berguna pada kehidupan kita secara langsung, “mereka omong doang” katanya.

Seorang pendekar, bahkan orang tua kita, selalu menyembunyikan rasa sakitnya, melilit lukanya dengan rapat agar tidak diketahui murid dan anaknya apalagi musuhnya. Tak percaya? “Memang itu yang terjadi, ibu-ibu yang bijak selalu menyembunyikan rasa pedih dan sakitnya, agar anaknya tetap tenang dan damai dan merasa nyaman, belajar dan bersekolah…”, dalam hatinya “cukup saya yang menderita dan tidak perlu mereka tau..mereka harus bahagia…”

Mengenai bom?, pelakunya?. Kita percayakan kepada pihak berwajib, mereka akhlinya, maka mereka ditugaskan untuk itu, kita mendukungnya, kita memberi semangat dan doa. Semoga negeri kita aman.
____________________________________
dari Bisik-bisik: Semoga kita selamat!

Written by Singal

July 18, 2009 at 12:46 pm

Untung Saya Bukan Presiden

with 68 comments

Kalau tidak, maka:
(berikut ini rangkuman secara umum pelaksanaan program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang)

Bidang Pendidikan dan Teknologi
1. Sekolah dan buku gratis.
2. Sekolah sampai kelas 12.
3. Gaji guru (termasuk guru taman kanak-kanak) dan gaji dosen, paling rendah setara 100 gram emas setiap bulan.
4. Masa orientasi dihapuskan karena selalu mengarah pada kekerasan.
5. Pendidikan efektif, anak sekolah berbudi pekerti, tidak kehilangan masa anak-anak dan masa remajanya, maka jumlah buku dan mata pelajaran per kelas per tahun harus dikontrol. Karena (menurutku) kita tidak memerlukan orang pintar yang tidak berperasaan seperti komputer dan mesin.
6. Pendidikan di Universitas dengan mutu yang baik dan berkualitas.
7. Membangun technology research center disegala bidang.

Lingkungan, Pariwisata dan Kesehatan
1. Penebangan hutan akan dihentikan, HPH (Hak Pengelolaan Hutan) dihapuskan dan penghijauan besar-besaran dilaksanakan dan dikontrol tiap hari.
2. Seluruh tepi pantai ditanami pohon bakau sejauh yang bisa ditanami ke arah laut dan sejauh 3 km ke arah darat menjadi hutan lindung. Maka seluruh binatang akan senang.
3. Tidak boleh buang sampah ke sungai, apalagi sampah plastik.
4. Irigasi ke sawah ladang dan lahan pertanian dibangun. Harga jual hasil pertanian harus dijaga demi kemakmuran petani.
5. Semua jenis immunisasi gratis. Pembangunan rumah sakit dan puskesmas ditingkatkan.
6. Fasilitas pariwisata dibangun, agar turis tinggal berlama-lama dengan senang hati.
7. Sampah menjadi bahan bakar energi dan sebagian menjadi pupuk.

Energi Primer dan sekunder
1. Pembangunan Green Energy harus ditingkatkan.
2. Pertambangan Minyak Gas dan Batubara demi kemakmuran rakyat.

Transportasi dan hal-hal terkait.
1. Pembangunan transportasi massal (Mass Transport), kereta api dalam kota dan antar propinsi menjadi prioritas. Di setiap kiri-kanan jalan tol harus dibangun rel kereta api.
2. Pelayanan dan kenyamanan yang baik di setiap stasiun dan bandara.
3. Setiap Bandara dan stasiun bus, harus bisa dicapai dengan kereta api dan tentu saja dengan angkutan umum lainnya.
4. Di mana pun, tempat pelayanan masyarakat tidak boleh ada calo dan preman.
5. Jaminan kenyamanan dan keamanan di angkutan umum.

Kemanan dan Pertahanan
1. Dilarang memukul, mengeroyok dan lain-lain kekerasan dengan alasan apapun.
2. Gaji polisi dan tentara, jaksa dan hakim mulai pangkat terrendah setara 100 gram emas setiap bulan.
3. Angkatan Bersenjata terlatih dan kuat dengan peralatan yang baik dan moderen.
4. Sekali-sekali parade atau “show of force”
5. Mereka bertugas menjamin kemanan dan keamanan bagi Negeri dan pelayanan masyarakat.

Kebudayaan
1. Membangun dan menjaga kelestarian budaya suku bangsa Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika makin berakar kuat.
2. Saling menghargai dan saling menghormati.

Keuangan, Investasi, Industri dan utang piutang
1. Negara tidak boleh menambah utang dengan alasan apapun, kita harus bisa hidup dengan kemampuan dan keberadaan kita sendiri.
2. Dengan demikian semua lembaga keuangan yang suka memberi pinjaman harus segera keluar dari negeri tercinta, misalnya IBRD, ADB, JBIC, …dan lain sebagainya. Go to hell with your money.
3. Membuka dan memberi fasilitas kepada “investor-industri” yang diperlukan di dalam negeri tercinta.
4. Semua biaya yang dibutuhkan berasal dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, dan kekayaan negeri tercinta. (Tambang minyak, gas, batubara dan lain-lain)

Birokrasi dan pegawai pemerintah
1. Gaji paling rendah setara 100 gram emas setiap bulan.
2. Disiplin, berbudipekerti, saling menghormati dan menghargai. Bekerja untuk rakyat tanpa pandang bulu demi kemajuan negeri tercinta.

Hukuman bagi pelanggaran
1. Hukuman berat, tidak ada ampun. Namun tetap diberikan tempat dan kesempatan untuk bertobat bagi setiap orang yang dihukum. (gaji sudah besar. hehehe..)

Hal-hal lain
1. Akan kupilih menteri menteri yang hebat, pintar, dan rendah hati, sesuai dengan disiplin ilmunya dalam melaksanakan program kerja tersebut.
2. Mari kita bekerja sama, dengan tekun dan senang hati dimanapun kita berada demi anak cucu kita.
__________________________________
dari Bisik-bisik: Untung saya bukan presiden, kalau tidak maka:…!!!

Written by Singal

June 19, 2009 at 10:04 pm

Koalisi Berbagi Kekuasaan atau Gotong Royong

with 29 comments

Gotong royong adalah salah satu budaya negeri tercinta, tolong menolong membajak sawah, memanen, membuat jalan, membuat irigasi, menjaga kebersihan, keamanan dan lain-lain yang berguna, hasilnya langsung dikecap masyarakat.

Gotong royong membongkar dan melanda batas rasial, melanda batas diskriminasi. Gotong royong satu perasaan, satu tujuan, satu cita-cita, pengamalan pancasila dan buah bhineka tunggal ika.

Gotong royong berakar kuat!, sayang….., kini…pohon dan daunnya mengering hampir rontok meski di negeri tercinta tidak ada musim gugur, ia tertelan siapa loe siapa gue. Tertelan oleh kendaraan macet dan jalan penuh lobang. Tertelan hutan beton dan gemerlap lampu kristal, tertelan sumbangan penyalur kebaikan yang berpakaian bagus, ganteng, cantik dan suka berkoar-koar sebagai orang baik.

Kini..gotong royong hanya tumbuh subur pada gelandangan, pemulung, nelayan dan petani, berlawanan dengan politikus, mereka bekerja sama, tolong menolong juga, mereka sebut koalisi.

Koalisi, politikus?!. Mereka berunding dulu, sering sangat alot lalu mereka meberitakannya. Informasinya tidak jelas, mereka hanya menyatakan sudah sepakat, sudah sepaham, sudah saling mengerti. Aneh…menurutku.

Kita hanya menduga dan menebak apanya yang sepaham, apanya yang sepakat, apanya yang saling mengerti. Mereka hanya berbagi kekuasaan.

(Nb. setelah postingan ini, terbit 13 jam lebih, saya mengganti judulnya dari “Gotong royong, Berbagi kekuasaan” menjadi “Koalisi Berbagi Kekuasaan atau Gotong Royong” tanpa merobah isinya.)
__________________________________
dari Bisik-bisik: Gotong royong memang berbeda dengan koalisi, iya kan?!.

Written by Singal

May 29, 2009 at 6:49 pm